05 November 2014

Mba Alikta boleh baca nggak ya? :D

Postingan ini pernah dikirim ke emailya Mba Hasna, ngarep dapet tiket gratis buat talkshow kemuslimahan. Ternyata belum beruntung. Haha.. Mmmm dengan sedikit gubahan sii
Check this out!

Menggenggam Hidayah

Bismillahirrahmanirrahiim …
Salam kenal, Mba Hasna. Panggil saja aku Meliana Moga Yufita. Eh kepanjangen. Panggil Meli aja deh. hehehe…  Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adikku adalah laki-laki. Jadi, aku adalah anak Ayah dan Ibu yang otomatis paling cantik. Aku adalah anak dari keluarga yang sejak aku kecil belum terkondisikan dengan baik (eh????). Ngaji iqro di TPA kujalani hanya untuk memenuhi kewajiban. Yang penting waktu ujian aku bisa baca qur’an. Surat-surat Al Qur’an yang kuhafal selama lima belas tahun aku hidup pun tak jauh-jauh dari juz tiga puluh.  No more than that. Aku adalah salah satu korban yang diperdaya kaum yahudi untuk menuju tatanan dunia yang baru. Tak ada ajaran islam yang kuresapi hingga belasan tahun aku hidup. Bahkan aku mulai cenderung pada sekulerisme, atheisme, dan liberalisme saat mengikuti tim debat bahasa inggris di sekolah. Aku adalah pengagum lagu-lagu barat selama lima belas tahun. 

Aku sangat manyukai taylor swift, selena gomez, justin biber dan Michael Jackson. Tibalah  saat ia datang dan mengenalkan aku pada Maher Zain. Untungnya aku bertemu dengan dia dan menyadari posisiku. Saat usiaku menjelang enam belas tahun, di usia itu Allah membuatku bermetamorfosis sempurna menjadi muslimah yang se-elegan Zinnia elegans.*AlayDikit

“Iya!” Aku mengakuinya. Aku mulai mengakui dengan jelas keberadaan Allah ketika hari itu datang. Hari yang menjadikanku berpindah status dari siswa SMP tingkat akhir menjadi siswa baru di sebuah SMA Favorit di kotaku (eaak). Hari yang tak kusangka membawaku ke perubahan signifikan dalam hidupku. Hari pertamaku jadi siswa SMA. Hari pertama saat aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku jatuh cinta,  saat aku bertemu seorang muslimah berjilbab panjang dan menyejukkah hati. Itulah hari saat aku bertemu Mba Alikta Hasna Safitri. Mba Alikta yang menjadi mentorku saat mentoring. 

Apa itu mentoring? Kukira semacam kegiatan membosankan yang setiap jumat jam 11 hingga jam 1 siang kutemui di lapangan sekolah. Ada sepuluh siswi yang duduk melingkar, mendapatkan materi dari seorang penceramah yang disebut mentor. Hahaha! Sama sekali tidak menarik. Namun, Mba Alikta menggugurkan semua dugaan burukku itu. Akhwat berpandangan multidimensi itu memberiku banyak sekali pandangan baru mengenai islam.Mba Alikta and the genk membuatku menyadari betapa pentingnya islam dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Mba Alikta membuatku selalu mengingat Allah jika melihat wajahnya (??) :D. Melalui Mba Alikta, aku mulai mengerti bahwa islam dan ilmu pengetahuan sebenarnya selalu berjalan beriringan. Aturan islam tak pernah menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Dan dari buku-buku yang Mba Alikta pinjami, aku mulai mengerti betapa Allah mencintaiku. (Inget buku yang judulnya betapa Allah mencintaimu, Saudariku nya Mba Al :D).

Tak hanya belajar tajwid, fiqih, tahsin, tahfidz,  dan ilmu klasik yang terkesan membosankan dalam mentoring. Mba Alikta suka sekali menyelingi materi-materi yang membuat iblis dalam aliran darahku menyuruhku tidur itu, dengan shirah-shirah sahabiyah dan kisah-kisah inspiratif  ilmuwan muslim. Aku jadi berfikir untuk memanggilnya Salim A Fillah junior, hehehe.  Mba Alikta membuat mentoring tidak membosankan dan selalu dirindukan oleh kami para menteenya.

Mba Alikta membuatku menyadari akan pentingnya menyelami islam secara Kaffah, dengan selalu memantau status-status facebookku saat SMA, kemudian menyindir-nyindir aku saat mentoring dan membuatku ‘gagal jadian’ dengan seseorang yang mmmmmmm.. hehehe (aku ke GR'a abanget yak wkwkwk). Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hidupku jika tahun itu aku pacaran dengan si mmmmmmm. Karena setelah resmi kutolak, si mmmmmm itu menjadi laki-laki yang tidak baik. Aku hanya bisa mendoakan si mmmmmm untuk diberi hidayah oleh Allah. Hingga akhirnya tahun ini, anak itu mendapat amanah besar di sebuah lembaga dakwah kampus. Hehehe Mba Al Nggak perlu tau siapa Mmmm itu

Tantangan pertama, Mba Alikta memberiku motivasi untuk berjilbab. Membuatku bertekad untuk selalu istiqomah berjilbab setelah lulus SMA! Awalnya memang berat. Ayah ibu agak keberatan dengan keputusanku. Mereka berkata bahwa aku belum pantas berjilbab, karena jilbab hanya untuk mereka yang sholekhah. Kalau sudah pakai jilbab tapi tidak sholekhah, nanti akan masuk neraka yang paling menakutkan. Kemudian lagi-lagi Mba Alikta membuatku merenung, karena kewajiban untuk menjadi sholekhah itu bukan hanya untuk mereka yang berjilbab, tetapi untuk semua muslim dan muslimah. Justru kalau belum berjilbab dosanya dobel. Yang satu karena belum sholekhah, yang satu nggak memenuhi kewajiban sebagai muslimah untuk berjilbab, yang jelas-jelas tercantum di Al Qur’an. Aku terus berusaha memantaskan diri dan berdoa pada Allah, hingga akhirnya entah energi apa yang membuat ibuku tidak protes sewaktu aku nekat memakai jilbab saat peringatan perpisahan sekolah. Aku sangat bahagia saat itu. Karena itulah hari di mana aku bisa dengan leluasa menjalankan hak dan kewajibanku untuk menjadi muslimah yang berjilbab.

