“Beep…Beep…!!!”
HP ku berdering. Ada email masuk. Panitia Lomba Cerpen
Penerbit Mafaza Media sudah mengirim cerpen yang harus kunilai. Ada 100 cerpen.
Aku dimintai tolong untuk mengurutkan cerpen-cerpen itu mulai dari cerpen yang terbaik.
Dan memilih 20 cerpen terbaik di antara 100 cerpen ini. Tiga tahun yang lalu
aku sangat rajin mengikuti berbagai lomba menulis cerpen yang diadakan oleh
berbagai penerbit. Kini, satu demi satu penerbit yang pernah menerbitkan
cerpenku mulai mendatangi inbox email
ku. Aku mulai Move ON dari zona
kontestan ke zona juri. Alhamdulillah.. Betapa
besar karunia Allah.
Aku mengalihkan
pandangan. Menatap tumpukkan sertifikat,
piagam, dan tropi berbagai ukuran yang terpajang dalam lemari kaca di kamarku.
Ada satu sertifikat yang sengaja ku bingkai. Sertifikat yang menjadi titik
awalku untuk semangat menulis, sertifikat Training Kepenulisan UKMI.
Tepat beberapa minggu setelah training kepenulisan itulah cerpen keduaku terbit,
disusul cerpen ketiga, dan seterusnya.
Allah memberi
hidayah pada jemariku untuk konsisten menari di atas keyboard melalui acara
special ini. Acara yang diisi oleh dua mahasiswa berprestasi dan diliput secara
streaming oleh https://purwokerto.tv.
Beberapa menit setelah training kepenulisan, aku menemukan banyak sekali lomba
menulis cerpen saat login facebook. Hatiku pun tergerak untuk mengikuti lomba
itu. Dan subhanallah… Allah
menunjukkan jalanku di sini. Jalan di mana aku dapat menuangkan inspirasiku.
Aku mulai
membaca satu demi satu cerpen kiriman mafaza media. “Assalamu’alaikum… Ya Akhi, Ya Ukhti…..”tiba-tiba Hp ku bedering.
“Assalamu’alaikum. Kenapa, Bu?” kataku santai. Sejurus kemudian, teh yang ku
seruput hampir kusemburkan, “Apa? Ibu sudah di terminal?” Pekikku kaget, sangat
panik, dan sangat terkejut. Semua rasa itu bercampur jadi satu. Aku segera
meraih kunci motor di atas almari dan bertolak ke terminal. Menjemput Ibu yang
tiba-tiba sudah sampai di Purwokerto tanpa memberi kabar dulu.
Benang-benang
kuning merajut putihnya awan di angkasa. Aku menikmati manisnya pisang goreng
buatan ibu di depan laptop. Sambil membaca cerpen yang sudah ke 90. Ibu
mengamatiku yang membaca sebegitu banyak dokumen di depan laptop. Ibu tersenyum
di seberang meja sana. Lalu menyeruput teh manisnya seraya berkata, “Hmmm…
penelitian kamu gimana?”
Inilah salah
satu pertanyaan sensitif bagi sebagian mahasiswa pascasarjana tingkat akhir.
Namun dengan santai ku jawab, “Alhamdulillah lancar, Bu. Minggu depan udah siding
tesis kok.”
“Alhamdulillah…Oh
ya perkembangan bisnis kamu gimana?”
“Mmm… Bukanya Ayu udah cerita ya, Bu? Bulan
depan Ayu mau....”
“Iya.. ibu
masih ingat cerita kamu kemarin malam.” Ini adalah kali pertama dalam hidupku,
ibu memotong kata-kataku. “Nak, bulan depan kamu akan membuka cabang Ayam
Kepruk Haltob
di Semarang. Minggu depan, tepat setelah sidang tesismu, kamu akan meresmikan
outlet Hijab Ceria
ketigamu. Beberapa saat lagi kamu akan meraih gelar master….” Tiba-tiba kata-kata
ibu terhenti. Aku masih menunggu kata-kata selanjutnya. Ibu menyeruput teh
manisnya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
Aku hanya
tersenyum. Mengalihkan pandanganku dari laptop. Siap menyimak kata-kata ibu
selanjutnya. “Nak, ibu sudah tua. Kamu adalah anak ibu satu-satunya. Ibu sangat
bersyukur kamu kini menjadi wanita yang sukses di bidang akademik, menjadi penulis,
dan sukses berbisnis, Tapi…” Lagi-lagi kata-kata ibu mengambang. Ada raut
keraguan di wajah ibu.
