10 March 2015

Kerja Peradaban

Aku seringkali tergelitik dengan kata-kata “anak rohis kok ...” kata-kata ini menekankan eksklusivitas dalam tubuh Lembaga Dakwah Kampus, yang justru membuat Aktivis Dakwah Kampus (ADK) bermetamorfosis menjadi Alien Kampus. Kenapa aku tidak memilih kos binaan?? Iya benar. Akhir-akhir ini aku menjadi pemberontak. Penentang konsep kos binaan. Coba kalo semua manusia yang baik-baik n sholeh-sholeh ngumpul jadi satu di sebuah kos’an, kapan akhwat yang ammah itu mau jadi akhwat beneran? Okelah boleh tinggal di Kosbin, tapi tidak untuk selama kalian jadi mahasiswa!
Afwan. Harusnya mengkader laskar dakwah nggak separsial itu, harusnya mereka nggak selamanya memenjarakan diri di kosbin dari maba sampe lulus. Mereka harusnya menyebar ke kos-kos yang ‘biasa-biasa’ aja, biar cahaya islam dapat terdistribusi dengan merata. Bukan malah bangga dengan keterasingan, kalian sendiri yang membuat islam menjadi asing. Jangan menyalahkan keadaan, akuilah autokritik ini untuk setidaknya memperbaiki keadaan. Iya. Islam memang akan kembali asing, tapi selama kita masih bisa berusaha, kemurnian islam di zaman ini masih tetap terjaga tanpa menjunjung dalih aliensi kan??
Masalah penjagaan, zaman sudah canggih! Ada HP sampai video call. Liqo? Masih sanggup kan setidaknya sepekan sekali? MR tak harus overprotektif dengan menjaga adik kesayangannya selam 24 jam full dari maba sampe lulus di kosbin, adik ini juga harus bisa menjaga adik-adiknya nantu. Cukup tingkatkan kesadaran mereka untuk menjaga diri. Estafet dakwah harus tetap berjalan. Kita tak bisa hanya mengendalikan kondusivitas ‘kos biasa’ aja dari luar kamar kan?   
Aku memang paling benci kalo ada yang bilang, “ADK kok pacaran” atau “ADK kok nyontek!” Sadarlah, Islam itu rahmatan lil ‘alamin, bukan cuma milik ADK. Kader ada di lembaga dakwah itu mbela islam, bukan mbela wajihah mereka. Jilbab bukan cuma milik akhwat di Lembaga Dakwah itu, tapi seluruh muslimah. Aku  suka menentang konsep parsialis, eksklusivitas, aliensi atau apalah  itu dengan konsep universalitas yang memang melekat sejak islam lahir.
Tentu akan ada perspektif yang berbeda  saat kita melihat kasus ADK pada boncengan padahal beda kromosom, dan ‘anak biasa’ a.k.a bukan ADK cewe-cowo pada boncengan.
Iya! ADK itu seperti ‘malaikat’ kok sepintas. Mereka adalah makhluk-makhluk yang hatinya digerakkan oleh Allah untuk membela agama-Nya. Kurang keren apa cobaa??? Tapi kita tetap tidak bisa menolak fakta kalau ADK & Non ADK sama-sama manusia beragama islam. Iya. ADK itu kenyataanya ya hanya manusia yang juga beragama islam, bukan malaikat!
Beda emang cara nasihatin anak yang sudah terbina secara intensif dengan mereka yang belum tau landasan fundamental kenapa nggak boleh boncengan dengan makhluk beda kromosom. Kalaupun mereka sudah terbina dan mengerti, bukan berarti mereka pasti memahami dan mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan. Tugas kita sebagai sahabat seperjuangan ya hanya sebatas mencari cara kreatif untuk menumbuhkan kesadaran, mengingatkan, dan mendoakan secara terus menerus. Kita juga tak boleh lelah mengajak mereka yang ‘anak biasa’ untuk berbuat baik n memperbaiki diri, itulah yang disebut kerja peradaban.

 Artikel ini ditulis saat aku masih semester tiga. Hahah ... sekarang gembok private post itu terpublish juga. Semoga bermanfaat! ^^

05 March 2015

Kisah Ruang Gelap untuk Rin

Hai, Rin!! Mmmm ... aku ingin bercerita tentang ruangan gelap.

Di bukit nan jauh, ada sebuah ruangan gelap. Orang-orang biasa masuk dan keluar ruangan itu. Ada yang masuk dengan tersenyum, ada pula yang masuk dengan menangis. Keluarnyapun ada yang tersenyum, dan adapula yang menangis. Kita tak pernah tau seperti apa bentuk dalam ruang gelap itu sebelum kita memasukinya. Aku ingin bercerita tentang beberapa orang yang memilih untuk tetap berada di ruangan itu dan memilih pergi saja.

Pertama adalah seseorang yang tujuh turunan atasnya memang menetap di sana, seperti sebuah dinasti yang menetap di sebuah istana. Ia hidup bahagia bak putri atau raja di ruang itu.

Kedua, orang polos yang bingung. Ia bingung harus berbuat apa ketika memasuki sebuah wilayah asing baginya. Ruang itu setidaknya memberikan space bagi orang kedua untuk berteduh.

