02 November 2014

Muhammad Al Fatih


“Beep…Beep…!!!” HP ku berdering. Ada email masuk. Panitia Lomba Cerpen Penerbit Mafaza Media sudah mengirim cerpen yang harus kunilai. Ada 100 cerpen. Aku dimintai tolong untuk mengurutkan cerpen-cerpen itu mulai dari cerpen yang terbaik. Dan memilih 20 cerpen terbaik di antara 100 cerpen ini. Tiga tahun yang lalu aku sangat rajin mengikuti berbagai lomba menulis cerpen yang diadakan oleh berbagai penerbit. Kini, satu demi satu penerbit yang pernah menerbitkan cerpenku mulai mendatangi inbox email ku. Aku mulai Move ON dari zona kontestan ke zona juri. Alhamdulillah.. Betapa besar karunia Allah.
Aku mengalihkan pandangan. Menatap  tumpukkan sertifikat, piagam, dan tropi berbagai ukuran yang terpajang dalam lemari kaca di kamarku. Ada satu sertifikat yang sengaja ku bingkai. Sertifikat yang menjadi titik awalku untuk semangat menulis, sertifikat Training Kepenulisan UKMI[1]. Tepat beberapa minggu setelah training kepenulisan itulah cerpen keduaku terbit, disusul cerpen ketiga, dan seterusnya.
Allah memberi hidayah pada jemariku untuk konsisten menari di atas keyboard melalui acara special ini. Acara yang diisi oleh dua mahasiswa berprestasi dan diliput secara streaming oleh https://purwokerto.tv. Beberapa menit setelah training kepenulisan, aku menemukan banyak sekali lomba menulis cerpen saat login facebook. Hatiku pun tergerak untuk mengikuti lomba itu. Dan subhanallah… Allah menunjukkan jalanku di sini. Jalan di mana aku dapat menuangkan inspirasiku.
Aku mulai membaca satu demi satu cerpen kiriman mafaza media. “Assalamu’alaikum… Ya Akhi, Ya Ukhti…..”tiba-tiba Hp ku bedering. “Assalamu’alaikum. Kenapa, Bu?” kataku santai. Sejurus kemudian, teh yang ku seruput hampir kusemburkan, “Apa? Ibu sudah di terminal?” Pekikku kaget, sangat panik, dan sangat terkejut. Semua rasa itu bercampur jadi satu. Aku segera meraih kunci motor di atas almari dan bertolak ke terminal. Menjemput Ibu yang tiba-tiba sudah sampai di Purwokerto tanpa memberi kabar dulu.
Benang-benang kuning merajut putihnya awan di angkasa. Aku menikmati manisnya pisang goreng buatan ibu di depan laptop. Sambil membaca cerpen yang sudah ke 90. Ibu mengamatiku yang membaca sebegitu banyak dokumen di depan laptop. Ibu tersenyum di seberang meja sana. Lalu menyeruput teh manisnya seraya berkata, “Hmmm… penelitian kamu gimana?”
Inilah salah satu pertanyaan sensitif bagi sebagian mahasiswa pascasarjana tingkat akhir. Namun dengan santai ku jawab, “Alhamdulillah lancar, Bu. Minggu depan udah siding tesis kok.”
“Alhamdulillah…Oh ya perkembangan bisnis kamu gimana?”
 “Mmm… Bukanya Ayu udah cerita ya, Bu? Bulan depan Ayu mau....”
“Iya.. ibu masih ingat cerita kamu kemarin malam.” Ini adalah kali pertama dalam hidupku, ibu memotong kata-kataku. “Nak, bulan depan kamu akan membuka cabang Ayam Kepruk Haltob[2] di Semarang. Minggu depan, tepat setelah sidang tesismu, kamu akan meresmikan outlet Hijab Ceria[3] ketigamu. Beberapa saat lagi kamu akan meraih gelar master….” Tiba-tiba kata-kata ibu terhenti. Aku masih menunggu kata-kata selanjutnya. Ibu menyeruput teh manisnya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
Aku hanya tersenyum. Mengalihkan pandanganku dari laptop. Siap menyimak kata-kata ibu selanjutnya. “Nak, ibu sudah tua. Kamu adalah anak ibu satu-satunya. Ibu sangat bersyukur kamu kini menjadi wanita yang sukses di bidang akademik, menjadi penulis, dan sukses berbisnis, Tapi…” Lagi-lagi kata-kata ibu mengambang. Ada raut keraguan di wajah ibu.
“Tapi kenapa, Bu? Katakan saja.” Responku. Berusaha menghapus raut keraguan di wajahnya.
Ibu terlihat menata kata demi kata sehati-hati mungkin.“Mmmm…. Maaf ya, Nak. Bukanya ibu kurang bersyukur. Ibu sangat bangga dengan pencapaianmu selama ini. Sebagai wanita yang cerdas, tentu kamu tahu betapa pentingnya hal ini. Sebenarnya harapan terbesar  ibu saat ini adalah melihatmu menyempurnakan setengah dienmu.”
Aku terpaku mendengar kata-kata ibu. Lidahku tercekat. Tak ada sepetah kata pun yang mampu ku katakan meskipun sedari dulu aku begitu lihai memilih diksi. Saat ini, tak terlintas kata menyempurnakan setengah dien sedetikpun di fikiranku. Karena memang tak ada kecenderungan sedikitpun pada lelaki manapun. Ibu pun ikut tersenyum. Membelai jilbabku dengan lembut seraya berkata, “Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah ada pandangan atau kecenderungan pada seseorang?”
Aku menggeleng, namun aku tak mungkin membiarkan kekecewaan terbit di wajah ibu. Aku pun berkata, “Maaf. Ayu bingung, Bu. Tapi Ayu akan usahakan sesegera mungkin…”
“Alhamdulillah…” Ku rasakan kelegaan di hati ibu. “Nak, ibu lelah. Ibu istirahat dulu yaa.” Kata Ibu seraya berlalu menuju kamar.
Sementara aku kembali melanjutkan cerpen yang ku baca. Ini adalah cerpen ke 99. Cerpen ini berjudul satu kata, “Rindu” sangat tidak menarik. Kebetulan lomba cerpen ini bertemakan cinta. Cerpen pertama hingga ke 98 pada dasarnya menceritakan dua sejoli yang saling mencintai dengan ending menyatu dengan bahagia, atau merana karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, salah satu tokoh meninggal, dan adanya orang ketiga. Ku kira penulis menceritakan cinta jarak jauh yang dihiasi rindu mengharu-biru.
Cerpen ke 99 ini diawali dengan sebuah kata yang biasanya menjadi akhir dari sebuah kalimat, “Titik!” Awal yang berhasil menyihir pembaca untuk membaca lagi dan lagi sampai akhir. Cinta yang disajikan penulis ini memiliki dimensi yang berbeda dengan cinta pada umumnya. Cinta yang mengisahkan rindu sang penulis pada seseorang yang entah siapa dan di mana saat ini.[4] Seseorang yang namanya rahasia namun ada di masa depan penulis[5]. Cinta sang penulis pada sebuah nama yang terukir begitu dalam di lauhul mahfudz, yang keagunganya menembus langit ke tujuh. Cinta karena Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba ada rasa yang menyusup dalam hati ketika aku membaca kata demi kata yang disajikan penulis dalam cerpennya. Apakah nama itu adalah namaku?
 Astaghfirullah. Aku segera beristighfar atas kekhilafanku. Berharap pada seseorang yang bahkan namanya saja aku tak tahu. Ya Rabb, apakah aku jatuh cinta pada penulis itu? Astaghfirullah… biarlah cinta ini jatuh pada orang yang selayaknya, Ya Rabb. Kembali aku beristighfar atas timbulnya rasa yang tidak selayaknya itu.
