12 November 2014

Terbang

Hal yang paling membahagiakan adalah melihat orang lain iri saat menyaksikan kebahagiaanku. Wkwkwk, ini baru mau nulis. Bukan baru ada waktu luang. Entah faktor apa yang bikin aku males nulis waktu senin & selasa. Karena emang nggak ada  waktu luang kalo kita nggak meluangkan waktu. Dan aku nggak meluangkan waktu dua hari itu.

Mmmm tadi pagi aku nulis artikel mengenai kebencianku terhadap evolusi. Eh!!! Pas aku buka fb, ada yang ngelike. Hidup ini kan harus seimbang, biologi juga punya dua sisi dalam dimensi hidupku. Sisi gelapnya evolusi yang menggendong teori kebetulan, sisi baiknya adalah saat seorang biolog mampu menyelamatkan tanaman langka yang hampir mati di laboratorium. Gimana caranya?

Begini ceritanya, sebiji Vigna radiata jatuh di kebun. Seorang biolog yang kebetulan sedang jalan-jalan di kebun menyaksikan kemalangan Vigna radiata yang hak hidupnya nyaris dirampas faktor lingkungan, sang biji terjatuh dari pohonya, tergeletak malang di tanah, kehilangan harapan hiduup. Biji malang itu ia bawa ke laboratorium, disterilisasi dengan EtOH dan HgCl, kemudian ditanam di media MS (Murashige and Skoog), 2-4 minggu kemudian, biji itu berkembang dan tumbuh, memiliki akar, batang, dan daun yang sempurna layaknya Vigna radiata lain. Biolog itu mengaplikasikan teknik embrio rescue. Embrio rescue memungkinkan biji yang tidak bisa hidup secara in vivo, untuk hidup dan berkembang menjadi tanaman utuh. 

Embrio rescue ini adalah salah satu bagian dari jenis tekhnik kultur in vitro tumbuhan. Apa itu kultur in vitro tumbuhan? Sebut saja perbanyakan tanaman dengan memanfaatkan sifat totipotensi pada tumbuhan. Tau kan sifat totipotensi? Kata guru SD ku dulu, totipotensi adalah sifat yang dimiliki semua bagian tanaman untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh. Jika kita kondisikan secara in vitro (dalam botol kultur, dengan nutrisi yang cukup dan faktor lingkungan yang mendukung) selapis sel, sekelompok jaringan, sebongkah organ, atau se-molekul protoplas dapat kita jadikan tanaman lengkap!! Bahkan jika tanaman itu berkembang hingga tahap kalus, kita dapat memotong-motong kalus itu dan memperbanyak tanaman dalam waktu singkat tanpa mengurangi perbedaan sifat sang tanaman dengan induknya!! *SuHeRi *SukaHebohSendiri *SerasaKuliah :D

Mmmmm.... macam-macam kultur berdasarkan tekniknya itu ada kultur embrio kaya yang awal aku jelasin, kultur kalus yang barusan aku jelasin dan yang aku praktikumin kemarin itu mikropropagasi. Sederhananya, mikropropagasi itu ya ngulturin bagian vegetatif tanaman baik bagian apikal, aksilar, induksi kalus, atau induksi organogenesis/embriogenesis somatis secara in vitro. 

Teng ... teng ... teng ... teng ... ini dia cara kerjanya. Aku ngulturin jahe pake teknik mikropropagasi. Yang aku kulturin itu bonggol, karena itu salah satu bagian yang meristematis. Sang bonggol diisolasi, trus disterilisasi. 

Metode sterilisasinya pertama aku cuci eksplan (bagian tanaman yang mau dikultur), pake detergen (no mention brand :P), nggak dikucek-kucek juga yak :D, pokoknya direndem gitu. Habis itu aku rendem pake EtOH 70% sebanyak 1x selama dua menit, tujuanya untuk sterilisasi permukaan. Terus, aku rendam pake HgCl 0,2 M selama 4 menit sebanyak 2x, kalo tujuan tahap ini untuk sterilisasi tingkat jaringan. After that, aku rendam sang eksplan selama tiga puluh detik pake steril destiled water sebanyak tiga kali. Setelah blotting (memasukkan eksplan ke cawan petri yang dialasi kertas saring), tibalah tahap inokulasi. ini pertama kalinya tanganku masuk LAF. Hwiiiii sensasional banget rasanya. Kurang lebih gini gambar LAF nya : 


