26 November 2014

Saat Idealisme tertukar

"Bukanya diant anak departemen kemuslimahan rohis?" Tanya Mawar pada Halimah
"Iya" Halimah hanya mengangguk.
"Kok boncengan sama cowo?" Tegas Mawar lagi, masih saling berpandangan lekat dengan Halimah. mereka berda otomatis kaget

Ada tanda tanya besar dalam otak mawar ketika pemandangan itu tersaji di depan matanya. Praktikum Bakteriologi memang dimulai jam enam pagi. Ia juga golongan yang sama dengan diant, sama-sama bangun telat dan berangkat telat. Sama-sama dapat tebengan di tengah jalan, hanya saja mawar dapat tebengan dari perempuan dan diant dapat tebengan dari laki-laki.

Saat itulah dunia terasa semakin sesak, saat idealisme tertukar dengan lima menit sebelum jam enam. Jika bukan para muslimah yang menjaga izzah dan idealisme itu sendiri, siapa lagi??

Halimah perlahan menghilangkan kerutan di wajahnya, menganggap ini merupakan hal biasa yang memang sepantasnya berlalu. BUKAN!! BUKAN KARENA HALIMAH TIDAK PEDULI! BUKAN! BUAN BEGITU. Karena memang sudah terlalu banyak diant-diant yang lain.

mawarpun hanya tinggal diam, bisu, tak bisa berbuat apa-apa.

Ya Rabb... Beri hidayah

Tragedi Berdarah

“Orang yang baik itu banyak, tapi yang tepat hanya satu.” Mamen membuka diskusi sore itu dengan petikan kata dari Kurniawan Gunadi.

Mawar diam. Sedang mengikuti praktikum Biologi Jamur Makroskopis. Usai praktikum, ia masih dikejar deadline laporan ekologi. Besok jam dua siang harus sudah ditangan dosen. Ba’da ashar gadis itu mulai mengerjakan. ‘Harta Karun’ ditemukan! Laporan kholas jam tujuh malam. Diapun hanya mendiamkan sms itu hingga kholas shalat isya.  

“Suatu hari nanti, aku pasti akan menemukan orang yang tepat. Orang yang baik itu banyak. Namun yang tepat hanya satu. Sisanya adalah ujian.” Mawar membalas sms Mamen dengan mengutip kata-kata Kurniawan Gunadi juga. Oh ya Mamen yang ini adalah kakak sepupunya. Bukan mamen menyebalkan yang sok perhatian itu ya! 

“Aamiin. Janji Allah itu pasti, Mawar.”

“Iya, Mamen. Kau tau? Aku merasa seperti hujan. Hujan lahir saat hujan deras, matahari lahir saat mentari bersinar begitu terik. Mungkin bayi-bayi yang lain dikandung ibunya selama sembilan bulan, tapi aku dan matahari lahir dikandung selama belasan tahun. Bahkan hingga 20 tahun. Hujan tumbuh menjadi gadis labil, matahari tumbuh menjadi laki-laki yang dipenuhi rasa khawatir akan kelabilan hujan. Hingga suatu hari, datanglah pelangi, gadis cantik dari negeri seberang. Matahari jatuh cinta. Hujan merasa kehilangan mataharinya. Hujan cemburu. Tapi dalam perjalananya, hujan belum menemukan samudera. Dan ia belum jatuh cinta.”

“Hah? Kamu kehilangan Mamas? Hahaha … Maaf ya setelah married mamas nggak bisa seintens dulu nanganin kamu. ‘Mamas jahat’ mu nggak sanggup nanganin kelabilanmu ya? :D”

“Aku nggak peduli sama Mamen jahat. Aku nggak mau ganggu mas-mas jahat yang lagi nggarap skripsi. Sibuk, Mas. Aku mau ketemu samudera.”

“Semoga kamu cepet-cepet ketemu You Know Who ya :D”

“Hah? Nama yang tidak boleh disebut itu?! :O. Eh tadi waktu aku habis nerima sms mamas, habis praktikum BJM, terus pas lagi ngerjain ekologi, aku liat You Know Who lewat lho.”

“Nah! Itu udah ketemu :D"

“Jadi samuderanya itu yang namanya tidak boleh disebut?”

“Iya. Semoga. Mamas tidak sepakat dengan mamas jahatmu. Mamas malah kasian padamu yang bertingkah sok menyebalkan dan berpura-pura tidak melihatnya. Mamas tidak bisa membiarkanmu menderita, memaksakan dirimu untuk tidak menspesialkanya seperti kamu menspesialkan ikhwah rohis yang lain. Cukup. Gapai ridho-Nya dengan cintamu. Jangan siksa diri kamu terus, Mawar.”

“Sayangnya, aku tidak butuh dikasihani, Mamen”  

“Tring … tring …” HP nya kembali berdering, ada balasan sms dari Mamen. Tapi mawar lebih memilih untuk diam. Sama seperti diamnya pada You Know Who.

“Kecil mungil berwarna, warna-warni terangi alam. Sentuhan karya indah jika tergambar baik …” HP mawar berdering. Mamen menelfon karena sms nya tak terjawab. Tau pasti adiknya sedang galau. 

Mawar mengangkat telfon. Tanpa kata.

“Mawar, kamu tau alasan mamas lebih cenderung pada seseorang yang namanya tak boleh disebut itu?”

“…” Mawar masih memilih diam.

“Karena kamu terlihat begitu bahagia ketika mengaguminya, meski ia masih selalu menyebalkan seperti kamu yang juga ikut-ikutan menyebalkan di depanya. Meski kamu selalu tak dipedulikan, tapi kamu tak pernah mempedulikan ketidakpedulianya.”

“Mamen, aku bobo dulu ya.” Sahut mawar. Masih merespon kata-kata mamen tanpa kata.

Mawar lebih memilih diam. Daripada Izzahnya terus dihujat, terus dilukai, dan terus-menerus menanggung beban sendiri. Layaknya darah segar akibat hemofilia. Itu mengerikan. Daripada ia knoflik batin karena rasa yang tak mampu ia bendung, lebih baik ia pasrahkan semua rasa itu pada Allah dengan diam. Karena Allah pasti takkan pernah tinggal diam.

20 November 2014

Serial Chichi

Banyak hal-hal hebat yang kudapat dari Chichi, sesuatu yang mungkin tak banyak orang dapat. Kau tau kawan, hari itu Chichi memintaku menemaninya makan, kemudian di sela obrolan ia mengajakku masak bareng :D
Ia teman sekelasku, awalnya kami tak terlalu saling kenal. Hingga di separuh usia kami menimba ilmu di sini, kami kenal, ngobrol, dan klop. *UdahGItuAja *Hehehe
Ternyata selain english, Chichi juga suka taylor swift. Sama seperti Deul dan Ipeh. Selain itu ia suka musik rok, metal, and etc. Nggak semua anak yang suka musik-musik itu anak yang nggak baik lho, menurutku justru mereka anak yang unik. Minimal gendang telinganya kuat *eh!! Jangn salah! Chichi cerdas, ia hanya meniikmati musiknya saja. Cukup. Without drug or something like that. Chichi menyukai makna yang ada di sana. No more than that. Kenapa demikian? Karena ia cerdas, sebagai perempuan rasionalitasnya tajam. Sehingga, Allah melindunginya dari jurang penderitaan.
Aku lebih memandangnya menikmati metal dari sisi lain, yaa hanya sekedar ekspresi diri dan menumpahkan kebahagiaan. Jauh dari itu, Chichi lebih hobi baca jurnal, buka-buka tumblr, dan menertawai kekonyolan traveler. Semua itu menambah khasanah dan pengetahuan. Banyaaaak sekali hal-hal lucu dan unik yang belum kita kagumi dan kita tertawai di luar sana. Kita harus mampu mengeksplor keindahan yang Allah sajikan sebanyak mungkin, karena dari sanalah kita belajar untuk pandai bersyukur.

Kalo soal perpacaran??? Hmm Rasionalitasnya sejalan denganku, semua itu melelahkan. Harus sms tiap menit adalah hal yang paling melelahkan, ia juga sama sepertiku  antioverprotektif. Patah hati dan cemburu saat-saat kita harus memikirkan masa depan adalah hal yang banyak menguras hati, tenaga, dan perasaan. Melelahkan. Pacaran itu tidak perlu. Hahaha

Cuman, kalo masalah Married. Kita agak beda pendapat. Chichi itu seperti Mas Gie yang memperhatikan faktor U. Seseorang yang usianya 5 sampai 7 tahun di atas Chichi merupakan orang yang ideal. Chichi bahkan sudah membayangkan laki-laki yang akan menikah denganya merupakan manusia yang tak pernah bosan dengan tingkahnya. Dan Howel misalnya. Hahaha

Kalo aku sii berapapun usianya yang penting miliyader sekaliber rasulullah *MawarPlis!!

Hal yang paling mengganjal adalah Minuman Favoritnya. Kau tau apa jawabah Chichi saat aku bertanya jika ia tersesat di pulai terpencil dan apa yang akan ia bawa? "Laptop dan Juz Alpukat!"

13 November 2014

Cerpen : Kisah Si Doi

Bismillahirrahmanirrahiim …
Di sela-sela multiple task yang harus aku kholasin,  aku dateng ke MK hari ini. Kemaren aku ditag Ukh Din (mungkin adenya Udin) di Fb. Disuruh dateng MK (Madrasah Kammi) jam 16.00 , dasar pemalas tingkat akut yak, aku mah komen aja kalo hari ini mau praktikum, kan nyatanya emang praktikum BJM. Celakanya, si N komen, “Mawar, bukanya kita praktikum sampe jam 16.00 ya?” Aaaaaaaa nggak ada alesan buat bolos MK nih. Namanya juga tukang ngeles yak, aku bilang aja, “Ok. Ntar aku WA ya Ukh Din, semoga nggak kehabisan.” Lumayan kan aku pernah bikin cerpen yang judulnya Muhammad Al Fatih, kan bisa nambah khasanah pengetahuan.

Jam 2 tiba, aku mbonceng N ke baturaden buat praktikum BJM. Badai, batu, angin, sampe pohon jatuh menghambat.  Kami kalah oleh hujan, hingga pulang ke kos’an. Gagal praktikum. Eh di WA, anak-anak ITJ (Red Indonesia Tanpa JIL), lagi mbahas filsafat. Aku kode-kodein mereka aja suruh ikutan MK bedah buku Muhammad Al Fatih, walau nggak ada yang merasa terkode (miris :’( ), tapi dasar bocah labil kurang teliti, mereka juga tau lho kalo hari ini ada MK, bahkan lebih tau dari aku. Kan perasaan yah, pembicaranya itu ustadz manaaaa gitu lha ya yang keren, ternyata eh ternyata kata mereka, pembicaranya itu Akh Kur. Aku tengok lagi tuh di fb, eh iya ternyata. Hadeeeuuuh aku kan udah semangat banget gitu yah denger nama Muhammada Al Fatih, lemes n shock juga sii baca nama Akh Kur di fb sebagai pembicara. Tapi yah, udah minjem payung, susah payah bela-belain dateng, udah koordinasi sama Ukh Din & Ukh N masa tiba-tiba batal gara-gara pembicaranya mmmmmm… *udahlah

Akhirnya aku dateng, Mameeeen. Tadi tuh aku ngira aku itu telaaat, terus pas masuk ruangan diketawain banyak orang gara-gara aku dateng ke ruangan telat sendirian, aku sms Ukh Din, dia udah di TKP. Aku sms Ukh N, Ukh N juga udah di TKP. Tuh kan tinggal aku yang belum dateng? Setelah aku nyampe, eh akhwatnya yang udah di TKP baru Ukh Din n Ukh N. *TepokJidat *SalahSMS
Ada kita bertiga + tiga Fresh graduate (akhwatnyaaa), acara pun dimulai. Nah! Akh Kur cerita banyak nih ttg Muhammada Al Fatih, mulai dari gurunya yang hebat-hebat, bapaknya yang gagal naklukin konstatinopel karena konstatinopel emang kuat navigasinya, sampe benteng keamananya. Bahkan 400 pasukan dari kerajaan Al Fatih itu kalah ngelawan 27 tentara konstatinopel. konstatinopel itu kata Akh Kur adalah kota yang paling strategis yang sangat layak menjadi ibu kota. Pusat peradaban dunia, Mameen. Penduduknya maju, punya banyak ahli, dan patuh sama nenek moyang. Agamanya mayoritas katolik, terus mereka tuh nggak akur sama Persia walau seagama, iya lha yaw, konstatinopel kan ngerasa paling keyyen gitu. Gereja di sana tuh megah bangetz, namanya Hagiashopia, aku pernah liat di film 99 cahaya di langit eropa *MukaAchaSeptriasa.

Berhubung aku anak nakal yang ndengerin sambil mainan, aku cuma nangkep sebagian poin kecil aja. Pokoknya Si Doi (Red Muhammad Al Fatih), punya dua guru. Guru pertama itu Ahmad Al Qur’ani, beliau ahli fiqih dan nahwa. Guru kedua ini yang diceritain paling hebih sama Akh Kur, Namanya M. H As Syamsudin, ahli dalam segala hal, ahli strategi perang, hukum perang di darat, laut, udara, sampe pemukiman, terus sampe kalo ditanya mengenai zakat juga beliau tau gitu loh. Sang Guru mendoktrin Aa Al Fatih dengan shirah-shirah sahabiyah dan nabawiyah yang menginspirasi, karena terinspirasi dari shirah itu, Al Fatih menjadi seseorang yang memiliki ambisi tinggi untuk menaklukan konstatinopel. Karena Bang As Syamsudin tuh sampe bilang gini lho intinya, “Ayah loe, gue, sampe anak gue tuh nggak sanggup naklukin Konstatinopel. Cuma loe harapan satu-satunya yang mampu naklukin konstatinopel, Al Fatih!!” Yap!! Al Fatih nggak punya pilihan lain!! Cuma dia!! Spesial!! Manusia yang mampu naklukin Konstatinopel.

Gurunya itu nggak pernah manjain Al Fatih, kalo Al Fatih mbantah ya kena pukul. Hidup waktu masa muda dan perjuanganya dalam berproses tuh nggak ada bahagia-bahagianya. Usia 14 tahun, si Doi udah perang. Ngelawan Turky. Bapaknya tuh yah, jahat banget. Pake ngeles sok-sokan nguji anaknya. Bapaknya Al Fatih malah naik gunung, tenang-tenang aja ninggal anaknya di tengah perang. Katanya beliau sii Turki udah bereslah diatasi sama anaknya, mau kusyu beribadah sama Allah.
Nah! AL Fatih yang ditinggal bapaknya di tengah medan perang kan kalang kabut ya … Si Doi ngirim surat buat bapaknya, bilangnya gini, “Pak turun! Help help!” Gitu lha intinya.
Bapaknya dengan santainya, “halah udahlah. Loe pasti bisa, Nak!” Gitu intinya. Surat itu diabaikan. Sampai kesekian kali dapet surat begituan teteup aja diabaikan.

Mungkin si Doi nya tuh greget yah bapaknya kagak dateng-dateng udah dikirimin surat berkali-kali akhirnya di surat kali ini Si Doi ngancem. Intinya bilang gini, “Pak, sebenernya yang jadi sultan itu Ayahhanda atau Ananda? Kalo Ayahhanda ngaku sultan, sini pulang. Kalo Ayahhanda ngakuin Ananda sebagai pemimpin Ayahhanda ya pulang sini, patuhi titah pemimpin. Bantu kita perang!” Hweeeee Ayahhanda turun dari gunung, mbantu beliau perang dan ummat islam menang mutlak.
Setelaha ayahnya turun tahta, Al Fatih naik tahta. Sempet dihianatin juga sii sama jundinya. Terus Al Fatih mengevaluasi diri dan kondisi yang saat itu kekurangan pasokan senjata, beliau menjalin hubungan baik sama jundi-jundinya, biar jundi-jundinya itu mau patuh gitu, kan kharisma dan wibawanya  jadi terbit tuh (eaak), terus yah beliau bikin kapal laut, meriam besar, sama mbentuk pasukan elit yang ahli perang di darat, laut, udara sampe nyelam-nyelam, ahli juga perang di kota, bisa mecahin sandi dan yang jauh lebih penting dari itu semua adalah pembentukan kekuatan Ruhyah sebagai basis perjuangan. Sang prajurit dicekoki ushul fiqih sama dimotivasi untuk senantiasa meningkatkan amal yaumi. Yang namanya shalat tahajud itu tiap malem. Dan asal loe tau aja, Mameen … sejak baligh sampai ia menaklukan konstatinopel bahkan mungkin hingga akhir hayatnya, Muhammada Al Fatih tak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajud!!!

Singkat cerita, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, “Sebaik-baiknya pemimpin (Muhammad Al Fatih), dan sebaik-baiknya pasukan (pasukan Muhammad Al Fatih), dapat menaklukan konstatinopel”

Jam 4 sore, adzan ashar pertama kali dikumandangkan di Hagiashopia. Gereja itu telah menjadi Masjid di jaman itu. Udah, kayanya kalimat yang intinya gitu deh yang gue tangkep dari Akh Kur.
Saatnya sesi tanya jawab kan, gue kan udah ngerasa tua nih walaupun di absen tak tulis angkatan 2014. Satu fresh graduate yang duduk di depan gue tak provokatorin buat nanya, “De, Ayo nanya.” Ade itu Cuma ketawa-ketawa. Bingung kalii mau nanya apa, denger-denger dari daftar hadir mereka lagi sibuk nggarap laporan kimia. Shortly, aku provokatorin lagi, “De, daritadi kan yang dijelasin mujahidah doank, coba tanya peran mujahidahnya ada nggak di penaklukan konstatinopel.” Adenya courious banget gitu kan, terus nyuruh temen nanya, temen sebelahnya mungkin ogah-ogahan. Aku kompor-komporin aja tuh tak desek-desek suruh nanya, “Ayo De nanya, Kepo kan???” Dan kekepoan Ade itu bikin dia tunjuk tangan terus nanya kaya gitu.
Dan seperti referensi yang gue buru selama ini, peran istri atau ibu Al Fatih itu tidak dijelaskan. Bahkan kata Akh Kur, ibunya Al Fatih itu Non-Is. Dinikahi ayahnya dalam rangka menjalin hubungan diplomasi.
(-_-)
Terus belum ditemukan referensi yang menjelaskan secara jelas peran mujahidah dalam penaklukan konstatinopel.

Pertanyaan menarik selanjutnya datang dari Akh H. Akh H kan nanya, kalo pasukan Muawiyah kan lebih keren, lebih deket sama Rasulullah, otomatis secara ruhyah juga lebih mumpuni. Tapi kenapa yang dimenangin itu malah Al Fatih? Hayoo kenapa hayooo? Wkwkwk padahal di penjelasan panjangnya juga Akh H sendiri bilang waktu mau nembus benteng Konstatinopel, pasukan muawiyah kena penyakit cacar, kedinginan, and etc yang menghambat kelancaran penyerangan. Sebenernya menurut aku secara nggak sadar beliau udah njawab pertanyaan beliau sendiri. Terus?  Wkwk aku Cuma nyengir kuda sendiri.
Aaaaaa Ukh Din juga ngajak ribut di belakang soal pertanyaan Akh H. “Kenapa coba, Mawar? Kenapa? Kita perlu mengkaji ituuu!!!” Kata Ukh Din berapi-api. Terus aku jawab aja, “Wallahua’lam” dan Ukh Din lemes denger jawaban gue :D

Mmmmm di jalan pulang sampe detik ini, pikiranku masih dipusingkan dengan spekulasiku sendiri, aku juga mikirin pertanyaan Akh H. Kenapa ya bisa gitu? Mmm mungkin Allah ingin memberi ibrah bahwa generasi di bawah muawiyah itu, walau nggak lebih deket dari generasi Rasulullah emang  kuat dan bisa ngalahhin konstatinopel, jadi kita yang udah jauh banget waktu generasinya ya pasti bisa sekuat pasukan si Doi. Wacana Islam will dominate the world juga masih hidup kan? Bahkan tanpa terdeteksi media, tiap hari tuh pasti minimal ada satu mualaf di Amerika. Betapa islam dan tarbiyah (tanpa menunjuk satu golongan, tarbiyah di sini artinya pendidikan islam a.k.a transfer pengetahuan islam/islamisasi) bekerja begitu efektif di tempat yang terkenal dengan negeri orang kafir ribuan kilometer dari Indonesia yang mayoritas muslim namun mayoritas belum bisa berislam secara kaffah.
Atau mungkin, semua terletak pada Ridho Allah. Apapun alasanya ya Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui, sejauh kapasitasku sebagai manusia akhir zaman, hipotesis terakhirku adalah karena Allah meridhoi Al Fatih dan pasukanya untuk menaklukan konstatinopel.

Sepandai apapun kita dalam menulis, kita tak mungkin mampu menaklukan dunia dengan pena tanpa Ridho Allah. Itulah ibroh yang mampu gue tangkep dari shirah yang kemaren. Justru malah kata-kata seorang penanya (Red Akh H), yang terngiang jelas di otak, initinya :

“Jika kita belajar sejarah saja, kita baru mendapat asapnya. Namun jika setelah belajar sejarah itu kita mampu menarik ibrahnya, saat itulah kita mendapat Apinya. Api semangat perjuangan yang mampu membakar musuh-musuh islam.”

Denger-denger ini, additionally sang pembedah baru mbaca separuh buku Muhammad Al fatih! Baru setengah aja sekeren itu yaaa.. apalagi kalo udah kholas :D :D D
That’s why I like islamic history :D



12 November 2014

Terbang

Hal yang paling membahagiakan adalah melihat orang lain iri saat menyaksikan kebahagiaanku. Wkwkwk, ini baru mau nulis. Bukan baru ada waktu luang. Entah faktor apa yang bikin aku males nulis waktu senin & selasa. Karena emang nggak ada  waktu luang kalo kita nggak meluangkan waktu. Dan aku nggak meluangkan waktu dua hari itu.

Mmmm tadi pagi aku nulis artikel mengenai kebencianku terhadap evolusi. Eh!!! Pas aku buka fb, ada yang ngelike. Hidup ini kan harus seimbang, biologi juga punya dua sisi dalam dimensi hidupku. Sisi gelapnya evolusi yang menggendong teori kebetulan, sisi baiknya adalah saat seorang biolog mampu menyelamatkan tanaman langka yang hampir mati di laboratorium. Gimana caranya?

Begini ceritanya, sebiji Vigna radiata jatuh di kebun. Seorang biolog yang kebetulan sedang jalan-jalan di kebun menyaksikan kemalangan Vigna radiata yang hak hidupnya nyaris dirampas faktor lingkungan, sang biji terjatuh dari pohonya, tergeletak malang di tanah, kehilangan harapan hiduup. Biji malang itu ia bawa ke laboratorium, disterilisasi dengan EtOH dan HgCl, kemudian ditanam di media MS (Murashige and Skoog), 2-4 minggu kemudian, biji itu berkembang dan tumbuh, memiliki akar, batang, dan daun yang sempurna layaknya Vigna radiata lain. Biolog itu mengaplikasikan teknik embrio rescue. Embrio rescue memungkinkan biji yang tidak bisa hidup secara in vivo, untuk hidup dan berkembang menjadi tanaman utuh. 

Embrio rescue ini adalah salah satu bagian dari jenis tekhnik kultur in vitro tumbuhan. Apa itu kultur in vitro tumbuhan? Sebut saja perbanyakan tanaman dengan memanfaatkan sifat totipotensi pada tumbuhan. Tau kan sifat totipotensi? Kata guru SD ku dulu, totipotensi adalah sifat yang dimiliki semua bagian tanaman untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh. Jika kita kondisikan secara in vitro (dalam botol kultur, dengan nutrisi yang cukup dan faktor lingkungan yang mendukung) selapis sel, sekelompok jaringan, sebongkah organ, atau se-molekul protoplas dapat kita jadikan tanaman lengkap!! Bahkan jika tanaman itu berkembang hingga tahap kalus, kita dapat memotong-motong kalus itu dan memperbanyak tanaman dalam waktu singkat tanpa mengurangi perbedaan sifat sang tanaman dengan induknya!! *SuHeRi *SukaHebohSendiri *SerasaKuliah :D

Mmmmm.... macam-macam kultur berdasarkan tekniknya itu ada kultur embrio kaya yang awal aku jelasin, kultur kalus yang barusan aku jelasin dan yang aku praktikumin kemarin itu mikropropagasi. Sederhananya, mikropropagasi itu ya ngulturin bagian vegetatif tanaman baik bagian apikal, aksilar, induksi kalus, atau induksi organogenesis/embriogenesis somatis secara in vitro. 

Teng ... teng ... teng ... teng ... ini dia cara kerjanya. Aku ngulturin jahe pake teknik mikropropagasi. Yang aku kulturin itu bonggol, karena itu salah satu bagian yang meristematis. Sang bonggol diisolasi, trus disterilisasi. 

Metode sterilisasinya pertama aku cuci eksplan (bagian tanaman yang mau dikultur), pake detergen (no mention brand :P), nggak dikucek-kucek juga yak :D, pokoknya direndem gitu. Habis itu aku rendem pake EtOH 70% sebanyak 1x selama dua menit, tujuanya untuk sterilisasi permukaan. Terus, aku rendam pake HgCl 0,2 M selama 4 menit sebanyak 2x, kalo tujuan tahap ini untuk sterilisasi tingkat jaringan. After that, aku rendam sang eksplan selama tiga puluh detik pake steril destiled water sebanyak tiga kali. Setelah blotting (memasukkan eksplan ke cawan petri yang dialasi kertas saring), tibalah tahap inokulasi. ini pertama kalinya tanganku masuk LAF. Hwiiiii sensasional banget rasanya. Kurang lebih gini gambar LAF nya : 


Mmm ... teknik inokulasinya juga nggak seribet di mikrobiologi. Cuman mungkin agak kesulitan buat anak akuntansi yang nggak terbiasa kerja di lab. Mikro (*Upz). Tenang, belajar gituan bentar gampang kok. Buka wrapping botol kultur yang udah ada medianya, lepas aluminium foil dari botol itu, masukkan eksplan yang tadi di cawan beralas kertas saring itu ke botol kultur. Tanemin di agarnya. Terus tutup lagi pake aluminium foil, dan wrapping kembali. Ini dia hasilnya ; 
Itu baru pengamatan hari ke-0, sesaat setelah eksplan diinokulasi, penginya aku pengamatan tiap hari, terus aku update di blog tiap hari, biar aku bisa bikin orang iri tiap hari. Tapi apa mau dikata, selasa kemarin aku lupa :D 
Tadi siang habis ambil laporan ke lab. melayang-layang aku baca ini :) :) 


nggak jelas ya? gini tulisan jelasnya, 

Praktikumnya lancar kan? he.
Semoga eksplan yang ditanam tumbuh 
sehat n ceria (copas tulisan meli :P)
Semangat u/ pembahasanya yak!
Jangan lupa foto pengamatan ^_^

Mmmm... di paragraf kedua lab. diaryku, aku emang nulis, "Nantinya, kalo Allah meridhoi, aku mau liat eksplan di botol kulturku numbuh sehat dan ceria (aamiin)" dan Mba Asisten nulis kata berhuruf biru yang bikin aku melayang-layang gitu, trus aku langsung dateng ke lab Kultur In Vitro buat ngefoto eksplanku di hari ketiga ini (melawan lupa, hahaha padahal udah lupa sehari, gapapa lha :D) ini hasilnya, 

Makasih buat chika yang udah mau minjemin HP buat ngefotoin ini, tadi hpku lowbat :D


Trus yah, di paragraf ketiga aku sok-sokan nulis gini, "ajari aku menggunakan pena, akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur (Gunadi, 2014). Itu kata Mas Gun alias Kurniawan Gunadi" Kalo aku baca bagian ini, aku menertawai diriku sendiri yang saat itu kena efek keracunan tumblrnya Mas Gun. Aku yang waktu itu dalam keadaan konyol dengan pedenya nulis, "Nah! kalo kata Meliana? Check this out!" 

Kebayang nggak aku nulis apa habis itu? Gini! 


Ajari aku mikropropagasi, akan kuperbanyak tanaman langka secara mikro, akan kuproduksi tanaman dalam skala besar dengan perbanyakan klonal dari berbagai jenis, hingga aku dapat meraih derajat ketakwaan dan ridho-Nya. aamiin^_^
Liat itu! tulisan aamiin yang biru itu, asistenku yang nulis. Bahagia banget lho punya asisten yang bisa sekaligus menjadi motivator. Satu-satunya praktikum yang mengharuskan praktikanya pakai sandal jepit ya praktikum KIVT ini, tujuanya biar kita bisa lebih leluasa keluar masuk lab kultur, sepatu yang umumnya kotor nggak boleh masuk lab kultur!! 

Praktikum ini juga satu-satunya praktikum yang pake lab. diary sebagai pengganti laporan. Tujuanya sama kaya laporan, menerangkan apa yang dilakukan selama praktikum serta materi yang dijelaskan asisten. Tapi, nggak format ada baku yang mengikat dan teknik penulisanya terserah praktikan. Aku praktikan yang paling bahagiaaaaaaaa menghadapi kenyataan ini. Nulis laporan KIVT tuh serasa update tumblr. Serasa bener-bener nulis bersama Allah. Itulah sensainya nulis lab diary, buku big boss yang dilapisi kertas marmer biru dan diberi label pengenal di depanya. Nulisnya masih pakai pena, semua yang aku tulis seolah nempel aja di otakku. 

Praktikum ini yang bikin aku bahagia, dan betah di sini. Terimakasih ya Rabb. Engkau telah mengenalkan aku pada Kultur In Vitro Tumbuhan :) 

Ambil sayap... Terbang melayang-layang :D

11 November 2014

Batas


Aku berdiri di sini
Dan kamu berdiri di sana
Aku melihat kamu
Kamu pun melihatku
Tapi batas ini terlalu mengganggu
Kita tak bisa saling mendekat
Menapak selangkah saja,
Api di bawah sana siap menyambar
Waktu menerbangkan aku ke langit
Aku terjepit di antara bintang-bintang
Hingga di batas waktu
Kau menjemputku di langit
Membebaskan aku dari jepitan bintang
Dengan doa dalam sujud panjangmu
Di sepertiga malammu
Kau mampu menembus batas ini

Batas yang merubah neraka, menjadi surga 

Ini yang membuat sayapku makin rudimen

Kata ahli evol, manusia berasal dari sup primordial, terus jadi koaservat, jadi protobion, kena petir, jadi sel, berkembang, membelah, berdiferensiasi, dari laut, moveON ke darat, teruuuuuuus berevolusi menuju kompleksitas dan jadilah kita.

Hahaha kebetulan sekali yak muncul petir, konyolnya, bisa jadi di alam bebbas sana terjadi trial and error. kata Harun Yahya, ika seseorang yakin bahwa sel hidup dapat terbentuk secara kebetulan, maka tidak ada yang dapat menghalanginya mempercayai dongeng seperti di bawah ini. Dongeng mengenai sebuah kota kecil:

Pada suatu hari, segumpal tanah liat yang terjepit di antara bebatuan daerah tandus menjadi basah karena hujan. Saat matahari terbit, tanah liat basah ini mengering dan mengeras menjadi sebuah bentuk yang kokoh. Bebatuan yang berperan sebagai cetakan, karena suatu hal kemudian hancur berkeping-keping, dan muncullah batu bata berbentuk rapi, bagus, dan kuat. Selama bertahun-tahun, batu bata ini menunggu batu bata serupa terbentuk dalam kondisi alam yang sama. Peristiwa ini berlangsung terus hingga terbentuk ratusan bahkan ribuan batu bata serupa di tempat itu. Dan secara kebetulan, tidak ada satu pun dari batu bata yang lebih dulu terbentuk menjadi rusak. Meskipun terkena badai, hujan, angin, terik matahari, dan dingin membekukan, batu-batu bata tersebut tidak retak, remuk, atau terseret menjauh. Di tempat yang sama dan dengan tekad yang sama, mereka menunggu batu bata lain terbentuk.