Tantangan kedua adalah saat aku dengan tekad bulat terjun ke dunia dakwah! Ya! Aku masuk ke Unit Kegiatan Mahasiswa Islam saat aku kuliah di fakultas biologi unsoed. Aku mulai berusaha mengenakan jilbab syar’i, merubah gaya jilbabku yang dulunya penuh kupu-kupu dan bunga-bunga menjadi jilbab panjang yang sederhana dan terlihat menyejukkan. Bagaimana kata-kata ibuku? Kamu tuh yah! Kayak teroris aja ikut-ikutan aliran sesat jilbabnya gede-gede gitu!!
Aku diam. Tak kuasa melawan. Menunduk. Menangis sejadi-jadinya, Ya Rabb. Salahkah aku? Jika aku memang salah, beri aku hidayah untuk memperbaiki kesalahanku. Aku terus berdoa pada Allah untuk menerangi keluargaku dengan cahaya iman dan islam. Mba Hasna tau apa hasilnya? Idul fitri kemarin, ibuku memprotesku yang memakai pashmina yang berbunga dan berkupu-kupu. Beliau malah membelikanku jilbab Oki Setyana Dewi’s style. Mba Hasna tau kan panjang jilbab OSD style itu berapa ratus senti? :D Eehehehe di perkembangan blog Mba Al selanjutnya, 'masalah jilbab' nggak terlalu esensial siiii *pisss

Nah! Yang lebih seru itu ya, Mba, Adikku yang kecil dipindah sekolahkan ke TK IT. Baru-baru ini ia mulai menghafal juz tiga puluh lho. Adikku yang besar, yang dulunya suka angin-anginan dan di rumah main sama anak-anak nggak jelas dimasukkan ke sebuah pesantren.  Ya Rabb. Aku mulai sadar betapa sayangnya Rabb-ku padaku, Dia yang mulai menerangi keluargaku dengan cahaya islam. Aku mulai mengerti bahwa buku, Betapa Allah mencintaimu, Saudariku yang dipinjamkan oleh Mba Alikta empat tahun lalu benar-benar dapat bereaksi dengan cepat! Hanya dengan doa rutin usai shalat. :D
Aku tak tahu energi apa yang membuat semua yang Mba Al katakkan benar-benar terekam jelas di otakku. Menjadi lembaran memori yang begitu indah. 

Trus cerita kontraversional di tumblr. Aku serig ngestalk seseorang akhir-akhir ini. Panggil saja ia You know who. Namun aku harus kecewa ketika melihat tingkahnya yang sangat tidak menjaga hijab di depan non-mahrom. Tiba-tiba aku ingat kisah yang disajikan Mba Alikta empat tahun lalu di pinggir lapangan sekolah dekat es klamud, saat Sayyidatina Aisyah R.a difitnah para golongan munafik karena diduga terlibat skandal dengan seorang pemuda bernama Safuan bin Al-Muattal As-Sulami Az-Zakwani,   setelah beliau tertinggal rombongan pasca perang. Turunlah surat An nur ayat 11-12. Hmmm…. Sejujurnya, kisah itu membuatku takut. Aku takut peristiwa yang terjadi antara logika, perasaan, dan firasatku ke You Know Who yang terbunuh beberapa hari lalu itu adalah fitnah. Karena memang aku tidak meminta klarifikasi dari pihak terkait. Semua yang kulihat pure berdasarkan prasangkaku sendiri. Aku takut mengambil bagian yang besar, dan mendapat azab yang besar (pula). Ya Rabb… ampuni hamba-Mu ini. Yang terlalu banyak prasangka. Menduga hal-hal yang bukan-bukan dari kejauhan. Astaghfirullah hal’adzim.. Hmm… *tarik nafas panjang. Aku mau khusnudzon aja ah. Karena ukhuwah yang terkecil adalah khusnudzon. Membuatku mengikhlaskan semua yang terjadi. Menyusun satu demi satu kepingan kekaguman yang telah hancur. Meski aku tak bisa menjamin kekaguman itu akan kembali seperti semula atau tidak. Yang selalu kutahu, aku, You know who, dan semua aktifis dakwah lainya akan terdekap hangat dalam bingkai ukhuwah. Karena di tengah ukhuwah itu ada manisnya iman. Semanis buah-buahan yang disediakan untuk kaum muslimin di jannah-Nya.[1]   

Sebenarnya masih banyak cerita yang ingin aku ceritakan, Mba. Tapi udah dulu yaa. Sebagian juga udah aku ceritain di tumblr. Intinya, Allah memberiku hidayah yang begitu besar melalui mentorku yang paling cantik, cute, frontal, polos, sekaligus jujur ini, Mba Alikta. Aku ingin selalu mencintainya karena Allah dengan menggenggam erat hidayah ini, Mba. Doakan moga tetep keep ON istiqomah ya, Mba. Aamiin. Jazakumullah udah mau baca sampai sini. ditunggu tiketnya. Hehehe … J