Tinjauan Pustaka
Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang
entah siapa dan dimana saat ini. Untukmu yang jauh disana, terkadang mata ini
iri kepada hati, karena kau ada di hatiku namun tak tampak di mataku. Aku tidak
memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih ingin menunggumu, meski kau
tak pernah meminta untuk di tunggu dan diharapkan. Hati ini meyakini bahwa kau
ada, meski entah di belahan bumi mana. Yang aku tahu, kelak aku akan
menyempurnakan hidupku denganmu, disini,di sisiku. Maka, saat hatiku telah
mengenal fitrahnya, aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang di
cintaiNYA. Sekalipun kita belum pernah bertemu, mungkin saat ini kita tengah
melihat langit yang sama, tersenyum menatap rembulan yang sama.Disanalah,
tatapanmu dan tatapanku bertemu. (tausiyah cinta, 2014)
Langsung loncat ke pembahasan :D
Aku ingin menjadi satu-satunya alasan mengapa sampai saat
ini engkau tetap menjaga izzahmu, seperti aku menjaga izzahku untukmu. Aku
ingin suatu hari nanti menjadi satu-satunya alasan mengapa kita harus bangun
sangat pagi, shalat shubuh jama’ah dan kalau perlu memasak di dapur bersama,
sebelum karir dan pekerjaan, menuntut kita untuk pergi dari rumah. Ah! Mungkin
harapanku terlalu tinggi.
Tausiyah cinta bilang, terkadang mata ini iri pada hati.
Hati ini merasakan keberadaanmu, tapi engkau tak tampak di
mataku.
Untukmu yang masih jaaaaaauh di sana,
Terkadang aku malah iri pada ibu-ibu kantin di depan
fakultasku, suami ibu itu adalah tukang fotokopian di yang kiosnya juga di samping
kios sang ibu. Aku tau nama suaminya, namanya Pak Paijo, sangat populer
menyandang gelar “tukang fotokopian depan Fabio”. Anaknya yang terkecil bernama
Dicky. Jam lima kurang sedikit mereka biasa pulang naik motor bertiga, sang ibu
memakai baju merah, Dicky memakai baju kuning, dan Pak Paijo memakai Baju Ijo
(kayak namanya kan? Pak PaIJO. hahaha), helm mereka pun senada dengan baju
masing-masing. Merah-Kuning-Ijo. Sangat mirip pelangi yang dilagukan anak-anak.
Aku biasa menyebut mereka keluarga pelangi saking so sweetnya.
Sedangkan aku masih terpaku dengan merahku. Merah wajahku
yang seringkali kusembunyikan. Menahan derap hati yang memang tak seharusnya
berderap. Aku iri pada pelangi yang terlihat makin menawan dengan warna-warna
khasya. Aku ingin engkau membuat hidupku lebih indah, seperti merah membutuhkan
kuning dan hijau untuk memancarkan pesonanya. Aku memang selalu menantikanmu di
batas waktu, seperti engkau yang ku yakin akan menjemputku di batas waktu
nanti. Dengan berani, datang pada kedua orang tuaku untuk mengkhitbahku dan
menjadikanku kekasih halal. *jiaaaah :D
No comments:
Post a Comment