22 October 2015

Post Hoc Ergo Prropter Hoc.

"Saat aku sudah terbang, jadikan pertemuan kita sebagai prioritas paling akhir dari aktivitas-aktivitas lainnya. Jangan sampai kebersamaan kita justru lebih berharga dari kebersamaan dengan Allah." Begitu Kata Beta sebelum Ia terbang. Kali terakhir Ia mabit di kosku.

Akhir-akhir ini aku sering lari dari kenyataan. Lari begitu sjaa meninggalkan Beta. Sering membuatnya menunggu berjam-jam di depan laptop, kemudian penantianntya sia-sia, karena lampu hijau di samping namaku tidak menyala, mulai dari jam tiga pagi hingga menjelang shubuh aku tidak online. Oh ya jam tiga pagi di jepang sama dengan jam satu malam di Indonesia. Aku yang kebetulan terkena insomnia akut biasa bermain video call dengan Beta. Wi Fi di kos lumayan,Beta.

Peristiwa itu bisa terjadi selama satu-dua hingga tiga hari.  Seringkali Beta reflek menelfonku karena tiba-tiba aku mengentikan kebiasaan kita tanpa izin. Hanya malam kemarin dan malam ini Ia (untuk ke sekian kali) tidak bisa menghubungiku. Aku bingung ketika tadi, telfon Beta yang sudah ke beberapa belas kali kuangkat.

Beta menangis. Seumur hidup aku mengenal Beta, ini adalah kali pertama aku mendengar Beta menangis sampai sesenggukkan di telfon. Biasanya Ia hanya melelehkan setetes demi setetes air matanya kemudian segera mengusapnya.

Ada apa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Seperti yang Beta lakukan ketika aku berada dalam kondisi seperti itu, Aku diam. Membiarkan Ia terus menangis hingga kelelahan dan berhenti. Beta bertanya, 'kamu dari mana?"

"Habis diskusi."
"Bisa online?"
"Iya. Sebentar."

Jeng!Jeng!!! Kulihat Mata Beta yang lembab akibat aksi tangis tadi. Bodoh. Kenapa aku tersenyum?

"Kau menungguku bercerita, Mawar?"
"Tentu saja."
"Ia menarik nafas panjang. Kemudian tersenyum seraya menaikkan kacamata Conannya yang sempat turun."

Sebenarnya hari ini semua berjalan normal. Tidak ada apa-apa. Sungguh. Sesenggukan itu adalah ulah satu eksemplar buku. Polos. Lembaran-lembaran kertas yang dijilid oleh benang-benang itu membuat Beta nangis hingga sesenggukan di hadapanku?! Judulnya Rekayasa Sosial tulisan Jalaludin Rahmat.

Ayo langsung lompat ke Isinya. Fallacy of Misplaced Concretness. Misplaced berarti salah telak. Concretness artinya kekonkretan. Jadi, kesalahan berfikir ini muncul karena kita mengkonkretkan sesuatu yang pada  hakikatnya abstrak. Misalnya, mengapa orang Islam secara ekonomi dan politik lemah? Mengapa kita tidak bisa menjalankan syariat Islam dengan baik? Lalu ada orang menjawab : “kita hancur karena kita berada pada satu sistim jahiliyah. Kita hancur karena ada thagut yang berkuasa.” Tetapi, sistem jahiliyah dan thagut itu adalah dua hal yang abstrak. Sehingga jika jawabannya  seperti itu, lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mengubah sistem! Tetapi, “siapa” system itu? Sistem yang abstrak itu kita pandang sebagai sesuatu yang konkret?? Dalam istilah logika, kesalahan seperti di atas itu disebut reification. Yaitu, menganggap real sesuatu yang sebetulnya hanya berada dalam pikiran kita.