“Tapi kenapa,
Bu? Katakan saja.” Responku. Berusaha menghapus raut keraguan di wajahnya.
Ibu terlihat
menata kata demi kata sehati-hati mungkin.“Mmmm…. Maaf ya, Nak. Bukanya ibu
kurang bersyukur. Ibu sangat bangga dengan pencapaianmu selama ini. Sebagai
wanita yang cerdas, tentu kamu tahu betapa pentingnya hal ini. Sebenarnya
harapan terbesar ibu saat ini adalah
melihatmu menyempurnakan setengah dienmu.”
Aku terpaku
mendengar kata-kata ibu. Lidahku tercekat. Tak ada sepetah kata pun yang mampu
ku katakan meskipun sedari dulu aku begitu lihai memilih diksi. Saat ini, tak
terlintas kata menyempurnakan setengah dien sedetikpun di fikiranku. Karena
memang tak ada kecenderungan sedikitpun pada lelaki manapun. Ibu pun ikut
tersenyum. Membelai jilbabku dengan lembut seraya berkata, “Bagaimana, Nak? Apa
kamu sudah ada pandangan atau kecenderungan pada seseorang?”
Aku menggeleng,
namun aku tak mungkin membiarkan kekecewaan terbit di wajah ibu. Aku pun
berkata, “Maaf. Ayu bingung, Bu. Tapi Ayu akan usahakan sesegera mungkin…”
“Alhamdulillah…”
Ku rasakan kelegaan di hati ibu. “Nak, ibu lelah. Ibu istirahat dulu yaa.” Kata
Ibu seraya berlalu menuju kamar.
Sementara aku
kembali melanjutkan cerpen yang ku baca. Ini adalah cerpen ke 99. Cerpen ini
berjudul satu kata, “Rindu” sangat tidak menarik. Kebetulan lomba cerpen ini
bertemakan cinta. Cerpen pertama hingga ke 98 pada dasarnya menceritakan dua
sejoli yang saling mencintai dengan ending
menyatu dengan bahagia, atau merana karena cinta yang bertepuk sebelah tangan,
salah satu tokoh meninggal, dan adanya orang ketiga. Ku kira penulis
menceritakan cinta jarak jauh yang dihiasi rindu mengharu-biru.
Cerpen ke 99
ini diawali dengan sebuah kata yang biasanya menjadi akhir dari sebuah kalimat,
“Titik!” Awal yang berhasil menyihir pembaca untuk membaca lagi dan lagi sampai
akhir. Cinta yang disajikan penulis ini memiliki dimensi yang berbeda dengan
cinta pada umumnya. Cinta yang mengisahkan rindu sang penulis pada seseorang
yang entah siapa dan di mana saat ini.
Seseorang yang namanya rahasia namun ada di masa depan penulis.
Cinta sang penulis pada sebuah nama yang terukir begitu dalam di lauhul
mahfudz, yang keagunganya menembus langit ke tujuh. Cinta karena Allah
subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba ada rasa yang menyusup dalam hati ketika aku
membaca kata demi kata yang disajikan penulis dalam cerpennya. Apakah nama itu adalah namaku?
Astaghfirullah.
Aku segera beristighfar atas kekhilafanku. Berharap pada seseorang yang bahkan
namanya saja aku tak tahu. Ya Rabb, apakah
aku jatuh cinta pada penulis itu? Astaghfirullah…
biarlah cinta ini jatuh pada orang yang selayaknya, Ya Rabb. Kembali aku
beristighfar atas timbulnya rasa yang tidak selayaknya itu.
Setelah membaca
cerpen ke 100. Akhirnya aku memutuskan 20 cerpen terbaik versiku. Dan gelar
cerpen terbaik ku berikan pada cerpen ke 99. Pagi itu aku mengirimkan hasil
penilaianku pada panitia.
“Wa’alaikumsalam.
Jazakumullah khairan katsir, Mbakku cantik. Ini Dewi yang lagi ngadmin..
hehehe... Sebelumnya barakallah yah atas sidang tesis Mba Ayu hari ini. Honor
ditransfer ntar malem Insya Allah J.
Begitulah respon panitia menanggapi hasil kerjaku sekaligus pemberian selamat
atas sidang tesisku
Tak seperti
biasanya, setelah mengirim hasil penilaianku, masih ada rasa janggal yang
bercokol di hati. Siapa gerangan penulis cerpen ke 99 itu?? Karena kebetulan
adminya sesama perempuan, aku pun mememberanikan diri untuk menulis, :
Afwan
Dek Dewi, honornya buat Kas Mafaza Media aja. Sebagai gantinya, kasih tau mba
donk nama penulis cerpen ke 99. Hehehe.. Aku benar-benar
dibuat penasaran oleh penulis cerpen ke 99 itu.
Ibu masih di
kontrakanku. Beliau bertekad datang ke sidang tesisku meskipun sudah kuhimbau
untuk istirahat saja, kondisi badan ibu tidak terlalu fit hari ini. Aku pun berangkat
dengan ditemani ibu ke ruang seminar fakultas biologi pagi ini. Teman-teman,
adik kelas dan beberapa dosen memberiku ucapan selamat. Ba’da Ashar aku
meresmikan outlet hijab ceria ketigaku sekaligus membuka acara Grand Opening
Hijab Ceria dengan pemotongan pita. Lagi-lagi ibuku yang mendampingiku memotong
pita.
“Nak, bulan
depan yang ndampingin kamu motong pita di Ayam Kepruk Haltob Cabang Semarang
suamimu yaa. Jangan ibu terus.” Aku merespon kata-kata ibu dengan senyum geli.
Ba’da magrib,
Akh Fatih dan kedua orang tuanya datang ke kontrakanku. Ayah dari Akh Fatih
adalah Investor terbesar Ayam Kepruk Haltob yang ku kelola. Wajar jika selagi
ada ibuku di sini, mereka bersua untuk menyambung tali silaturahmi. Akantetapi,
setelah beberapa saat berbasa-basi, disampaikanlah keperluan mereka,
“Sebenarnya, maksud kedatangan kami ke sini, selain untuk menyambung tali
silaturahmi, juga ingin mengkhitbah Neng Ayu untuk Fatih, anak kami.”
Aku dan ibu pun
terkejut. Dengan harap-harap cemas, aku meminta waktu beberapa hari untuk
istikharoh. Mereka pun berkenan menungggu jawabanku seminggu kemudian. Hari
demi hari berlalu. Malam demi malam kuhabiskan untuk tahajud dan istikharoh.
Ibu masih saja menemaniku untuk menghabiskan sepertiga malam.
“Nak, kau sudah
menemukan jawaban yang pasti?” Itulah pertanyaan yang selalu ibu ajukan habis
shubuh dan membaca al matsurat.
Aku menggeleng
tak berdaya. Diam. Tak ada yang bisa ku katakan. Ini sudah hari ke enam. Besok
ba’da Magrib aku harus memberi jawaban pasti. Hingga detik ini, Dek Dewi belum
juga menjawab emailku. Pertanyaan besar mengenai siapa penulis cerpen no 99
belum juga terjawab. Pertanyaan itulah yang menimbulkan keraguan dan membuatku
begitu gelisah.
“Nak, apa yang
membuatmu ragu?”