Setelah membaca cerpen ke 100. Akhirnya aku memutuskan 20 cerpen terbaik versiku. Dan gelar cerpen terbaik ku berikan pada cerpen ke 99. Pagi itu aku mengirimkan hasil penilaianku pada panitia.
“Wa’alaikumsalam. Jazakumullah khairan katsir, Mbakku cantik. Ini Dewi yang lagi ngadmin.. hehehe... Sebelumnya barakallah yah atas sidang tesis Mba Ayu hari ini. Honor ditransfer ntar malem Insya Allah J. Begitulah respon panitia menanggapi hasil kerjaku sekaligus pemberian selamat atas sidang tesisku
Tak seperti biasanya, setelah mengirim hasil penilaianku, masih ada rasa janggal yang bercokol di hati. Siapa gerangan penulis cerpen ke 99 itu?? Karena kebetulan adminya sesama perempuan, aku pun mememberanikan diri untuk menulis, :
Afwan Dek Dewi, honornya buat Kas Mafaza Media aja. Sebagai gantinya, kasih tau mba donk nama penulis cerpen ke 99. Hehehe.. Aku benar-benar dibuat penasaran oleh penulis cerpen ke 99 itu.
Ibu masih di kontrakanku. Beliau bertekad datang ke sidang tesisku meskipun sudah kuhimbau untuk istirahat saja, kondisi badan ibu tidak terlalu fit hari ini. Aku pun berangkat dengan ditemani ibu ke ruang seminar fakultas biologi pagi ini. Teman-teman, adik kelas dan beberapa dosen memberiku ucapan selamat. Ba’da Ashar aku meresmikan outlet hijab ceria ketigaku sekaligus membuka acara Grand Opening Hijab Ceria dengan pemotongan pita. Lagi-lagi ibuku yang mendampingiku memotong pita.
“Nak, bulan depan yang ndampingin kamu motong pita di Ayam Kepruk Haltob Cabang Semarang suamimu yaa. Jangan ibu terus.” Aku merespon kata-kata ibu dengan senyum geli.
Ba’da magrib, Akh Fatih dan kedua orang tuanya datang ke kontrakanku. Ayah dari Akh Fatih adalah Investor terbesar Ayam Kepruk Haltob yang ku kelola. Wajar jika selagi ada ibuku di sini, mereka bersua untuk menyambung tali silaturahmi. Akantetapi, setelah beberapa saat berbasa-basi, disampaikanlah keperluan mereka, “Sebenarnya, maksud kedatangan kami ke sini, selain untuk menyambung tali silaturahmi, juga ingin mengkhitbah Neng Ayu untuk Fatih, anak kami.”
Aku dan ibu pun terkejut. Dengan harap-harap cemas, aku meminta waktu beberapa hari untuk istikharoh. Mereka pun berkenan menungggu jawabanku seminggu kemudian. Hari demi hari berlalu. Malam demi malam kuhabiskan untuk tahajud dan istikharoh. Ibu masih saja menemaniku untuk menghabiskan sepertiga malam.
“Nak, kau sudah menemukan jawaban yang pasti?” Itulah pertanyaan yang selalu ibu ajukan habis shubuh dan membaca al matsurat[6].
Aku menggeleng tak berdaya. Diam. Tak ada yang bisa ku katakan. Ini sudah hari ke enam. Besok ba’da Magrib aku harus memberi jawaban pasti. Hingga detik ini, Dek Dewi belum juga menjawab emailku. Pertanyaan besar mengenai siapa penulis cerpen no 99 belum juga terjawab. Pertanyaan itulah yang menimbulkan keraguan dan membuatku begitu gelisah.
“Nak, apa yang membuatmu ragu?”