Rekayasa sosial memang selalu didampingi oleh demokrasi dalam pembahasannya. Rupanya Allah menguji daya tangkapku dalam MK 2 yang kemarin baru saja kuikuti. Tempatnya di depan UPT Perpustakaan Unsoed, banyak orang. Membuat mataku seringkali gagal fokus. Godaan membelokkan fokusku dari pembicara pada mas-mas dan mba-mba yang duduk di bangku batu di atas sana. Aaaa itu orang pacaran deh kemungkinan besar. Ketika kupalingkan mukaku ke samping, tringtring! Di gazebo juga ada mas-mas dan mba-mba yang lagi mojok. Kali ini ketika ada makhluk berkromosm XX dan XY, maka makhluk ketiga adalah setan. Iya! Setan itu bermetamorfosis menjadi sebuah laptop, laptop yang ada di pangkuan salah satu dari mereka berdua merekatkan jarak hingga eksistensi jarak itu hilang. 

Hei, Maw!! Itu kemaksiatan! Kenapa kamu tidak bisa menjadi sejenis Dodit Mentoring Men yang mampu mencegahnya. Apa? Apa jawabanku di Yaumul Hisab nanti ketika aku ditanya mengenai bagaimana tindakanku ketika melihat kemaksiatan yang saking maraknya  peristiwa ini terjadi sejak jaman dulu sampai dipandang biasa-biasa saja. Apa karena banyaknya orang yang sholeh tapi diam, kemudian pacaran bisa sesuka-suka merajalela. Aaaaaaaaa.... jangan-jangan aku juga mengalami kesalahan berpikir. Bahkan dua kesalahan sekaligus.

Fallacy of Retrospective Determinism. Istilah yang panjang ini sebetulnya hanya untuk menjelaskan kebiasaan orang yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Determinism selalu saja lebih memperhitungkan masa silam ketimbang masa mendatang. Dengan demikian, cara berfikir ini selalu mengambil acuan “kembali ke belakang” atau “sistem”. Karena itu, kesalahan berfikir ini disebut restrospective (melihat kebelakang). Determinisme restrospektif adalah upaya kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan (determined) di dalam sejarah yang telah lalu.

Post Hoc Ergo Prropter Hoc. Istilah ini berasal dari bahasa latin: post artinya sesudah; hoc artinya demikian; ergo artinya karena itu; propter artinya disebabkan; dan hoc artinya demikian. Singkatnya: sesudah itu-karena itu-oleh sebab itu. Jadi, apabila ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka kita menyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua.

Helloww!!! Aku bangun dari lamunanku. Kuingat-ingat dengan sekuat tenanga materi yang disampaikan Ustadz. Regardless suasana di UPT yang penuh perpacaran. Terjadi diskusi hangat terkait urgensi khilafah dan eksistensi demokrasi di Indonesia. Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati,

Jam 10 malam Indonesia sama dengan jam 12 malam Jepang. Beta terus menyerangku dengan sekelumit argumentasinya disertai analisis-analisis mendalam, tak lupa referensi-referensi pendukung. Sementara aku menjawab semua serangannya dengan referensi yang juga kumiliki. KUbolak-balik lembar demi lembar halaman buku yang pernah kubaca untuk menguraikan sedikit demi sedikit benang-benang kebrundetan dalam pikiran Beta.


"Ketika kamu berupaya untuk membunuh demokrasi, berpendapat sesuka hati di Negeri demokrasi, bukankah kamu sendiri sedang menikmati demokrasi? Pendapat, musyawarah, dan mufakat sangat dijunjung tinggi dalam demokrasi, termasuk pendapatmu itu. Saat orang-orang menentangmu justru mereka telah melanggar syariat dari demokrasi itu."

"Pendapatkku.. pendapatku masih bagian dari demokrasi, Maw? meski pendapat itu kuajukan untuk membunuhnya?!"

"Secara rasional seperti itu."

Temperatur diskusi yang dulunya hangat mulai memanas dan mencapai klimaks. Sakit. Sakit memang ketika idealisme berbenturan dengan realita. Sayangnya, diskusi malam ini masih mengambang. darah segar mengalir deras dari hidungku, membuatku lari. Lari dari kenyataan

Wallahua'lam bishawab. Kebenaran hanya ada di tangan Allah.