“Ibu…
sebenarnya…” Entah energi apa yang membuatku tak mampu berkata apa pun. Aku tak
mungkin menceritakan kegundahanku yang tidak masuk akal itu pada ibu. Bagaimana
bisa aku mencintai seseorang hanya dari tulisanya saja. Bagaimana bisa aku
jatuh cinta pada seseorang hanya dengan membaca cerpen karanganya saja. Bahkan
aku tak tau siapa namanya. Dan bahkan aku tak mengetahui apakah dia lelaki atau
perempuan. Bisa jadi ini bukan cinta. Bisa jadi ini hanya panah iblis yang
melukai hati.
“Sebenarnya
apa, Nak?” Tanya ibu penasaran.
Aku menggeleng,
menangis, dan memeluk ibuku erat-erat. Masih dalam balutan mukena. Ibu mengelus
pipiku, membalut air mataku sambil berkata, “Apa kau takut, Nak? Apa kau merasa
belum mampu dan kuat?”
Aku diam
membisu. Menatap ibu lekat-lekat.
“Nak, menikah
itu shunnah Rasul yang sangat dianjurkan. Niatkanlah pernikahan yang akan kamu
jalani itu semata-mata sebagai bentuk ketakwaan pada Allah. Insya Allah akan
memampukan. Allah akan menguatkan.” Kata Ibu menguatkanku. Menepuk pundakku
mantap. Aku tersenyum. Memegang tangan ibu. Lalu mencium telapak tanganya.
Namun aku tahu, wanita sepeka ibu masih melihat seuntai kabut keraguan di
wajahku. Wajah yang ku jatuhkan di
pangkuanya.
Ibu mengelus
rambutku dan berkata lembut, “Atau kau meragukan Nak Fatih?” Kata Ibu. Lalu
menghela nafas. “Nak, tak ada yang perlu kau ragukan dari Nak Fatih. Ia pemuda
yang baik, sholeh, sukses, dan cerdas. Bukankah kamu juga pernah menceritakan
kekagumanmu pada Nak Fatih. Ia yang menjadi Hafidz, meraih gelar Master di
Universitas Al Azhar, Chairo, dan kini bekerja sebagai direktur perusahaan
Syariah. Nak Fatih juga berasal dari keluarga baik-baik. Insya Allah ia cocok
untukmu, dan engkau pantas untuknya. Apalagi yang membuatmu ragu?”
Kata-kata ibu
sungguh mendamaikan jiwa. Aku terbangun dari pangkuanya, kemudian berusaha
memantapkan diri untuk berkata, “I.insya Allah Ayu sudah mantap, Bu. tidak ada
lagi yang membuat Ayu ragu.” Dan aku pun tenggelam dalam hangatnya dekapan ibu
di pagi yang dingin itu.
Seminggu
kemudian, akad dan walimatul ursy digelar di Masjid Agung Cirebon. Setelah aku
mencium telapak tanganya, aku resmi menjadi kekasih halalnya. Inilah jatuh
cinta yang sesungguhnya. Cinta yang jatuh pada yang selayaknya. Pada seseorang
yang menghalalkan ikatan cinta dengan akad nikah, Mas Fatih kini menjadi suamiku,
menyempurnakan setengah dienku.
“Beep Beep!” Hp
ku berdering, tanda ada email masuk.
Afwan
mba telat banget njawabnya. Dewi baru ngadmin lagi nih. Padahal kemarin
pengarangnya baru buka email ini. Pengarang cerpen no 99 itu PJ lomba cerpen
ini, Akh Muhammad Al Fatih. Oh iya hari ini kan Mba menyempurnakan setengah
Dien mba sama beliau. Barakallahu fii kum ya, Mba. Semoga dapat membangun rumah
tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. J
Jazakillah,
Ukhti Shalikha. Aku tersenyum setelah membaca
email Dewi. Ternyata tanpa sadar aku sudah jatuh cinta pada Mas Fatih sebelum
aku menikah denganya. Untung sekarang ia telah menjadi kekasih halalku.
“De, Ade
penasaran banget en ngefans banget ya sama penulis cerpen no 99?”