Ketiga, orang yang memilih ruang itu di antara baaanyaaaak pilihan yang tersaji. Kau tahu apa jadinya?? Ia masuk dalam keadaan tersenyum, dan keluar dalam keadaan menangis. Ia kecewa. Karena ruangan itu tidak memberikan apa yang ia harapkan. Keempat, orang yang memiliki perasaan yang berkebalikan dengan orang yang ketiga. Bisa dibilang kelanjutan kisah orang ketiga. Ia pergi dari ruangan lain, menuju ruangan itu. Apa yang ia dapat? Kecewa juga.Tanpa ia sadari bahwa semua ruangan di dunia ini pasti memiliki sisi negatif dan sisi positif. Kata Mas Gun, jika ingin mencintai dengan sempurna jangan awali dengan perbandingan. Buang-buang energi.

"Ayolah kawan! Kita hanya manusia. Bukan Tuhan!! Tentu kita tak harus mendapatkan hal yang sempurna tanpa cela." 

Orang yang kelima adalah orang yang sangat mencintai ruangan yang ia tinggali itu. Ia membabi buta membela ruangan itu meski semua orang di dunia mencaci kegelapannya. Apa itu baik?? Tentu saja menjijikan!! Akal sehatnya telah dimutilasi oleh cinta  tepatnya taklid. Pikirannya tertutup, Pandanganya sempit.

Orang yang keenam adalah mereka yang mengetahui kegelapan dalam ruangan itu, Pergi ke ruangan lain (awalnya) menjadi pilihan yang tepat. Mungkin memang lebih nyaman di ruang sebelah, tapi semakin jauh ia meninggalkan ruangan itu, ruangan itu akan terlihat semakin gelap. Matanya akan semakin sakit menatapi kegelapan. Karena itulah mereka kembali. Menetap di ruangan itu dan menyalakan lilin. Ruang itu bukan lagi menjadi pilihan, tapi tujuan. Ruang itu tak hanya tempat singgah, tapi rumah.



The Slipery Slop

Hai Beta,
Aku menulis tentangmu di sini. Kenapa tidak di wordpress? aku mood di sini. Kuyakin kau masih ingat waktu yang pernah kukalkulasikan denganmu. Hahah.. anggap saja itu idealismeku. Karena realismenya begini :

Haahah... sangat menyedihkan. Idealnya aku mengambil paling tidak 23 sks semester ini. Tapi apa??? Aku hanya mampu mengambil 22 sks. Bukan karena IP, Beta. Tapi waktu. Kelas Mikroteknik B full. Aku jadi ambil Mikroteknik kelas A. Akibatnya, Pengandalian Hayati kelas yang pertama bentrok Mikroteknik. Kemudian pengendalian hayati kelas kedua bentrok dengan Limnologi. Aku nggak jadi ambil PH dan memutuskan buat ngulang Biologi Sel. Ini pertama (dan semoga yang terakhir kalinya) aku  ngulang. Rasanya?? Bertiga di kelas yang asing bersama adik angkatan? Malu? Kocak? Aaaaaaa..... semua bercampur jadi satu. Ada semacam tekanan psikologis. Tapi materinya terlihat tidak lebih sulit dari yang dulu. Optimis!!! (y)

Bukan takabur, Beta!!! Aku hanya berusaha berfikir positif. Semoga aku mampu memetik hikmah dari kegagalan kalkulasi waktu yang slipery slop (sebut saja berdampak sistemik) ini. Mata Kuliah Biologi Sel yang kuambil semester ini bukan hanya mengulang dan memberikan sekadarnya. Pokoknya Minimal A!!! 

IP Oriented???!!! No!!! Aku bukan binatang ternak yang hanya diam dan senyum-senyum sendiri saat melihat huruf A di KHS. Aku adalah tipe manusia yang mampu mempertanggungjawabkan intelektualitas di balik huruf-huruf itu!!!

Dapet A? Kadang bukan Alhamdulillah yang reflek terucap  Kok bisa?? Oh iyaa... waktu UAS, UTS, Tuter, Presentasi dkk kan aku emang lagi hepi. Alhamdulillah ya Rabb... :D
Dapet B? Alhamdulillah daripada C
Dapet C?? Ngulang nggak yaaa??? Ooooy!!! Alhamdulillah dulu daripada dapet D atau E!!! Lebih cenderung males ngulang. Hahahah... aku emang lebih suka menikmati kekayaan Mata Kuliah Pilihan di kampus daripada ngulang, istilahnya buang-buang waktu. Dosen PA ku juga bilang kalo masih C ngga usah ngulang :P
Dapet D? Dapet E?? Alhamdulillah Allah menyelamatkan. Karena nilai minimal yang aku dapet sampe detik ini itu C. I am Save!!!

Hahahah!! Aku masih sangat angkuh kan, Beta? Tak apa laaah!! Daripada aku menghabiskan waktu untuk memaki-maki manusia yang membuat moodku hancur :P

Aku mempertanyakan keangkuhanku sendiri. Bukankah orang gila tak akan menyebut dirinya gila??