Check this out!
Menggenggam Hidayah
Bismillahirrahmanirrahiim …
Salam kenal, Mba Hasna. Panggil saja aku Meliana Moga
Yufita. Eh kepanjangen. Panggil Meli aja deh. hehehe… Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua
adikku adalah laki-laki. Jadi, aku adalah anak Ayah dan Ibu yang otomatis
paling cantik. Aku adalah anak dari keluarga yang sejak aku kecil belum
terkondisikan dengan baik (eh????). Ngaji iqro di TPA kujalani hanya untuk
memenuhi kewajiban. Yang penting waktu ujian aku bisa baca qur’an. Surat-surat
Al Qur’an yang kuhafal selama lima belas tahun aku hidup pun tak jauh-jauh dari
juz tiga puluh. No more than that. Aku adalah salah satu korban yang diperdaya kaum
yahudi untuk menuju tatanan dunia yang baru. Tak ada ajaran islam yang kuresapi
hingga belasan tahun aku hidup. Bahkan aku mulai cenderung pada sekulerisme,
atheisme, dan liberalisme saat mengikuti tim debat bahasa inggris di sekolah.
Aku adalah pengagum lagu-lagu barat selama lima belas tahun.
Aku sangat
manyukai taylor swift, selena gomez, justin biber dan Michael Jackson. Tibalah saat ia datang dan mengenalkan aku pada Maher
Zain. Untungnya aku bertemu dengan dia dan menyadari posisiku. Saat usiaku
menjelang enam belas tahun, di usia itu Allah membuatku bermetamorfosis
sempurna menjadi muslimah yang se-elegan Zinnia
elegans.*AlayDikit
“Iya!” Aku mengakuinya. Aku mulai mengakui dengan jelas
keberadaan Allah ketika hari itu datang. Hari yang menjadikanku berpindah
status dari siswa SMP tingkat akhir menjadi siswa baru di sebuah SMA Favorit di
kotaku (eaak). Hari yang tak kusangka membawaku ke perubahan signifikan dalam
hidupku. Hari pertamaku jadi siswa SMA. Hari pertama saat aku jatuh cinta pada
pandangan pertama.
Aku jatuh cinta, saat
aku bertemu seorang muslimah berjilbab panjang dan menyejukkah hati. Itulah
hari saat aku bertemu Mba Alikta Hasna Safitri. Mba Alikta yang menjadi
mentorku saat mentoring.
Apa itu mentoring? Kukira semacam kegiatan membosankan
yang setiap jumat jam 11 hingga jam 1 siang kutemui di lapangan sekolah. Ada
sepuluh siswi yang duduk melingkar, mendapatkan materi dari seorang penceramah
yang disebut mentor. Hahaha! Sama sekali tidak menarik. Namun, Mba Alikta menggugurkan semua dugaan burukku itu.
Akhwat berpandangan multidimensi itu memberiku banyak sekali pandangan baru
mengenai islam.Mba Alikta and the genk membuatku menyadari betapa pentingnya islam dalam
sendi-sendi kehidupan manusia. Mba Alikta membuatku selalu mengingat Allah jika
melihat wajahnya (??) :D. Melalui Mba Alikta, aku mulai mengerti bahwa islam
dan ilmu pengetahuan sebenarnya selalu berjalan beriringan. Aturan islam tak
pernah menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Dan dari buku-buku yang Mba
Alikta pinjami, aku mulai mengerti betapa Allah mencintaiku. (Inget buku yang judulnya betapa Allah mencintaimu, Saudariku nya Mba Al :D).
Tak hanya belajar tajwid, fiqih, tahsin, tahfidz, dan ilmu klasik yang terkesan membosankan
dalam mentoring. Mba Alikta suka sekali menyelingi materi-materi yang membuat
iblis dalam aliran darahku menyuruhku tidur itu, dengan shirah-shirah sahabiyah
dan kisah-kisah inspiratif ilmuwan
muslim. Aku jadi berfikir untuk memanggilnya Salim A Fillah junior,
hehehe. Mba Alikta membuat mentoring
tidak membosankan dan selalu dirindukan oleh kami para menteenya.
Mba Alikta membuatku menyadari akan pentingnya menyelami
islam secara Kaffah, dengan selalu memantau status-status facebookku saat SMA,
kemudian menyindir-nyindir aku saat mentoring dan membuatku ‘gagal jadian’
dengan seseorang yang mmmmmmm.. hehehe (aku ke GR'a abanget yak wkwkwk). Aku tak bisa membayangkan betapa
hancurnya hidupku jika tahun itu aku pacaran dengan si mmmmmmm. Karena setelah
resmi kutolak, si mmmmmm itu menjadi laki-laki yang tidak baik. Aku hanya bisa
mendoakan si mmmmmm untuk diberi hidayah oleh Allah. Hingga akhirnya tahun ini,
anak itu mendapat amanah besar di sebuah lembaga dakwah kampus. Hehehe Mba Al Nggak perlu tau siapa Mmmm itu
Tantangan pertama, Mba Alikta memberiku motivasi untuk
berjilbab. Membuatku bertekad untuk selalu istiqomah berjilbab setelah lulus
SMA! Awalnya memang berat. Ayah ibu agak keberatan dengan keputusanku. Mereka
berkata bahwa aku belum pantas berjilbab, karena jilbab hanya untuk mereka yang
sholekhah. Kalau sudah pakai jilbab tapi tidak sholekhah, nanti akan masuk
neraka yang paling menakutkan. Kemudian lagi-lagi Mba Alikta membuatku
merenung, karena kewajiban untuk menjadi sholekhah itu bukan hanya untuk mereka
yang berjilbab, tetapi untuk semua muslim dan muslimah. Justru kalau belum
berjilbab dosanya dobel. Yang satu karena belum sholekhah, yang satu nggak
memenuhi kewajiban sebagai muslimah untuk berjilbab, yang jelas-jelas tercantum
di Al Qur’an. Aku terus berusaha memantaskan diri dan berdoa pada Allah, hingga
akhirnya entah energi apa yang membuat ibuku tidak protes sewaktu aku nekat
memakai jilbab saat peringatan perpisahan sekolah. Aku sangat bahagia saat itu.
Karena itulah hari di mana aku bisa dengan leluasa menjalankan hak dan
kewajibanku untuk menjadi muslimah yang berjilbab.
Tantangan kedua adalah saat aku dengan tekad bulat terjun ke
dunia dakwah! Ya! Aku masuk ke Unit Kegiatan Mahasiswa Islam saat aku kuliah di
fakultas biologi unsoed. Aku mulai berusaha mengenakan jilbab syar’i, merubah
gaya jilbabku yang dulunya penuh kupu-kupu dan bunga-bunga menjadi jilbab
panjang yang sederhana dan terlihat menyejukkan. Bagaimana kata-kata ibuku? Kamu tuh yah! Kayak teroris aja ikut-ikutan
aliran sesat jilbabnya gede-gede gitu!!
Aku diam. Tak kuasa melawan. Menunduk. Menangis
sejadi-jadinya, Ya Rabb. Salahkah aku?
Jika aku memang salah, beri aku hidayah untuk memperbaiki kesalahanku. Aku
terus berdoa pada Allah untuk menerangi keluargaku dengan cahaya iman dan
islam. Mba Hasna tau apa hasilnya? Idul fitri kemarin, ibuku memprotesku yang
memakai pashmina yang berbunga dan berkupu-kupu. Beliau malah membelikanku
jilbab Oki Setyana Dewi’s style. Mba
Hasna tau kan panjang jilbab OSD style itu berapa ratus senti? :D Eehehehe di perkembangan blog Mba Al selanjutnya, 'masalah jilbab' nggak terlalu esensial siiii *pisss
Nah! Yang lebih seru itu ya, Mba, Adikku yang kecil dipindah
sekolahkan ke TK IT. Baru-baru ini ia mulai menghafal juz tiga puluh lho.
Adikku yang besar, yang dulunya suka angin-anginan dan di rumah main sama
anak-anak nggak jelas dimasukkan ke sebuah pesantren. Ya Rabb. Aku mulai sadar betapa sayangnya
Rabb-ku padaku, Dia yang mulai menerangi keluargaku dengan cahaya islam. Aku
mulai mengerti bahwa buku, Betapa Allah
mencintaimu, Saudariku yang dipinjamkan oleh Mba Alikta empat tahun lalu
benar-benar dapat bereaksi dengan cepat! Hanya dengan doa rutin usai shalat. :D
Aku tak tahu energi apa yang membuat semua yang Mba Al
katakkan benar-benar terekam jelas di otakku. Menjadi lembaran memori yang
begitu indah.
Trus cerita kontraversional di tumblr. Aku serig ngestalk seseorang akhir-akhir ini. Panggil saja ia You know who. Namun aku harus kecewa
ketika melihat tingkahnya yang sangat tidak menjaga hijab di depan non-mahrom.
Tiba-tiba aku ingat kisah yang disajikan Mba Alikta empat tahun lalu di pinggir
lapangan sekolah dekat es klamud, saat Sayyidatina Aisyah R.a difitnah para
golongan munafik karena diduga terlibat skandal dengan seorang pemuda bernama Safuan bin Al-Muattal As-Sulami Az-Zakwani, setelah beliau tertinggal rombongan pasca
perang. Turunlah surat An nur ayat 11-12. Hmmm…. Sejujurnya, kisah itu
membuatku takut. Aku takut peristiwa yang terjadi antara logika, perasaan, dan
firasatku ke You Know Who yang
terbunuh beberapa hari lalu itu adalah fitnah. Karena memang aku tidak meminta
klarifikasi dari pihak terkait. Semua yang kulihat pure berdasarkan prasangkaku sendiri. Aku takut mengambil bagian
yang besar, dan mendapat azab yang besar (pula). Ya Rabb… ampuni hamba-Mu ini.
Yang terlalu banyak prasangka. Menduga hal-hal yang bukan-bukan dari kejauhan.
Astaghfirullah hal’adzim.. Hmm… *tarik nafas panjang. Aku mau khusnudzon
aja ah. Karena ukhuwah yang terkecil adalah khusnudzon. Membuatku mengikhlaskan
semua yang terjadi. Menyusun satu demi satu kepingan kekaguman yang telah
hancur. Meski aku tak bisa menjamin kekaguman itu akan kembali seperti semula
atau tidak. Yang selalu kutahu, aku, You
know who, dan semua aktifis dakwah lainya akan terdekap hangat dalam
bingkai ukhuwah. Karena di tengah ukhuwah itu ada manisnya iman. Semanis
buah-buahan yang disediakan untuk kaum muslimin di jannah-Nya.[1]
Sebenarnya masih banyak cerita yang ingin aku ceritakan,
Mba. Tapi udah dulu yaa. Sebagian juga udah aku ceritain di tumblr. Intinya, Allah
memberiku hidayah yang begitu besar melalui mentorku yang paling cantik, cute,
frontal, polos, sekaligus jujur ini, Mba Alikta. Aku ingin selalu mencintainya
karena Allah dengan menggenggam erat hidayah ini, Mba. Doakan moga tetep keep
ON istiqomah ya, Mba. Aamiin. Jazakumullah udah mau baca sampai sini. ditunggu
tiketnya. Hehehe … J