Di bukit nan jauh, ada sebuah ruangan gelap. Orang-orang biasa masuk dan keluar ruangan itu. Ada yang masuk dengan tersenyum, ada pula yang masuk dengan menangis. Keluarnyapun ada yang tersenyum, dan adapula yang menangis. Kita tak pernah tau seperti apa bentuk dalam ruang gelap itu sebelum kita memasukinya. Aku ingin bercerita tentang beberapa orang yang memilih untuk tetap berada di ruangan itu dan memilih pergi saja.
Pertama adalah seseorang yang tujuh turunan atasnya memang menetap di sana, seperti sebuah dinasti yang menetap di sebuah istana. Ia hidup bahagia bak putri atau raja di ruang itu.
Kedua, orang polos yang bingung. Ia bingung harus berbuat apa ketika memasuki sebuah wilayah asing baginya. Ruang itu setidaknya memberikan space bagi orang kedua untuk berteduh.
Ketiga, orang yang memilih ruang itu di antara baaanyaaaak pilihan yang tersaji. Kau tahu apa jadinya?? Ia masuk dalam keadaan tersenyum, dan keluar dalam keadaan menangis. Ia kecewa. Karena ruangan itu tidak memberikan apa yang ia harapkan. Keempat, orang yang memiliki perasaan yang berkebalikan dengan orang yang ketiga. Bisa dibilang kelanjutan kisah orang ketiga. Ia pergi dari ruangan lain, menuju ruangan itu. Apa yang ia dapat? Kecewa juga.Tanpa ia sadari bahwa semua ruangan di dunia ini pasti memiliki sisi negatif dan sisi positif. Kata Mas Gun, jika ingin mencintai dengan sempurna jangan awali dengan perbandingan. Buang-buang energi.
"Ayolah kawan! Kita hanya manusia. Bukan Tuhan!! Tentu kita tak harus mendapatkan hal yang sempurna tanpa cela."
Orang yang kelima adalah orang yang sangat mencintai ruangan yang ia tinggali itu. Ia membabi buta membela ruangan itu meski semua orang di dunia mencaci kegelapannya. Apa itu baik?? Tentu saja menjijikan!! Akal sehatnya telah dimutilasi oleh
Orang yang keenam adalah mereka yang mengetahui kegelapan dalam ruangan itu, Pergi ke ruangan lain (awalnya) menjadi pilihan yang tepat. Mungkin memang lebih nyaman di ruang sebelah, tapi semakin jauh ia meninggalkan ruangan itu, ruangan itu akan terlihat semakin gelap. Matanya akan semakin sakit menatapi kegelapan. Karena itulah mereka kembali. Menetap di ruangan itu dan menyalakan lilin. Ruang itu bukan lagi menjadi pilihan, tapi tujuan. Ruang itu tak hanya tempat singgah, tapi rumah.