“Ibu… sebenarnya…” Entah energi apa yang membuatku tak mampu berkata apa pun. Aku tak mungkin menceritakan kegundahanku yang tidak masuk akal itu pada ibu. Bagaimana bisa aku mencintai seseorang hanya dari tulisanya saja. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seseorang hanya dengan membaca cerpen karanganya saja. Bahkan aku tak tau siapa namanya. Dan bahkan aku tak mengetahui apakah dia lelaki atau perempuan. Bisa jadi ini bukan cinta. Bisa jadi ini hanya panah iblis yang melukai hati.
“Sebenarnya apa, Nak?” Tanya ibu penasaran.
Aku menggeleng, menangis, dan memeluk ibuku erat-erat. Masih dalam balutan mukena. Ibu mengelus pipiku, membalut air mataku sambil berkata, “Apa kau takut, Nak? Apa kau merasa belum mampu dan kuat?”
Aku diam membisu. Menatap ibu lekat-lekat.
“Nak, menikah itu shunnah Rasul yang sangat dianjurkan. Niatkanlah pernikahan yang akan kamu jalani itu semata-mata sebagai bentuk ketakwaan pada Allah. Insya Allah akan memampukan. Allah akan menguatkan.” Kata Ibu menguatkanku. Menepuk pundakku mantap. Aku tersenyum. Memegang tangan ibu. Lalu mencium telapak tanganya. Namun aku tahu, wanita sepeka ibu masih melihat seuntai kabut keraguan di wajahku.  Wajah yang ku jatuhkan di pangkuanya.
Ibu mengelus rambutku dan berkata lembut, “Atau kau meragukan Nak Fatih?” Kata Ibu. Lalu menghela nafas. “Nak, tak ada yang perlu kau ragukan dari Nak Fatih. Ia pemuda yang baik, sholeh, sukses, dan cerdas. Bukankah kamu juga pernah menceritakan kekagumanmu pada Nak Fatih. Ia yang menjadi Hafidz, meraih gelar Master di Universitas Al Azhar, Chairo, dan kini bekerja sebagai direktur perusahaan Syariah. Nak Fatih juga berasal dari keluarga baik-baik. Insya Allah ia cocok untukmu, dan engkau pantas untuknya. Apalagi yang membuatmu ragu?”
Kata-kata ibu sungguh mendamaikan jiwa. Aku terbangun dari pangkuanya, kemudian berusaha memantapkan diri untuk berkata, “I.insya Allah Ayu sudah mantap, Bu. tidak ada lagi yang membuat Ayu ragu.” Dan aku pun tenggelam dalam hangatnya dekapan ibu di pagi yang dingin itu.
Seminggu kemudian, akad dan walimatul ursy digelar di Masjid Agung Cirebon. Setelah aku mencium telapak tanganya, aku resmi menjadi kekasih halalnya. Inilah jatuh cinta yang sesungguhnya. Cinta yang jatuh pada yang selayaknya. Pada seseorang yang menghalalkan ikatan cinta dengan akad nikah, Mas Fatih kini menjadi suamiku, menyempurnakan setengah dienku.
 “Beep Beep!” Hp ku berdering, tanda ada email masuk.
Afwan mba telat banget njawabnya. Dewi baru ngadmin lagi nih. Padahal kemarin pengarangnya baru buka email ini. Pengarang cerpen no 99 itu PJ lomba cerpen ini, Akh Muhammad Al Fatih. Oh iya hari ini kan Mba menyempurnakan setengah Dien mba sama beliau. Barakallahu fii kum ya, Mba. Semoga dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. J
Jazakillah, Ukhti Shalikha. Aku tersenyum setelah membaca email Dewi. Ternyata tanpa sadar aku sudah jatuh cinta pada Mas Fatih sebelum aku menikah denganya. Untung sekarang ia telah menjadi kekasih halalku.
“De, Ade penasaran banget en ngefans banget ya sama penulis cerpen no 99?”
“Nggak cuma ngefans kok. Naksir malah.” Sontak jawabanku membuat Mas Fatih kaget. “Dia kan sekarang ada di hadapan Ade. Barusan Dek Dewi udah ngasih tau faktanya! Kenapa coba kemarin habis buka email mafaza media, tapi kok email Ade nggak dijawab?”
