“Jreng jreng
jreng jreng...!” Today!! facebook account owner, Memyu Dikachi Macker and
twitter nickname, @mackerdikachi have
changed
successfully into Meliana
Moga Yufita. Is it beautiful? Of course!!I have a brave to ay…because it’s given by my mom
when I was sleeping in her womb. My grand ma said that she wrote that 17
caracther + 2 spaces on her diary. Fortunately, I have felt soo comfort on my
expired nickname Memyu and etc.
It’s
too long X
came in my life and failed to
enter my heart. He
as my elder class. Or my senior. He taught me so much.
He was care with me. Eventhough overprotective and very very overprotective to
me. He was like my own brother.
Honestily, I love him very much. So, I like my nickmane which is given by him.
In
consists of :
·
Memyu_MEliana Moga YUfita.
·
Dikachi_I think I cant
tell it
·
Macker_an adjective
arrangement Manis Cakep dan Kerempeng.(it’s too indonesian)
My
friends on English Addicted,
Advanced English, VOA Learning English (Special English), VOA Learner Group, and so on ussually call me Memyu. Memyu is
the famous one on English Conversation page
at Facebook.
Alhamdulillah
Ididn’t have a chance to make
merah-putih porridge that signed that my name has been changed. Cause in fact, I lost my own country
name. Moreover, I lost my own self. 17 letters that I write on my lesson book
and my answer sheet at school. Those is Meliana
Moga Yufita. It as if lost and swollen
by Memyu, Memyu, dan,
Memyu. Everything full of memyu.
Newton takes a part!!, tekanan Memyu semakin
kuat sehingga mamperkecil luas kemungkinan teman lama saya untuk mengenali saya
di berbagai jejaring sosial. Gaya atau Force
yang sudah kodratnya sebanding dengan tekananpun meningkat. Semakin menekan
saya ke dalam jurang keasingan.
Karena,
makin banyak teman lama yang bertanya”Siapa ini?”. Bahkan, ada juga sahabat
lama yang berkata “Kau bukan yang dulu lagi...” Sementara X,
kini harus ku hapus dalam hidupku selama-lamanya karena
memang bukan nama itu yang ingin kuukir di hatiku kini.
Allahua’lam.
Dan
ironisnya, rasa kehilangan itu baru saya sadari ketika saya hampir
menghancurkan diri saya sendiri. Ya!! saya hampir menjadi ‘Sakura Indonesia di
musim salju’. Sakura itu memang indah. Berseri merona, menghiasi taman hati.
Menebarkan pesona pada tiap orang yang menghampirinya. Namun kini ia tumbuh di
negara tropis,Indonesia. Dan kenapa sakura itu bersemi di musim salju? Sakura itu datang di saat dan tempat yang
tidak tepat. Logikanya, kalaupun sakura itu ada, ia tak akan bertahan lama.
Hanya orang bodoh yang mengharapkan sakura itu tumbuh subur, atau semacam orang
yang memiliki khayalan terlalu tinggi hingga kehilangan life sence. Atau mungkin, orang yang dengan hebatnya sanggup
mengharapkan harapan yang tak pasti. Tak mau mempercayai takdir indah-Nya.
Takdir yang sudah terukir di Lauhul Mahfudz.
Saat
indah itu tiba-tiba datang, saat di mana salah satu sahabat terbaik saya
mempertemukan saya dengan fans page
“Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran.” Fans page yang mencitrakan cinta
yang hakiki. Cinta yang tak boleh dinikmati di saat dan tempat yang tidak
tepat. Cinta yang tak boleh jatuh sebelum akad nikah dikumandangkan. Karena
dalam di islam memang tak ada fall in
love then get merried. Tapi lebih dari itu, get married then fall in
the love. Cinta adalah fitrah yang seharusnya
dijaga sesuci-sucinya.
Saat
itu, sayapun mulai menyadari kehilangan yang saya rasakan selama ini. Itu
akibat cinta terlalu dalam yang menggerogoi hati saya. Cinta yang seharusnya
belum boleh jatuh. Cinta yang mengakibatkan bertubi-tubi tekanan mempesempit luas permukaan otak saya hingga
menerjunkan nilai rapot saya di SMA saat semester tiga. Dan cinta yang dengan
bebasnya menerjunkan saya ke dalamjurang harapan semu. Bahkan, ia membuat
teman-teman saya tidak mengenal saya sebagai Meli dan tidak memanggil saya
Meli. Saya merasa bukan Meli, saya kehilangan inspirasi setelah kehilangan Z.
Saya merasa dikucilkan, dan saya merasa dunia sudah tidak mengenal saya lagi.
Saya merasa semua telah melupakan saya dan menghilangkan saya dari hidup mereka.
Saya kehilangan diri saya karena cinta saya pada nama Memyu dan rasa saya pada
Z menggeser Meliana dari hati orang-orang di sisi saya.
Astaghfirullah. Air mata saya hampir jatuh di
depan publik karena kecewa bercampur sedih. Sementara cinta Z, mana cintanya di
saat seperti ini? Z tak ada, rasaku padanya, dan rasanya padaku terasa memudar
bahkan hilang.
Namun,
cinta-Nya tak pernah berhenti mengalir di hati saya. Cinta Ibunda tak pernah
layu di hati saya. Alhamdulillah kasih sayang-Nya mencegah saya untuk menangis
di depan teman-teman sekelas. Karena saat itu saya mencoba memanggil mereka,
tapi mereka tidak mau menoleh. Mereka tak mengenal Meli.
Setetes
air mata saya jatuh saat saya sedang berjalan menghindari perhatian publik.
Saya menuju perpustakaan. Ribuan buku saya baca, walau hanya judulnya. Suasana
sudah sedikit tenang dan sayapun membuka akun facebook saya. Saya menghapus
segala hal yang mengingatkan saya padanya. Merubah nama akun facebook dan
twitter saya dengan nama asli saya.
Mencoba menjadi diri sendiri,
melepas dirinya yang ada di setiap nickname jejaring sosial saya, dan mungkin dia
juga ada di hati saya. Saya mencoba untuk menyimpan derap hati kuat-kuat.
Mencoba menjaga cinta sesuci-sucinya. Let
it flow hingga rasa indah ini bermuara saat dan tempat yang tepat. Insya
Allah.
Karena cinta adalah inspirasi yang
dapat menggerakkan jari saya menari-nari di atas keyboard, mengekspresikan
perasaan saya dalam tiap suku kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang
indah. Itulah cinta Allah swt pada saya. Cinta-Nya yang takkan pernah pudar. Cinta-Nya yang hakiki. Cinta-Nya yang abadi. Cinta-Nya, sumber inspirasi
laskar tinta.
No comments:
Post a Comment