Ketika jumlah batu bata mencukupi, batu-batu bata ini membentuk sebuah bangunan dengan menyusun diri ke samping dan saling bertumpuk akibat secara acak digerakkan oleh kondisi alam seperti angin, badai dan tornado. Sementara itu, bahan-bahan seperti semen atau campuran pasir terbentuk dalam "kondisi alamiah" pada saat yang tepat dan merayap di antara batu-batu bata untuk merekatkan mereka. Pada saat yang bersamaan, bijih besi di dalam bumi terbentuk dalam "kondisi alamiah" dan bersama batu-batu bata membangun pondasi gedung. Pada akhir proses, sebuah bangunan berdiri lengkap dengan semua bahan, kusen-kusen serta instalasi kabel listrik. 

Bicara soal kemungkinan, begini kalkulasinya 
Probabilitas Protein Terbentuk Secara Kebetulan Adalah Nol
Ada 3 syarat utama dalam pembentukan protein yang berguna:
Syarat pertama: semua asam amino pada rantai protein harus dari jenis yang benar dan berada pada urutan yang benar.
Syarat kedua: semua asam amino pada rantai tersebut berbentuk Levo.
Syarat ketiga: semua asam amino saling berikatan dengan membentuk ikatan peptida.
Agar sebuah protein terbentuk secara kebetulan, ketiga syarat utama di atas harus dipenuhi secara bersamaan. Probabilitas pembentukan protein secara kebetulan adalah sama dengan mengalikan probabilitas pemenuhan masing-masing syarat tersebut.
Misalnya untuk sebuah molekul berukuran rata-rata yang terdiri dari 500 asam amino :
1. Probabilitas asam amino berada dalam urutan yang benar
Ada 20 jenis asam amino yang digunakan dalam penyusunan sebuah protein. Berarti:
- Probabilitas setiap asam amino yang terpilih
dengan tepat dari 20 jenis = 1/20
- Probabilitas 500 asam amino tersebut terpilih dengan tepat = 1/20500 = 1/10650 = 1 peluang dalam 10650
2. Probabilitas asam amino berbentuk Levo
- Probabilitas satu asam amino Levo terpilih = 1/2
- Probabilitas 500 asam amino yang terpilih seluruhnya berbentuk asam amino Levo = 1/2500 = 1/10150 = 1 peluang dalam 10150
3. Probabilitas asam-asam amino bergabung dengan ikatan peptida:
Asam amino dapat saling berikatan dengan beragam ikatan kimia. Agar terbentuk protein yang berguna, seluruh asam amino pada rantai harus berikatan dengan ikatan khusus yang disebut "ikatan peptida". Telah dihitung bahwa probabilitas asam-asam amino berikatan dengan ikatan peptida dan bukan dengan ikatan yang lain adalah 50%. Berdasarkan hal ini:
- Probabilitas dua asam amino berikatan dengan "ikatan peptida" = 1/2
- Probabilitas 500 asam amino berikatan dengan "ikatan peptida" = 1/2499 = 1/10150 = 1 peluang dalam 10150
PROBABILITAS TOTAL = 1/10650 X 1/10150 X 1/10150
= 1/10950 = 1 peluang dalam 10950
Probabilitas sebuah molekul protein berukuran rata-rata yang terdiri dari 500 asam amino tersusun dalam jumlah dan urutan yang tepat, dan hanya terdiri dari asam amino Levo, dengan rantai hanya terbentuk dari ikatan peptida adalah "1" banding 10950. Kita dapat menuliskan angka ini dengan meletakkan 950 angka nol sesudah angka 1 sebagai berikut :
10950=
100.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000
Marilah untuk sesaat kita mengesampingkan segala kemustahilan yang kita bahas barusan, dan anggaplah sebuah molekul protein yang berguna memang berevolusi spontan secara "kebetulan". Pada titik ini pun, evolusi lagi-lagi tidak mempunyai jawaban, karena untuk mempertahankan keberadaannya, protein ini harus terisolasi dari lingkungan alamiahnya dan terlindung dalam kondisi yang sangat khusus. Jika tidak, protein ini akan terurai oleh kondisi alamiah bumi atau bergabung dengan senyawa-senyawa asam, asam-asam amino ataupun senyawa kimia lain, sehingga kehilangan sifat-sifatnya dan berubah menjadi senyawa yang sama sekali berbeda dan tidak berguna.... 

*Sayap mana sayap?*
*Kuliah Evolusi
*Ngebully materi hahaha... jadi ngerasa kaya Aray :D

Lingkaran


Hwaaah … Udah dua setengah tahun aku kuliah di Unsoed. Tau nggak? Udah empat kali aku gonta-ganti MR. MR Pertamaku sebut saja Mba ini. Dari Mba ini, aku banyak belajar tentang Media dan managemen issue, aku lebih menghayati peran dan amanahku sebagai admin akun lembaga dakwah yang aku pegang, kadang aku harus menentukan ke mana bahtera isu ini diarahkan (????), “Cerdas bermedia” setidaknya itu kosa kata dari seorang mahasiswi ilmu komunikasi yang masih terekam jelas di otakku. Sayangnya aku liqo’an sama mba itu cuma sebentar sii. Nggak kerasa banget, tau-tau mba nya udah mau lulus aja.. Mba nya nggak di PWT dan kita dighibahin ke MR yang ini.

Sama MR yang ini, aku mendapat banyaaak sekali kajian ideologis. Beliau setipe sama Mba Al. Kajian ideologis dan filosofis islam itulah yang bikin aku tau landasan fundamental islam, yang bikin aku nggak ragu dalam melangkah. Mungkin sebagian orang bilang filsafat dan ideologis itu bikin orang gila karena memusingkan, tapi kalo seorang manusia udah tau hakikat penciptaan manusia itu sendiri, ia akan merasa bersyukur dan selalu semangat menjalankan perannya sebagai manusia, dan menjadi bagian dari percaturan dakwah. Islam itu kaffah, makanya dakwah nggak boleh parsial. MR yang ini ngajarin aku banyaaak banget sesuatu yang aku nggak tau, ngasih aku banyak hal-hal baru, setelah aku belajar banyak hal-hal dasar mengenai tarbiyah di MR ini. Aku ngerasa ketemu Mba Al senior kalo liqoan sama MR yang ini. Aku punya banyak ruang untuk bertanya dan menghilangkan keraguanku, meski MR yang ini paling nggak suka dipotong pembicaraanya. Tapi di situ aku banyak belajar dewasa dan mendengarkan orang lain. Seenggaknya aku sedikit diperhatiin, diomelin, dan ditegur gara-gara aku masih sms nggak jelas sama ikhwan lah, masih suka pergi sendiri jauh-jauh, atau sekedar mencari ketenangan diri di UPT tapi sendirian, dan masih ngelanggar jam malem, atau diskusi tentang kajian ideologis tanpa kesimpulan yang jelas sama abang-abang lain berdua di message *TepokJidat.

Aku ngerasa gagal ndeketin MR-MR-ku yang sebelumnya. Sebenernya bukan SKSD dan bermaksud ngilfilin, aku cuma mau mengakrabkan diri dengan MR-MR ku biar keliaran yang masih saja bersarang di otakku bisa mereka kendalikan. Nah! kalo sama MR yang ini & sama Mba Al, aku seolah tega aja mbiarin mereka keteteran atau sia-sia buang waktu sama aku, gara-gara aku curhatin dan nanya-nanya hal-hal yang masih kabur dalam pandanganku. Ya! dua MR itu bener-bener jadi korban kekejaman rabunnya  sudut pandang dan pemikiranku. Kaya simbiosis parasitisme yak. Tapi, aku selalu berdoa kok sama Allah, semoga emosi, tenaga, waktu, dan kesabaran yang terkuras oleh MR-MR itu buat aku, dibalas Allah dengan jannah-Nya. Aamiin

Mungkin itu lah yang bikin aku mengalami peristiwa yang paling menyedihkan,  waktu MR yang  ini ‘ngasihin’ aku ke MR lain. Panggil saja MR itu. Luka pertama, mungkin disebabkan karena aku sangat kehilangan sesuatu yang berharga dan baru aku temukan. Sungguh. Aku tidak bermaksud mendeskriditkan kemampuan MR itu atau meragukan kemampuanya dalam memegang aku. Bukan. Luka akibat kehilangan yang teramat sangat itu mendominasi hatiku. Aku butuh waktu yang lama dan banyak sekali tenaga untuk menghapus luka itu sendirian. Aku berusaha banget ndeketin MRku yang itu. Aku berusaha cerita The Most Sensitive Part in my life. Health. Awalnya, aku bisa cerita semua itu. Permukaanya aja. Dari MR itu, aku juga sebenernya punya perasaan yang hampir sama dengan MR ini, aku takut sama Mahasiswi tingkat akhir yang lagi mikirin tugas akhir, aku takut membebani bebanya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang memang berat dengan bebanku. Aku lebih banyak berbagi beban dengan Allah, banyak merenung dan menanyakan banyak hal pada diriku sendiri.  Tapi aku berusaha sendiri membuka ketertutupanku pada beliau. Aku emang introvert, dan saking introvertnya, semua orang memandang aku ekstrovert. Aku terlalu pandai menyimpan rahasia dan  tekanan yang kualami dalam hidup, jauh di lubuk hati yang terdalam hingga pandangan mata pun sanggup menutupinya. Tapi sampe liqo terakhirku, aku gagal membuka ketertutupan itu. Aku cuma bisa berkaca-kaca di depan Mba itu sambil bilang, Mba, aku bingung harus ngomong apa, kondisiku nggak memungkinkan aku cerita ke orang lain saat ini. Aku pengin banget berbagi beban sama mba itu, tapi lidahku tercekat. Aku kadang bingung sendiri dan nanya, aku kenapa ya? Bahkan saat MR itu masih sama aku, aku malah lebih suka curhat sama MR yang ini, aku nulis status kangen saamaa MR yang ini segala di WA ku, Ya Allah, aku jahat banget sama MR itu.Dan mungkin MR itu juga nggak ngerti gimana lagi harus mengendalikan aku, beliau cuma bilang, Tafadhol. Entahlah. Cuma kata itu yang terekam menjelang akhir liqo. Beliau ngerasa nggak peduli dan perhatian sama aku, padahal aku bener-bener nggak menginginkan hal itu. Aku bener-bener nggak mau nyakitin MRku dengan membuat beliau merasa gagal merhatiin dan mempedulikan aku.  Mungkin, luka pertama itu yang bikin aku nggak bisa mengurai keruwetan pikiran-pikiranku terhadap banyak hal. Aku jadi nggak banyak bertanya dan sukanya ia-ia aja. Aku jadi lebih suka mengiyakan dan berusaha memahami sendiri semua materi yang MR itu kasih. Ya Rabb, ampuni dosaku menyakitinya, balaslah kesabaranya dengan surga-Mu.