Mas Fatih mencubit  kedua pipiku dengan kedua tanganya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku. Sebelumnya aku tak pernah berbicara sedekat ini dengan lelaki. Tentu saja perilakunya membuat jantungku berdebar begitu hebat. Dalam jarak kurang dari 15 cm, ia berkata, “Biar bikin penasaran donk, Sayang.” Jarak wajahku dan wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan tiap nafas yang ia hembuskan, “ Jadi ade udah naksir mamas sebelum menikah dengan mamas?” Tanyanya memojokkan.
“Kalo iya kenapa?” Jawabku. Kembali menantangnya. Tak ada masalah kan? Toh sekarang aku sudah resmi jadi istrinya. Kataku memantapkan diri dalam hati.
“Mmmm.. Kalo iya berarti kita 1-1. Impas” katanya kemudian menghela nafas. “Sebenernya Mamas naksir Ade juga gara-gara mamas baca tiap kata yang Ade rangkai dalam cerpen Ade. Bahkan sejak pertama kali Ade mengikuti lomba cerpen yang diadakan Mafaza Media. Udah lama banget. Bahkan Mamas selalu kangen sama cerpen Ade saat Mamas di Chairo. Lama-lama Mamas ngerasa sakit banget kelamaan memendam perasaan ini. Akhirnya sore itu, mamas memberanikan diri untuk mengkhitbah Ade.”
Aku mencubit hidungnya, lalu mendorong wajahnya ke belakang. Mencoba mereduksi ketegangan syaraf-syarafku, “Hmmm… berarti Mamas pinter yaa.. Pinter memendam rasa.”
“Dan Ade paling nggak pinter memendam rasa. Buktinya langsung ketahuan lewat email. Hehehe..”
“Eh… gini-gini Ade juga bisa mbedain antara Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam dan Muhammad Al Fatih di depan Ade.”
“Ahahaha… Ya jelas beda lha. Emang menurut Ade bedanya apa coba??”
“Kalo Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam menaklukan konstatinopel, Muhammad Al Fatih di depan Ade menaklukan hati Ade, dan kalo Ade mau menaklukkan dunia dengan goresan pena”
 “Hmmm… aamiin… Sebelum Ade menaklukkan dunia dengan goresan pena, taklukkan dulu hati Mamas malam ini…” Kedua tanganya menyentuh masing-masing tepi dari kedua pipiku, dan wajah kami saling mendekat. Ini adalah malam terindah yang Allah anugerahkan pada kami.
Biodata penulis
Nama saya Meliana Moga Yufita. Nama Pena Ukhti Shalikha. Alamat Bakulan Rt 06/03, Kemangkon, 53381, Purbalingga, Jateng. Nomor HP 085310359210, Twitter @meliyufita, sedang menjalani study S1 di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, semester 5. Memiliki Visi menjadi penakluk seperti Muhammad Al Fatih. Tapi  menaklukan dunia melalui goresan pena. Cerpen yang pernah diterbitkan : Ippho junior dalam Antologi Cerpen Indigenus  (Inovasi dan Kreasi Generasi Muslim) UKMI Fabio Unsoed dan Zinnia elegans dalam Antologi FF Tumbuhan Penerbit Panji. Pernah menjadi Runner up lomba menulis cerpen berbahasa inggris antar fakultas dalam English Festival, yang diadakan oleh BESt (Biology English Society). Syukron! J




[1] Unit  Kegiatan Mahasiswa Islam
[2] Halallan Thoyibban, usaha kuliner
[3] Toko jilbab
[4] Kutipan Buku Tausiyah Cinta
[5] Kuttipan lagu jodoh dunia akhirat-Maidany
[6] Dzikir pagi dan sore, karangan Hasan Al Bana

Azzzz!!! Mau bikin cerpen buat Indigenus UKMI malah nulis2 cerpen yang jadinya beginian... Mel Mel!!!!

No comments: