Aku seringkali tergelitik dengan kata-kata “anak
rohis kok ...” kata-kata ini menekankan eksklusivitas dalam tubuh Lembaga Dakwah
Kampus, yang justru membuat Aktivis Dakwah Kampus (ADK) bermetamorfosis menjadi
Alien Kampus. Kenapa aku tidak memilih kos binaan?? Iya benar. Akhir-akhir ini
aku menjadi pemberontak. Penentang konsep kos binaan. Coba kalo semua manusia
yang baik-baik n sholeh-sholeh ngumpul jadi satu di sebuah kos’an, kapan akhwat
yang ammah itu mau jadi akhwat beneran? Okelah boleh tinggal di Kosbin, tapi
tidak untuk selama kalian jadi mahasiswa!
Afwan. Harusnya mengkader laskar dakwah nggak
separsial itu, harusnya mereka nggak selamanya memenjarakan diri di kosbin dari
maba sampe lulus. Mereka harusnya menyebar ke kos-kos yang ‘biasa-biasa’ aja,
biar cahaya islam dapat terdistribusi dengan merata. Bukan malah bangga dengan
keterasingan, kalian sendiri yang membuat islam menjadi asing. Jangan
menyalahkan keadaan, akuilah autokritik ini untuk setidaknya memperbaiki
keadaan. Iya. Islam memang akan kembali asing, tapi selama kita masih bisa berusaha,
kemurnian islam di zaman ini masih tetap terjaga tanpa menjunjung dalih aliensi
kan??
Masalah penjagaan, zaman sudah canggih! Ada HP
sampai video call. Liqo? Masih sanggup kan setidaknya sepekan sekali? MR tak
harus overprotektif dengan menjaga adik kesayangannya selam 24 jam full dari
maba sampe lulus di kosbin, adik ini juga harus bisa menjaga adik-adiknya nantu.
Cukup tingkatkan kesadaran mereka untuk menjaga diri. Estafet dakwah harus
tetap berjalan. Kita tak bisa hanya mengendalikan kondusivitas ‘kos biasa’ aja
dari luar kamar kan?
Aku memang paling benci kalo ada yang bilang, “ADK
kok pacaran” atau “ADK kok nyontek!” Sadarlah, Islam itu rahmatan lil ‘alamin,
bukan cuma milik ADK. Kader ada di lembaga dakwah itu mbela islam, bukan mbela wajihah
mereka. Jilbab bukan cuma milik akhwat di Lembaga Dakwah itu, tapi seluruh
muslimah. Aku suka menentang konsep parsialis,
eksklusivitas, aliensi atau apalah itu
dengan konsep universalitas yang memang melekat sejak islam lahir.
Tentu akan ada perspektif yang berbeda saat kita melihat kasus ADK pada boncengan
padahal beda kromosom, dan ‘anak biasa’ a.k.a bukan ADK cewe-cowo pada
boncengan.
Iya! ADK itu seperti ‘malaikat’ kok sepintas. Mereka
adalah makhluk-makhluk yang hatinya digerakkan oleh Allah untuk membela
agama-Nya. Kurang keren apa cobaa??? Tapi kita tetap tidak bisa menolak fakta
kalau ADK & Non ADK sama-sama manusia beragama islam. Iya. ADK itu
kenyataanya ya hanya manusia yang juga beragama islam, bukan malaikat!
Beda emang cara nasihatin anak yang sudah terbina
secara intensif dengan mereka yang belum tau landasan fundamental kenapa nggak
boleh boncengan dengan makhluk beda kromosom. Kalaupun mereka sudah terbina dan
mengerti, bukan berarti mereka pasti memahami dan mengaplikasikan apa yang telah
mereka dapatkan. Tugas kita sebagai sahabat seperjuangan ya hanya sebatas mencari
cara kreatif untuk menumbuhkan kesadaran, mengingatkan, dan mendoakan secara
terus menerus. Kita juga tak boleh lelah mengajak mereka yang ‘anak biasa’
untuk berbuat baik n memperbaiki diri, itulah yang disebut kerja peradaban.
Artikel ini
ditulis saat aku masih semester tiga. Hahah ... sekarang gembok private post
itu terpublish juga. Semoga bermanfaat! ^^