Puncaknya, setelah MR itu ngasih aku ke MR yang lain, MR keempat selama aku kuliah, aku ngerasa nggak nemu semua yang aku mau di liqo yang selama ini aku ikutin. Aku malah bisa mengurai benang-benang keruwetan itu di forum lain. Aku bisa belajar banyak hal di luar liqo. Ketambahan MR keempat itu juga mahasiswa tingkat akhir, aku udah kenal beliau sebelumnya. Aku ngerasa jarak usia yang terlalu dekat justru bikin aku ngerasa makin introvert, sekali lagi aku nggak meremehkan kemampuan beliau, aku nggak meragukan kapasitas beliau gara-gara angkatanya satu tingkat di atasku, enggak, aku cuma aku takuuut, aku takut banget sms atau cerita apapun ke MR keempat ini, atau sekedar nanya, kapan liqo. Aku takut sikapku yang emang liar, sok-sokan gitu dan seringkali liberal+rasional bikin beliau ilfil. Bahkan aku sendiri takut untuk menghadapi kenyataan kalo aku ini seorang penakut. Aku bingung banget, serba salah. Aku bahkan pengin keluar dari lingkaran ini jauh hari sebelum L menyatakan keinginanya yang serupa denganku. Iya. Baik enggak nya manusia dilihat dari ketaqwaanya di mata Allah, bukan dari liqo enggaknya. Liqo itu cuma bagian dari alat yang dipakai suatu harokah, sebut saja tarbiyah, sama dengan tahlilan atau shalawatanya PMII dan forum-forum lembaga dakwah yang lain, yang juga mengadakan kegiatan beda rupa dengan tujuan yang sama, pengkaderan, pembinaan, pengkaryaan. Aku nggak harus mewajibkan diriku sendiri untuk liqo kok, ilmu yang aku mau nggak harus dikasih dari MR. Aku juga memahami konsep itu.

Tapi kenapa aku masih berusaha bertahan? Karena aku berusaha membangkitkan kesadaranku sendiri di sini. Kulihat tarbiyah berbeda dengan ruang lain yang mungkin tidak terlalu sering aku kunjungi, tarbiyah memberiku banyak ruang luas untuk bertanya dan menghapus keraguan-keraguanku. Tarbiyah tak pernah memaksaku untuk menerima doktrin-doktrin mereka. Selalu ada hikmah dibalik instruksi. That’s what I want. Kalaupun, di wajihah ini, tempat yang selama ini aku tempati banyak lubang-lubang, aku tak harus meninggalkan tempat ini kan? Kalau aku meninggalkanya, lubang-lubang itu akan tetap menganga. Aku tidak mau menjadi bagian dari golongan sakit hati yang selalu memelihara sakit hatinya. Aku mau menyembuhkan lukaku dengan menutup lubang-lubang itu. Karena sekarang, aku menjadi bagian dari tarbiyah bukan karena aku mau ikut-ikutan Mba Al lagi, aku di sini atas kesadaranku sendiri. Camkan itu!

Mungkin kesan pertamaku dengan MR-ku yang keempat tak sebaik saat aku bertemu dengan MR yang setipe sama Mba Al. Oh ya Mba Al dan MR ku yang keempat usianya sama lho. Kuharap kisah ini seperti cerpen-cerpen terkenal, awalnya tidak teralu baik, kemudian mungkin memburuk hingga klimaks, tapi setelah klimaks akan ada penyelesaian dengan ending bahagia yang memuaskan. Aku selalu yakin, Allah tak pernah berniat menyakitiku, ataupun semua MR-MRku yang selalu kucintai karena-Nya. Allah pasti akan memberikan takdir yang terbaik.

Kalo nggak ngerti nggak usah nanya. :D

05 November 2014

Mba Alikta boleh baca nggak ya? :D

Postingan ini pernah dikirim ke emailya Mba Hasna, ngarep dapet tiket gratis buat talkshow kemuslimahan. Ternyata belum beruntung. Haha.. Mmmm dengan sedikit gubahan sii
Check this out!

Menggenggam Hidayah

Bismillahirrahmanirrahiim …
Salam kenal, Mba Hasna. Panggil saja aku Meliana Moga Yufita. Eh kepanjangen. Panggil Meli aja deh. hehehe…  Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adikku adalah laki-laki. Jadi, aku adalah anak Ayah dan Ibu yang otomatis paling cantik. Aku adalah anak dari keluarga yang sejak aku kecil belum terkondisikan dengan baik (eh????). Ngaji iqro di TPA kujalani hanya untuk memenuhi kewajiban. Yang penting waktu ujian aku bisa baca qur’an. Surat-surat Al Qur’an yang kuhafal selama lima belas tahun aku hidup pun tak jauh-jauh dari juz tiga puluh.  No more than that. Aku adalah salah satu korban yang diperdaya kaum yahudi untuk menuju tatanan dunia yang baru. Tak ada ajaran islam yang kuresapi hingga belasan tahun aku hidup. Bahkan aku mulai cenderung pada sekulerisme, atheisme, dan liberalisme saat mengikuti tim debat bahasa inggris di sekolah. Aku adalah pengagum lagu-lagu barat selama lima belas tahun. 

Aku sangat manyukai taylor swift, selena gomez, justin biber dan Michael Jackson. Tibalah  saat ia datang dan mengenalkan aku pada Maher Zain. Untungnya aku bertemu dengan dia dan menyadari posisiku. Saat usiaku menjelang enam belas tahun, di usia itu Allah membuatku bermetamorfosis sempurna menjadi muslimah yang se-elegan Zinnia elegans.*AlayDikit

“Iya!” Aku mengakuinya. Aku mulai mengakui dengan jelas keberadaan Allah ketika hari itu datang. Hari yang menjadikanku berpindah status dari siswa SMP tingkat akhir menjadi siswa baru di sebuah SMA Favorit di kotaku (eaak). Hari yang tak kusangka membawaku ke perubahan signifikan dalam hidupku. Hari pertamaku jadi siswa SMA. Hari pertama saat aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku jatuh cinta,  saat aku bertemu seorang muslimah berjilbab panjang dan menyejukkah hati. Itulah hari saat aku bertemu Mba Alikta Hasna Safitri. Mba Alikta yang menjadi mentorku saat mentoring. 

Apa itu mentoring? Kukira semacam kegiatan membosankan yang setiap jumat jam 11 hingga jam 1 siang kutemui di lapangan sekolah. Ada sepuluh siswi yang duduk melingkar, mendapatkan materi dari seorang penceramah yang disebut mentor. Hahaha! Sama sekali tidak menarik. Namun, Mba Alikta menggugurkan semua dugaan burukku itu. Akhwat berpandangan multidimensi itu memberiku banyak sekali pandangan baru mengenai islam.Mba Alikta and the genk membuatku menyadari betapa pentingnya islam dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Mba Alikta membuatku selalu mengingat Allah jika melihat wajahnya (??) :D. Melalui Mba Alikta, aku mulai mengerti bahwa islam dan ilmu pengetahuan sebenarnya selalu berjalan beriringan. Aturan islam tak pernah menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Dan dari buku-buku yang Mba Alikta pinjami, aku mulai mengerti betapa Allah mencintaiku. (Inget buku yang judulnya betapa Allah mencintaimu, Saudariku nya Mba Al :D).

Tak hanya belajar tajwid, fiqih, tahsin, tahfidz,  dan ilmu klasik yang terkesan membosankan dalam mentoring. Mba Alikta suka sekali menyelingi materi-materi yang membuat iblis dalam aliran darahku menyuruhku tidur itu, dengan shirah-shirah sahabiyah dan kisah-kisah inspiratif  ilmuwan muslim. Aku jadi berfikir untuk memanggilnya Salim A Fillah junior, hehehe.  Mba Alikta membuat mentoring tidak membosankan dan selalu dirindukan oleh kami para menteenya.

Mba Alikta membuatku menyadari akan pentingnya menyelami islam secara Kaffah, dengan selalu memantau status-status facebookku saat SMA, kemudian menyindir-nyindir aku saat mentoring dan membuatku ‘gagal jadian’ dengan seseorang yang mmmmmmm.. hehehe (aku ke GR'a abanget yak wkwkwk). Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hidupku jika tahun itu aku pacaran dengan si mmmmmmm. Karena setelah resmi kutolak, si mmmmmm itu menjadi laki-laki yang tidak baik. Aku hanya bisa mendoakan si mmmmmm untuk diberi hidayah oleh Allah. Hingga akhirnya tahun ini, anak itu mendapat amanah besar di sebuah lembaga dakwah kampus. Hehehe Mba Al Nggak perlu tau siapa Mmmm itu

Tantangan pertama, Mba Alikta memberiku motivasi untuk berjilbab. Membuatku bertekad untuk selalu istiqomah berjilbab setelah lulus SMA! Awalnya memang berat. Ayah ibu agak keberatan dengan keputusanku. Mereka berkata bahwa aku belum pantas berjilbab, karena jilbab hanya untuk mereka yang sholekhah. Kalau sudah pakai jilbab tapi tidak sholekhah, nanti akan masuk neraka yang paling menakutkan. Kemudian lagi-lagi Mba Alikta membuatku merenung, karena kewajiban untuk menjadi sholekhah itu bukan hanya untuk mereka yang berjilbab, tetapi untuk semua muslim dan muslimah. Justru kalau belum berjilbab dosanya dobel. Yang satu karena belum sholekhah, yang satu nggak memenuhi kewajiban sebagai muslimah untuk berjilbab, yang jelas-jelas tercantum di Al Qur’an. Aku terus berusaha memantaskan diri dan berdoa pada Allah, hingga akhirnya entah energi apa yang membuat ibuku tidak protes sewaktu aku nekat memakai jilbab saat peringatan perpisahan sekolah. Aku sangat bahagia saat itu. Karena itulah hari di mana aku bisa dengan leluasa menjalankan hak dan kewajibanku untuk menjadi muslimah yang berjilbab.

Tantangan kedua adalah saat aku dengan tekad bulat terjun ke dunia dakwah! Ya! Aku masuk ke Unit Kegiatan Mahasiswa Islam saat aku kuliah di fakultas biologi unsoed. Aku mulai berusaha mengenakan jilbab syar’i, merubah gaya jilbabku yang dulunya penuh kupu-kupu dan bunga-bunga menjadi jilbab panjang yang sederhana dan terlihat menyejukkan. Bagaimana kata-kata ibuku? Kamu tuh yah! Kayak teroris aja ikut-ikutan aliran sesat jilbabnya gede-gede gitu!!
Aku diam. Tak kuasa melawan. Menunduk. Menangis sejadi-jadinya, Ya Rabb. Salahkah aku? Jika aku memang salah, beri aku hidayah untuk memperbaiki kesalahanku. Aku terus berdoa pada Allah untuk menerangi keluargaku dengan cahaya iman dan islam. Mba Hasna tau apa hasilnya? Idul fitri kemarin, ibuku memprotesku yang memakai pashmina yang berbunga dan berkupu-kupu. Beliau malah membelikanku jilbab Oki Setyana Dewi’s style. Mba Hasna tau kan panjang jilbab OSD style itu berapa ratus senti? :D Eehehehe di perkembangan blog Mba Al selanjutnya, 'masalah jilbab' nggak terlalu esensial siiii *pisss

Nah! Yang lebih seru itu ya, Mba, Adikku yang kecil dipindah sekolahkan ke TK IT. Baru-baru ini ia mulai menghafal juz tiga puluh lho. Adikku yang besar, yang dulunya suka angin-anginan dan di rumah main sama anak-anak nggak jelas dimasukkan ke sebuah pesantren.  Ya Rabb. Aku mulai sadar betapa sayangnya Rabb-ku padaku, Dia yang mulai menerangi keluargaku dengan cahaya islam. Aku mulai mengerti bahwa buku, Betapa Allah mencintaimu, Saudariku yang dipinjamkan oleh Mba Alikta empat tahun lalu benar-benar dapat bereaksi dengan cepat! Hanya dengan doa rutin usai shalat. :D
Aku tak tahu energi apa yang membuat semua yang Mba Al katakkan benar-benar terekam jelas di otakku. Menjadi lembaran memori yang begitu indah. 

Trus cerita kontraversional di tumblr. Aku serig ngestalk seseorang akhir-akhir ini. Panggil saja ia You know who. Namun aku harus kecewa ketika melihat tingkahnya yang sangat tidak menjaga hijab di depan non-mahrom. Tiba-tiba aku ingat kisah yang disajikan Mba Alikta empat tahun lalu di pinggir lapangan sekolah dekat es klamud, saat Sayyidatina Aisyah R.a difitnah para golongan munafik karena diduga terlibat skandal dengan seorang pemuda bernama Safuan bin Al-Muattal As-Sulami Az-Zakwani,   setelah beliau tertinggal rombongan pasca perang. Turunlah surat An nur ayat 11-12. Hmmm…. Sejujurnya, kisah itu membuatku takut. Aku takut peristiwa yang terjadi antara logika, perasaan, dan firasatku ke You Know Who yang terbunuh beberapa hari lalu itu adalah fitnah. Karena memang aku tidak meminta klarifikasi dari pihak terkait. Semua yang kulihat pure berdasarkan prasangkaku sendiri. Aku takut mengambil bagian yang besar, dan mendapat azab yang besar (pula). Ya Rabb… ampuni hamba-Mu ini. Yang terlalu banyak prasangka. Menduga hal-hal yang bukan-bukan dari kejauhan. Astaghfirullah hal’adzim.. Hmm… *tarik nafas panjang. Aku mau khusnudzon aja ah. Karena ukhuwah yang terkecil adalah khusnudzon. Membuatku mengikhlaskan semua yang terjadi. Menyusun satu demi satu kepingan kekaguman yang telah hancur. Meski aku tak bisa menjamin kekaguman itu akan kembali seperti semula atau tidak. Yang selalu kutahu, aku, You know who, dan semua aktifis dakwah lainya akan terdekap hangat dalam bingkai ukhuwah. Karena di tengah ukhuwah itu ada manisnya iman. Semanis buah-buahan yang disediakan untuk kaum muslimin di jannah-Nya.[1]   

Sebenarnya masih banyak cerita yang ingin aku ceritakan, Mba. Tapi udah dulu yaa. Sebagian juga udah aku ceritain di tumblr. Intinya, Allah memberiku hidayah yang begitu besar melalui mentorku yang paling cantik, cute, frontal, polos, sekaligus jujur ini, Mba Alikta. Aku ingin selalu mencintainya karena Allah dengan menggenggam erat hidayah ini, Mba. Doakan moga tetep keep ON istiqomah ya, Mba. Aamiin. Jazakumullah udah mau baca sampai sini. ditunggu tiketnya. Hehehe … J


02 November 2014

Cinta-Nya, Sumber Inspirasi Laskar Tinta

Ini Post yang blaster banget bahasanya :D



 “Jreng  jreng  jreng jreng...!” Today!! facebook account owner, Memyu Dikachi Macker and twitter nickname, @mackerdikachi have changed successfully into  Meliana Moga Yufita. Is it beautiful? Of course!!I have a brave to ay…because it’s given by my mom when I was sleeping in her womb. My grand ma said that she wrote that 17 caracther + 2 spaces on her diary. Fortunately, I have felt soo comfort on my expired  nickname Memyu and etc.
It’s too long X came in my life and failed to enter my heart. He as my elder class. Or my senior. He taught me so much. He was care with me. Eventhough overprotective and very very overprotective to me.  He was like my own brother. Honestily, I love him very much. So, I like my nickmane which is given by him.
In consists of :
·         Memyu_MEliana Moga YUfita.
·         Dikachi_I think I cant tell it
·         Macker_an adjective arrangement Manis Cakep dan Kerempeng.(it’s too indonesian)
My friends on English Addicted, Advanced English, VOA Learning English (Special English), VOA Learner Group,  and so on ussually call me Memyu. Memyu is the famous one on  English Conversation page at Facebook.
Alhamdulillah Ididn’t have a chance to make merah-putih porridge that signed that my name has been changed. Cause in fact, I lost my own country name. Moreover, I lost my own self. 17 letters that I write on my lesson book and my answer sheet at school. Those is  Meliana Moga Yufita. It as if lost and swollen by Memyu, Memyu, dan, Memyu. Everything full of memyu.
 Newton takes a part!!, tekanan Memyu semakin kuat sehingga mamperkecil luas kemungkinan teman lama saya untuk mengenali saya di berbagai jejaring sosial. Gaya atau Force yang sudah kodratnya sebanding dengan tekananpun meningkat. Semakin menekan saya ke dalam jurang keasingan.
Karena, makin banyak teman lama yang bertanya”Siapa ini?”. Bahkan, ada juga sahabat lama yang berkata “Kau bukan yang dulu lagi...”  Sementara X, kini harus ku hapus dalam hidupku selama-lamanya karena memang bukan nama itu yang ingin kuukir di hatiku kini. Allahua’lam.
Dan ironisnya, rasa kehilangan itu baru saya sadari ketika saya hampir menghancurkan diri saya sendiri. Ya!! saya hampir menjadi ‘Sakura Indonesia di musim salju’. Sakura itu memang indah. Berseri merona, menghiasi taman hati. Menebarkan pesona pada tiap orang yang menghampirinya. Namun kini ia tumbuh di negara tropis,Indonesia. Dan kenapa sakura itu bersemi di musim salju?  Sakura itu datang di saat dan tempat yang tidak tepat. Logikanya, kalaupun sakura itu ada, ia tak akan bertahan lama. Hanya orang bodoh yang mengharapkan sakura itu tumbuh subur, atau semacam orang yang memiliki khayalan terlalu tinggi hingga kehilangan life sence. Atau mungkin, orang yang dengan hebatnya sanggup mengharapkan harapan yang tak pasti. Tak mau mempercayai takdir indah-Nya. Takdir yang sudah terukir di Lauhul Mahfudz.  
Saat indah itu tiba-tiba datang, saat di mana salah satu sahabat terbaik saya mempertemukan saya dengan fans page  “Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran.” Fans page yang mencitrakan cinta yang hakiki. Cinta yang tak boleh dinikmati di saat dan tempat yang tidak tepat. Cinta yang tak boleh jatuh sebelum akad nikah dikumandangkan. Karena dalam di islam memang tak ada fall in love then get merried. Tapi lebih dari itu, get married then fall in the love. Cinta adalah fitrah yang seharusnya dijaga sesuci-sucinya.
Saat itu, sayapun mulai menyadari kehilangan yang saya rasakan selama ini. Itu akibat cinta terlalu dalam yang menggerogoi hati saya. Cinta yang seharusnya belum boleh jatuh. Cinta yang mengakibatkan bertubi-tubi tekanan  mempesempit luas permukaan otak saya hingga menerjunkan nilai rapot saya di SMA saat semester tiga. Dan cinta yang dengan bebasnya menerjunkan saya ke dalamjurang harapan semu. Bahkan, ia membuat teman-teman saya tidak mengenal saya sebagai Meli dan tidak memanggil saya Meli. Saya merasa bukan Meli, saya kehilangan inspirasi setelah kehilangan Z. Saya merasa dikucilkan, dan saya merasa dunia sudah tidak mengenal saya lagi. Saya merasa semua telah melupakan saya dan menghilangkan saya dari hidup mereka. Saya kehilangan diri saya karena cinta saya pada nama Memyu dan rasa saya pada Z menggeser Meliana dari hati orang-orang di sisi saya.
 Astaghfirullah. Air mata saya hampir jatuh di depan publik karena kecewa bercampur sedih. Sementara cinta Z, mana cintanya di saat seperti ini? Z tak ada, rasaku padanya, dan rasanya padaku terasa memudar bahkan hilang.
Namun, cinta-Nya tak pernah berhenti mengalir di hati saya. Cinta Ibunda tak pernah layu di hati saya. Alhamdulillah kasih sayang-Nya mencegah saya untuk menangis di depan teman-teman sekelas. Karena saat itu saya mencoba memanggil mereka, tapi mereka tidak mau menoleh. Mereka tak mengenal Meli.
Setetes air mata saya jatuh saat saya sedang berjalan menghindari perhatian publik. Saya menuju perpustakaan. Ribuan buku saya baca, walau hanya judulnya. Suasana sudah sedikit tenang dan sayapun membuka akun facebook saya. Saya menghapus segala hal yang mengingatkan saya padanya. Merubah nama akun facebook dan twitter saya dengan nama asli saya.
            Mencoba menjadi diri sendiri, melepas dirinya yang ada di setiap nickname jejaring sosial saya, dan mungkin dia juga ada di hati saya. Saya mencoba untuk menyimpan derap hati kuat-kuat. Mencoba menjaga cinta sesuci-sucinya. Let it flow hingga rasa indah ini bermuara saat dan tempat yang tepat. Insya Allah.

            Karena cinta adalah inspirasi yang dapat menggerakkan jari saya menari-nari di atas keyboard, mengekspresikan perasaan saya dalam tiap suku kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang indah. Itulah cinta Allah swt pada saya. Cinta-Nya yang takkan pernah pudar. Cinta-Nya yang hakiki. Cinta-Nya yang abadi. Cinta-Nya, sumber inspirasi laskar tinta.

Abaikan

Post ini pernah dipublish di FB ku yang udah deactivated, salah satu karya terbaik di revolusi cinta Mahasiswa yag diadain UKI AL Fatih duluuuu bangetz.. Gaje Lho. HHa

Tinjauan Pustaka
Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang entah siapa dan dimana saat ini. Untukmu yang jauh disana, terkadang mata ini iri kepada hati, karena kau ada di hatiku namun tak tampak di mataku. Aku tidak memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih ingin menunggumu, meski kau tak pernah meminta untuk di tunggu dan diharapkan. Hati ini meyakini bahwa kau ada, meski entah di belahan bumi mana. Yang aku tahu, kelak aku akan menyempurnakan hidupku denganmu, disini,di sisiku. Maka, saat hatiku telah mengenal fitrahnya, aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang di cintaiNYA. Sekalipun kita belum pernah bertemu, mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama, tersenyum menatap rembulan yang sama.Disanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu. (tausiyah cinta, 2014)
Langsung loncat ke pembahasan :D
Aku ingin menjadi satu-satunya alasan mengapa sampai saat ini engkau tetap menjaga izzahmu, seperti aku menjaga izzahku untukmu. Aku ingin suatu hari nanti menjadi satu-satunya alasan mengapa kita harus bangun sangat pagi, shalat shubuh jama’ah dan kalau perlu memasak di dapur bersama, sebelum karir dan pekerjaan, menuntut kita untuk pergi dari rumah. Ah! Mungkin harapanku terlalu tinggi.
Tausiyah cinta bilang, terkadang mata ini iri pada hati.
Hati ini merasakan keberadaanmu, tapi engkau tak tampak di mataku.
Untukmu yang masih jaaaaaauh di sana,
Terkadang aku malah iri pada ibu-ibu kantin di depan fakultasku, suami ibu itu adalah tukang fotokopian di yang kiosnya juga di samping kios sang ibu. Aku tau nama suaminya, namanya Pak Paijo, sangat populer menyandang gelar “tukang fotokopian depan Fabio”. Anaknya yang terkecil bernama Dicky. Jam lima kurang sedikit mereka biasa pulang naik motor bertiga, sang ibu memakai baju merah, Dicky memakai baju kuning, dan Pak Paijo memakai Baju Ijo (kayak namanya kan? Pak PaIJO. hahaha), helm mereka pun senada dengan baju masing-masing. Merah-Kuning-Ijo. Sangat mirip pelangi yang dilagukan anak-anak. Aku biasa menyebut mereka keluarga pelangi saking so sweetnya.

Sedangkan aku masih terpaku dengan merahku. Merah wajahku yang seringkali kusembunyikan. Menahan derap hati yang memang tak seharusnya berderap. Aku iri pada pelangi yang terlihat makin menawan dengan warna-warna khasya. Aku ingin engkau membuat hidupku lebih indah, seperti merah membutuhkan kuning dan hijau untuk memancarkan pesonanya. Aku memang selalu menantikanmu di batas waktu, seperti engkau yang ku yakin akan menjemputku di batas waktu nanti. Dengan berani, datang pada kedua orang tuaku untuk mengkhitbahku dan menjadikanku kekasih halal. *jiaaaah :D 


Muhammad Al Fatih


“Beep…Beep…!!!” HP ku berdering. Ada email masuk. Panitia Lomba Cerpen Penerbit Mafaza Media sudah mengirim cerpen yang harus kunilai. Ada 100 cerpen. Aku dimintai tolong untuk mengurutkan cerpen-cerpen itu mulai dari cerpen yang terbaik. Dan memilih 20 cerpen terbaik di antara 100 cerpen ini. Tiga tahun yang lalu aku sangat rajin mengikuti berbagai lomba menulis cerpen yang diadakan oleh berbagai penerbit. Kini, satu demi satu penerbit yang pernah menerbitkan cerpenku mulai mendatangi inbox email ku. Aku mulai Move ON dari zona kontestan ke zona juri. Alhamdulillah.. Betapa besar karunia Allah.
Aku mengalihkan pandangan. Menatap  tumpukkan sertifikat, piagam, dan tropi berbagai ukuran yang terpajang dalam lemari kaca di kamarku. Ada satu sertifikat yang sengaja ku bingkai. Sertifikat yang menjadi titik awalku untuk semangat menulis, sertifikat Training Kepenulisan UKMI[1]. Tepat beberapa minggu setelah training kepenulisan itulah cerpen keduaku terbit, disusul cerpen ketiga, dan seterusnya.
Allah memberi hidayah pada jemariku untuk konsisten menari di atas keyboard melalui acara special ini. Acara yang diisi oleh dua mahasiswa berprestasi dan diliput secara streaming oleh https://purwokerto.tv. Beberapa menit setelah training kepenulisan, aku menemukan banyak sekali lomba menulis cerpen saat login facebook. Hatiku pun tergerak untuk mengikuti lomba itu. Dan subhanallah… Allah menunjukkan jalanku di sini. Jalan di mana aku dapat menuangkan inspirasiku.
Aku mulai membaca satu demi satu cerpen kiriman mafaza media. “Assalamu’alaikum… Ya Akhi, Ya Ukhti…..”tiba-tiba Hp ku bedering. “Assalamu’alaikum. Kenapa, Bu?” kataku santai. Sejurus kemudian, teh yang ku seruput hampir kusemburkan, “Apa? Ibu sudah di terminal?” Pekikku kaget, sangat panik, dan sangat terkejut. Semua rasa itu bercampur jadi satu. Aku segera meraih kunci motor di atas almari dan bertolak ke terminal. Menjemput Ibu yang tiba-tiba sudah sampai di Purwokerto tanpa memberi kabar dulu.
Benang-benang kuning merajut putihnya awan di angkasa. Aku menikmati manisnya pisang goreng buatan ibu di depan laptop. Sambil membaca cerpen yang sudah ke 90. Ibu mengamatiku yang membaca sebegitu banyak dokumen di depan laptop. Ibu tersenyum di seberang meja sana. Lalu menyeruput teh manisnya seraya berkata, “Hmmm… penelitian kamu gimana?”
Inilah salah satu pertanyaan sensitif bagi sebagian mahasiswa pascasarjana tingkat akhir. Namun dengan santai ku jawab, “Alhamdulillah lancar, Bu. Minggu depan udah siding tesis kok.”
“Alhamdulillah…Oh ya perkembangan bisnis kamu gimana?”
 “Mmm… Bukanya Ayu udah cerita ya, Bu? Bulan depan Ayu mau....”
“Iya.. ibu masih ingat cerita kamu kemarin malam.” Ini adalah kali pertama dalam hidupku, ibu memotong kata-kataku. “Nak, bulan depan kamu akan membuka cabang Ayam Kepruk Haltob[2] di Semarang. Minggu depan, tepat setelah sidang tesismu, kamu akan meresmikan outlet Hijab Ceria[3] ketigamu. Beberapa saat lagi kamu akan meraih gelar master….” Tiba-tiba kata-kata ibu terhenti. Aku masih menunggu kata-kata selanjutnya. Ibu menyeruput teh manisnya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
Aku hanya tersenyum. Mengalihkan pandanganku dari laptop. Siap menyimak kata-kata ibu selanjutnya. “Nak, ibu sudah tua. Kamu adalah anak ibu satu-satunya. Ibu sangat bersyukur kamu kini menjadi wanita yang sukses di bidang akademik, menjadi penulis, dan sukses berbisnis, Tapi…” Lagi-lagi kata-kata ibu mengambang. Ada raut keraguan di wajah ibu.
“Tapi kenapa, Bu? Katakan saja.” Responku. Berusaha menghapus raut keraguan di wajahnya.
Ibu terlihat menata kata demi kata sehati-hati mungkin.“Mmmm…. Maaf ya, Nak. Bukanya ibu kurang bersyukur. Ibu sangat bangga dengan pencapaianmu selama ini. Sebagai wanita yang cerdas, tentu kamu tahu betapa pentingnya hal ini. Sebenarnya harapan terbesar  ibu saat ini adalah melihatmu menyempurnakan setengah dienmu.”
Aku terpaku mendengar kata-kata ibu. Lidahku tercekat. Tak ada sepetah kata pun yang mampu ku katakan meskipun sedari dulu aku begitu lihai memilih diksi. Saat ini, tak terlintas kata menyempurnakan setengah dien sedetikpun di fikiranku. Karena memang tak ada kecenderungan sedikitpun pada lelaki manapun. Ibu pun ikut tersenyum. Membelai jilbabku dengan lembut seraya berkata, “Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah ada pandangan atau kecenderungan pada seseorang?”
Aku menggeleng, namun aku tak mungkin membiarkan kekecewaan terbit di wajah ibu. Aku pun berkata, “Maaf. Ayu bingung, Bu. Tapi Ayu akan usahakan sesegera mungkin…”
“Alhamdulillah…” Ku rasakan kelegaan di hati ibu. “Nak, ibu lelah. Ibu istirahat dulu yaa.” Kata Ibu seraya berlalu menuju kamar.
Sementara aku kembali melanjutkan cerpen yang ku baca. Ini adalah cerpen ke 99. Cerpen ini berjudul satu kata, “Rindu” sangat tidak menarik. Kebetulan lomba cerpen ini bertemakan cinta. Cerpen pertama hingga ke 98 pada dasarnya menceritakan dua sejoli yang saling mencintai dengan ending menyatu dengan bahagia, atau merana karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, salah satu tokoh meninggal, dan adanya orang ketiga. Ku kira penulis menceritakan cinta jarak jauh yang dihiasi rindu mengharu-biru.
Cerpen ke 99 ini diawali dengan sebuah kata yang biasanya menjadi akhir dari sebuah kalimat, “Titik!” Awal yang berhasil menyihir pembaca untuk membaca lagi dan lagi sampai akhir. Cinta yang disajikan penulis ini memiliki dimensi yang berbeda dengan cinta pada umumnya. Cinta yang mengisahkan rindu sang penulis pada seseorang yang entah siapa dan di mana saat ini.[4] Seseorang yang namanya rahasia namun ada di masa depan penulis[5]. Cinta sang penulis pada sebuah nama yang terukir begitu dalam di lauhul mahfudz, yang keagunganya menembus langit ke tujuh. Cinta karena Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba ada rasa yang menyusup dalam hati ketika aku membaca kata demi kata yang disajikan penulis dalam cerpennya. Apakah nama itu adalah namaku?
 Astaghfirullah. Aku segera beristighfar atas kekhilafanku. Berharap pada seseorang yang bahkan namanya saja aku tak tahu. Ya Rabb, apakah aku jatuh cinta pada penulis itu? Astaghfirullah… biarlah cinta ini jatuh pada orang yang selayaknya, Ya Rabb. Kembali aku beristighfar atas timbulnya rasa yang tidak selayaknya itu.
Setelah membaca cerpen ke 100. Akhirnya aku memutuskan 20 cerpen terbaik versiku. Dan gelar cerpen terbaik ku berikan pada cerpen ke 99. Pagi itu aku mengirimkan hasil penilaianku pada panitia.
“Wa’alaikumsalam. Jazakumullah khairan katsir, Mbakku cantik. Ini Dewi yang lagi ngadmin.. hehehe... Sebelumnya barakallah yah atas sidang tesis Mba Ayu hari ini. Honor ditransfer ntar malem Insya Allah J. Begitulah respon panitia menanggapi hasil kerjaku sekaligus pemberian selamat atas sidang tesisku
Tak seperti biasanya, setelah mengirim hasil penilaianku, masih ada rasa janggal yang bercokol di hati. Siapa gerangan penulis cerpen ke 99 itu?? Karena kebetulan adminya sesama perempuan, aku pun mememberanikan diri untuk menulis, :
Afwan Dek Dewi, honornya buat Kas Mafaza Media aja. Sebagai gantinya, kasih tau mba donk nama penulis cerpen ke 99. Hehehe.. Aku benar-benar dibuat penasaran oleh penulis cerpen ke 99 itu.
Ibu masih di kontrakanku. Beliau bertekad datang ke sidang tesisku meskipun sudah kuhimbau untuk istirahat saja, kondisi badan ibu tidak terlalu fit hari ini. Aku pun berangkat dengan ditemani ibu ke ruang seminar fakultas biologi pagi ini. Teman-teman, adik kelas dan beberapa dosen memberiku ucapan selamat. Ba’da Ashar aku meresmikan outlet hijab ceria ketigaku sekaligus membuka acara Grand Opening Hijab Ceria dengan pemotongan pita. Lagi-lagi ibuku yang mendampingiku memotong pita.
“Nak, bulan depan yang ndampingin kamu motong pita di Ayam Kepruk Haltob Cabang Semarang suamimu yaa. Jangan ibu terus.” Aku merespon kata-kata ibu dengan senyum geli.
Ba’da magrib, Akh Fatih dan kedua orang tuanya datang ke kontrakanku. Ayah dari Akh Fatih adalah Investor terbesar Ayam Kepruk Haltob yang ku kelola. Wajar jika selagi ada ibuku di sini, mereka bersua untuk menyambung tali silaturahmi. Akantetapi, setelah beberapa saat berbasa-basi, disampaikanlah keperluan mereka, “Sebenarnya, maksud kedatangan kami ke sini, selain untuk menyambung tali silaturahmi, juga ingin mengkhitbah Neng Ayu untuk Fatih, anak kami.”
Aku dan ibu pun terkejut. Dengan harap-harap cemas, aku meminta waktu beberapa hari untuk istikharoh. Mereka pun berkenan menungggu jawabanku seminggu kemudian. Hari demi hari berlalu. Malam demi malam kuhabiskan untuk tahajud dan istikharoh. Ibu masih saja menemaniku untuk menghabiskan sepertiga malam.
“Nak, kau sudah menemukan jawaban yang pasti?” Itulah pertanyaan yang selalu ibu ajukan habis shubuh dan membaca al matsurat[6].
Aku menggeleng tak berdaya. Diam. Tak ada yang bisa ku katakan. Ini sudah hari ke enam. Besok ba’da Magrib aku harus memberi jawaban pasti. Hingga detik ini, Dek Dewi belum juga menjawab emailku. Pertanyaan besar mengenai siapa penulis cerpen no 99 belum juga terjawab. Pertanyaan itulah yang menimbulkan keraguan dan membuatku begitu gelisah.
“Nak, apa yang membuatmu ragu?”
“Ibu… sebenarnya…” Entah energi apa yang membuatku tak mampu berkata apa pun. Aku tak mungkin menceritakan kegundahanku yang tidak masuk akal itu pada ibu. Bagaimana bisa aku mencintai seseorang hanya dari tulisanya saja. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seseorang hanya dengan membaca cerpen karanganya saja. Bahkan aku tak tau siapa namanya. Dan bahkan aku tak mengetahui apakah dia lelaki atau perempuan. Bisa jadi ini bukan cinta. Bisa jadi ini hanya panah iblis yang melukai hati.
“Sebenarnya apa, Nak?” Tanya ibu penasaran.
Aku menggeleng, menangis, dan memeluk ibuku erat-erat. Masih dalam balutan mukena. Ibu mengelus pipiku, membalut air mataku sambil berkata, “Apa kau takut, Nak? Apa kau merasa belum mampu dan kuat?”
Aku diam membisu. Menatap ibu lekat-lekat.
“Nak, menikah itu shunnah Rasul yang sangat dianjurkan. Niatkanlah pernikahan yang akan kamu jalani itu semata-mata sebagai bentuk ketakwaan pada Allah. Insya Allah akan memampukan. Allah akan menguatkan.” Kata Ibu menguatkanku. Menepuk pundakku mantap. Aku tersenyum. Memegang tangan ibu. Lalu mencium telapak tanganya. Namun aku tahu, wanita sepeka ibu masih melihat seuntai kabut keraguan di wajahku.  Wajah yang ku jatuhkan di pangkuanya.
Ibu mengelus rambutku dan berkata lembut, “Atau kau meragukan Nak Fatih?” Kata Ibu. Lalu menghela nafas. “Nak, tak ada yang perlu kau ragukan dari Nak Fatih. Ia pemuda yang baik, sholeh, sukses, dan cerdas. Bukankah kamu juga pernah menceritakan kekagumanmu pada Nak Fatih. Ia yang menjadi Hafidz, meraih gelar Master di Universitas Al Azhar, Chairo, dan kini bekerja sebagai direktur perusahaan Syariah. Nak Fatih juga berasal dari keluarga baik-baik. Insya Allah ia cocok untukmu, dan engkau pantas untuknya. Apalagi yang membuatmu ragu?”
Kata-kata ibu sungguh mendamaikan jiwa. Aku terbangun dari pangkuanya, kemudian berusaha memantapkan diri untuk berkata, “I.insya Allah Ayu sudah mantap, Bu. tidak ada lagi yang membuat Ayu ragu.” Dan aku pun tenggelam dalam hangatnya dekapan ibu di pagi yang dingin itu.
Seminggu kemudian, akad dan walimatul ursy digelar di Masjid Agung Cirebon. Setelah aku mencium telapak tanganya, aku resmi menjadi kekasih halalnya. Inilah jatuh cinta yang sesungguhnya. Cinta yang jatuh pada yang selayaknya. Pada seseorang yang menghalalkan ikatan cinta dengan akad nikah, Mas Fatih kini menjadi suamiku, menyempurnakan setengah dienku.
 “Beep Beep!” Hp ku berdering, tanda ada email masuk.
Afwan mba telat banget njawabnya. Dewi baru ngadmin lagi nih. Padahal kemarin pengarangnya baru buka email ini. Pengarang cerpen no 99 itu PJ lomba cerpen ini, Akh Muhammad Al Fatih. Oh iya hari ini kan Mba menyempurnakan setengah Dien mba sama beliau. Barakallahu fii kum ya, Mba. Semoga dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. J
Jazakillah, Ukhti Shalikha. Aku tersenyum setelah membaca email Dewi. Ternyata tanpa sadar aku sudah jatuh cinta pada Mas Fatih sebelum aku menikah denganya. Untung sekarang ia telah menjadi kekasih halalku.
“De, Ade penasaran banget en ngefans banget ya sama penulis cerpen no 99?”
“Nggak cuma ngefans kok. Naksir malah.” Sontak jawabanku membuat Mas Fatih kaget. “Dia kan sekarang ada di hadapan Ade. Barusan Dek Dewi udah ngasih tau faktanya! Kenapa coba kemarin habis buka email mafaza media, tapi kok email Ade nggak dijawab?”
Mas Fatih mencubit  kedua pipiku dengan kedua tanganya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku. Sebelumnya aku tak pernah berbicara sedekat ini dengan lelaki. Tentu saja perilakunya membuat jantungku berdebar begitu hebat. Dalam jarak kurang dari 15 cm, ia berkata, “Biar bikin penasaran donk, Sayang.” Jarak wajahku dan wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan tiap nafas yang ia hembuskan, “ Jadi ade udah naksir mamas sebelum menikah dengan mamas?” Tanyanya memojokkan.
“Kalo iya kenapa?” Jawabku. Kembali menantangnya. Tak ada masalah kan? Toh sekarang aku sudah resmi jadi istrinya. Kataku memantapkan diri dalam hati.
“Mmmm.. Kalo iya berarti kita 1-1. Impas” katanya kemudian menghela nafas. “Sebenernya Mamas naksir Ade juga gara-gara mamas baca tiap kata yang Ade rangkai dalam cerpen Ade. Bahkan sejak pertama kali Ade mengikuti lomba cerpen yang diadakan Mafaza Media. Udah lama banget. Bahkan Mamas selalu kangen sama cerpen Ade saat Mamas di Chairo. Lama-lama Mamas ngerasa sakit banget kelamaan memendam perasaan ini. Akhirnya sore itu, mamas memberanikan diri untuk mengkhitbah Ade.”
Aku mencubit hidungnya, lalu mendorong wajahnya ke belakang. Mencoba mereduksi ketegangan syaraf-syarafku, “Hmmm… berarti Mamas pinter yaa.. Pinter memendam rasa.”
“Dan Ade paling nggak pinter memendam rasa. Buktinya langsung ketahuan lewat email. Hehehe..”
“Eh… gini-gini Ade juga bisa mbedain antara Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam dan Muhammad Al Fatih di depan Ade.”
“Ahahaha… Ya jelas beda lha. Emang menurut Ade bedanya apa coba??”
“Kalo Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam menaklukan konstatinopel, Muhammad Al Fatih di depan Ade menaklukan hati Ade, dan kalo Ade mau menaklukkan dunia dengan goresan pena”
 “Hmmm… aamiin… Sebelum Ade menaklukkan dunia dengan goresan pena, taklukkan dulu hati Mamas malam ini…” Kedua tanganya menyentuh masing-masing tepi dari kedua pipiku, dan wajah kami saling mendekat. Ini adalah malam terindah yang Allah anugerahkan pada kami.
Biodata penulis
Nama saya Meliana Moga Yufita. Nama Pena Ukhti Shalikha. Alamat Bakulan Rt 06/03, Kemangkon, 53381, Purbalingga, Jateng. Nomor HP 085310359210, Twitter @meliyufita, sedang menjalani study S1 di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, semester 5. Memiliki Visi menjadi penakluk seperti Muhammad Al Fatih. Tapi  menaklukan dunia melalui goresan pena. Cerpen yang pernah diterbitkan : Ippho junior dalam Antologi Cerpen Indigenus  (Inovasi dan Kreasi Generasi Muslim) UKMI Fabio Unsoed dan Zinnia elegans dalam Antologi FF Tumbuhan Penerbit Panji. Pernah menjadi Runner up lomba menulis cerpen berbahasa inggris antar fakultas dalam English Festival, yang diadakan oleh BESt (Biology English Society). Syukron! J




[1] Unit  Kegiatan Mahasiswa Islam
[2] Halallan Thoyibban, usaha kuliner
[3] Toko jilbab
[4] Kutipan Buku Tausiyah Cinta
[5] Kuttipan lagu jodoh dunia akhirat-Maidany
[6] Dzikir pagi dan sore, karangan Hasan Al Bana

Azzzz!!! Mau bikin cerpen buat Indigenus UKMI malah nulis2 cerpen yang jadinya beginian... Mel Mel!!!!