Mmm ... teknik inokulasinya juga nggak seribet di mikrobiologi. Cuman mungkin agak kesulitan buat anak akuntansi yang nggak terbiasa kerja di lab. Mikro (*Upz). Tenang, belajar gituan bentar gampang kok. Buka wrapping botol kultur yang udah ada medianya, lepas aluminium foil dari botol itu, masukkan eksplan yang tadi di cawan beralas kertas saring itu ke botol kultur. Tanemin di agarnya. Terus tutup lagi pake aluminium foil, dan wrapping kembali. Ini dia hasilnya ; 
Itu baru pengamatan hari ke-0, sesaat setelah eksplan diinokulasi, penginya aku pengamatan tiap hari, terus aku update di blog tiap hari, biar aku bisa bikin orang iri tiap hari. Tapi apa mau dikata, selasa kemarin aku lupa :D 
Tadi siang habis ambil laporan ke lab. melayang-layang aku baca ini :) :) 


nggak jelas ya? gini tulisan jelasnya, 

Praktikumnya lancar kan? he.
Semoga eksplan yang ditanam tumbuh 
sehat n ceria (copas tulisan meli :P)
Semangat u/ pembahasanya yak!
Jangan lupa foto pengamatan ^_^

Mmmm... di paragraf kedua lab. diaryku, aku emang nulis, "Nantinya, kalo Allah meridhoi, aku mau liat eksplan di botol kulturku numbuh sehat dan ceria (aamiin)" dan Mba Asisten nulis kata berhuruf biru yang bikin aku melayang-layang gitu, trus aku langsung dateng ke lab Kultur In Vitro buat ngefoto eksplanku di hari ketiga ini (melawan lupa, hahaha padahal udah lupa sehari, gapapa lha :D) ini hasilnya, 

Makasih buat chika yang udah mau minjemin HP buat ngefotoin ini, tadi hpku lowbat :D


Trus yah, di paragraf ketiga aku sok-sokan nulis gini, "ajari aku menggunakan pena, akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur (Gunadi, 2014). Itu kata Mas Gun alias Kurniawan Gunadi" Kalo aku baca bagian ini, aku menertawai diriku sendiri yang saat itu kena efek keracunan tumblrnya Mas Gun. Aku yang waktu itu dalam keadaan konyol dengan pedenya nulis, "Nah! kalo kata Meliana? Check this out!" 

Kebayang nggak aku nulis apa habis itu? Gini! 


Ajari aku mikropropagasi, akan kuperbanyak tanaman langka secara mikro, akan kuproduksi tanaman dalam skala besar dengan perbanyakan klonal dari berbagai jenis, hingga aku dapat meraih derajat ketakwaan dan ridho-Nya. aamiin^_^
Liat itu! tulisan aamiin yang biru itu, asistenku yang nulis. Bahagia banget lho punya asisten yang bisa sekaligus menjadi motivator. Satu-satunya praktikum yang mengharuskan praktikanya pakai sandal jepit ya praktikum KIVT ini, tujuanya biar kita bisa lebih leluasa keluar masuk lab kultur, sepatu yang umumnya kotor nggak boleh masuk lab kultur!! 

Praktikum ini juga satu-satunya praktikum yang pake lab. diary sebagai pengganti laporan. Tujuanya sama kaya laporan, menerangkan apa yang dilakukan selama praktikum serta materi yang dijelaskan asisten. Tapi, nggak format ada baku yang mengikat dan teknik penulisanya terserah praktikan. Aku praktikan yang paling bahagiaaaaaaaa menghadapi kenyataan ini. Nulis laporan KIVT tuh serasa update tumblr. Serasa bener-bener nulis bersama Allah. Itulah sensainya nulis lab diary, buku big boss yang dilapisi kertas marmer biru dan diberi label pengenal di depanya. Nulisnya masih pakai pena, semua yang aku tulis seolah nempel aja di otakku. 

Praktikum ini yang bikin aku bahagia, dan betah di sini. Terimakasih ya Rabb. Engkau telah mengenalkan aku pada Kultur In Vitro Tumbuhan :) 

Ambil sayap... Terbang melayang-layang :D