“Nggak cuma
ngefans kok. Naksir malah.” Sontak jawabanku membuat Mas Fatih kaget. “Dia kan
sekarang ada di hadapan Ade. Barusan Dek Dewi udah ngasih tau faktanya! Kenapa
coba kemarin habis buka email mafaza media, tapi kok email Ade nggak dijawab?”
Mas Fatih mencubit kedua pipiku dengan kedua tanganya, lalu
mendekatkan wajahnya pada wajahku. Sebelumnya aku tak pernah berbicara sedekat
ini dengan lelaki. Tentu saja perilakunya membuat jantungku berdebar begitu
hebat. Dalam jarak kurang dari 15 cm, ia berkata, “Biar bikin penasaran donk,
Sayang.” Jarak wajahku dan wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan tiap
nafas yang ia hembuskan, “ Jadi ade udah naksir mamas sebelum menikah dengan
mamas?” Tanyanya memojokkan.
“Kalo iya
kenapa?” Jawabku. Kembali menantangnya. Tak
ada masalah kan? Toh sekarang aku sudah resmi jadi istrinya. Kataku
memantapkan diri dalam hati.
“Mmmm.. Kalo
iya berarti kita 1-1. Impas” katanya kemudian menghela nafas. “Sebenernya Mamas
naksir Ade juga gara-gara mamas baca tiap kata yang Ade rangkai dalam cerpen Ade.
Bahkan sejak pertama kali Ade mengikuti lomba cerpen yang diadakan Mafaza
Media. Udah lama banget. Bahkan Mamas selalu kangen sama cerpen Ade saat Mamas
di Chairo. Lama-lama Mamas ngerasa sakit banget kelamaan memendam perasaan ini.
Akhirnya sore itu, mamas memberanikan diri untuk mengkhitbah Ade.”
Aku mencubit
hidungnya, lalu mendorong wajahnya ke belakang. Mencoba mereduksi ketegangan
syaraf-syarafku, “Hmmm… berarti Mamas pinter yaa.. Pinter memendam rasa.”
“Dan Ade paling
nggak pinter memendam rasa. Buktinya langsung ketahuan lewat email. Hehehe..”
“Eh… gini-gini
Ade juga bisa mbedain antara Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad
Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam dan Muhammad Al Fatih di depan Ade.”
“Ahahaha… Ya
jelas beda lha. Emang menurut Ade bedanya apa coba??”
“Kalo Muhammaad
Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam
menaklukan konstatinopel, Muhammad Al Fatih di depan Ade menaklukan hati Ade,
dan kalo Ade mau menaklukkan dunia dengan goresan pena”
“Hmmm… aamiin… Sebelum Ade menaklukkan dunia
dengan goresan pena, taklukkan dulu hati Mamas malam ini…” Kedua tanganya
menyentuh masing-masing tepi dari kedua pipiku, dan wajah kami saling mendekat.
Ini adalah malam terindah yang Allah anugerahkan pada kami.
Biodata
penulis
Nama saya
Meliana Moga Yufita. Nama Pena Ukhti Shalikha. Alamat Bakulan Rt 06/03,
Kemangkon, 53381, Purbalingga, Jateng. Nomor HP 085310359210, Twitter
@meliyufita, sedang menjalani study
S1 di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, semester 5. Memiliki Visi menjadi penakluk seperti Muhammad Al Fatih. Tapi
menaklukan dunia melalui goresan pena. Cerpen
yang pernah diterbitkan : Ippho junior dalam Antologi Cerpen Indigenus (Inovasi dan Kreasi Generasi Muslim) UKMI
Fabio Unsoed dan Zinnia elegans dalam
Antologi FF Tumbuhan Penerbit Panji. Pernah menjadi Runner up lomba menulis cerpen berbahasa
inggris antar fakultas dalam English
Festival, yang diadakan oleh BESt (Biology
English Society). Syukron! J
Azzzz!!! Mau bikin cerpen buat Indigenus UKMI malah nulis2 cerpen yang jadinya beginian... Mel Mel!!!!