02 November 2014

Abaikan

Post ini pernah dipublish di FB ku yang udah deactivated, salah satu karya terbaik di revolusi cinta Mahasiswa yag diadain UKI AL Fatih duluuuu bangetz.. Gaje Lho. HHa

Tinjauan Pustaka
Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang entah siapa dan dimana saat ini. Untukmu yang jauh disana, terkadang mata ini iri kepada hati, karena kau ada di hatiku namun tak tampak di mataku. Aku tidak memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih ingin menunggumu, meski kau tak pernah meminta untuk di tunggu dan diharapkan. Hati ini meyakini bahwa kau ada, meski entah di belahan bumi mana. Yang aku tahu, kelak aku akan menyempurnakan hidupku denganmu, disini,di sisiku. Maka, saat hatiku telah mengenal fitrahnya, aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang di cintaiNYA. Sekalipun kita belum pernah bertemu, mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama, tersenyum menatap rembulan yang sama.Disanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu. (tausiyah cinta, 2014)
Langsung loncat ke pembahasan :D
Aku ingin menjadi satu-satunya alasan mengapa sampai saat ini engkau tetap menjaga izzahmu, seperti aku menjaga izzahku untukmu. Aku ingin suatu hari nanti menjadi satu-satunya alasan mengapa kita harus bangun sangat pagi, shalat shubuh jama’ah dan kalau perlu memasak di dapur bersama, sebelum karir dan pekerjaan, menuntut kita untuk pergi dari rumah. Ah! Mungkin harapanku terlalu tinggi.
Tausiyah cinta bilang, terkadang mata ini iri pada hati.
Hati ini merasakan keberadaanmu, tapi engkau tak tampak di mataku.
Untukmu yang masih jaaaaaauh di sana,
Terkadang aku malah iri pada ibu-ibu kantin di depan fakultasku, suami ibu itu adalah tukang fotokopian di yang kiosnya juga di samping kios sang ibu. Aku tau nama suaminya, namanya Pak Paijo, sangat populer menyandang gelar “tukang fotokopian depan Fabio”. Anaknya yang terkecil bernama Dicky. Jam lima kurang sedikit mereka biasa pulang naik motor bertiga, sang ibu memakai baju merah, Dicky memakai baju kuning, dan Pak Paijo memakai Baju Ijo (kayak namanya kan? Pak PaIJO. hahaha), helm mereka pun senada dengan baju masing-masing. Merah-Kuning-Ijo. Sangat mirip pelangi yang dilagukan anak-anak. Aku biasa menyebut mereka keluarga pelangi saking so sweetnya.

Sedangkan aku masih terpaku dengan merahku. Merah wajahku yang seringkali kusembunyikan. Menahan derap hati yang memang tak seharusnya berderap. Aku iri pada pelangi yang terlihat makin menawan dengan warna-warna khasya. Aku ingin engkau membuat hidupku lebih indah, seperti merah membutuhkan kuning dan hijau untuk memancarkan pesonanya. Aku memang selalu menantikanmu di batas waktu, seperti engkau yang ku yakin akan menjemputku di batas waktu nanti. Dengan berani, datang pada kedua orang tuaku untuk mengkhitbahku dan menjadikanku kekasih halal. *jiaaaah :D 


No comments: