02 November 2014

Cinta-Nya, Sumber Inspirasi Laskar Tinta

Ini Post yang blaster banget bahasanya :D



 “Jreng  jreng  jreng jreng...!” Today!! facebook account owner, Memyu Dikachi Macker and twitter nickname, @mackerdikachi have changed successfully into  Meliana Moga Yufita. Is it beautiful? Of course!!I have a brave to ay…because it’s given by my mom when I was sleeping in her womb. My grand ma said that she wrote that 17 caracther + 2 spaces on her diary. Fortunately, I have felt soo comfort on my expired  nickname Memyu and etc.
It’s too long X came in my life and failed to enter my heart. He as my elder class. Or my senior. He taught me so much. He was care with me. Eventhough overprotective and very very overprotective to me.  He was like my own brother. Honestily, I love him very much. So, I like my nickmane which is given by him.
In consists of :
·         Memyu_MEliana Moga YUfita.
·         Dikachi_I think I cant tell it
·         Macker_an adjective arrangement Manis Cakep dan Kerempeng.(it’s too indonesian)
My friends on English Addicted, Advanced English, VOA Learning English (Special English), VOA Learner Group,  and so on ussually call me Memyu. Memyu is the famous one on  English Conversation page at Facebook.
Alhamdulillah Ididn’t have a chance to make merah-putih porridge that signed that my name has been changed. Cause in fact, I lost my own country name. Moreover, I lost my own self. 17 letters that I write on my lesson book and my answer sheet at school. Those is  Meliana Moga Yufita. It as if lost and swollen by Memyu, Memyu, dan, Memyu. Everything full of memyu.
 Newton takes a part!!, tekanan Memyu semakin kuat sehingga mamperkecil luas kemungkinan teman lama saya untuk mengenali saya di berbagai jejaring sosial. Gaya atau Force yang sudah kodratnya sebanding dengan tekananpun meningkat. Semakin menekan saya ke dalam jurang keasingan.
Karena, makin banyak teman lama yang bertanya”Siapa ini?”. Bahkan, ada juga sahabat lama yang berkata “Kau bukan yang dulu lagi...”  Sementara X, kini harus ku hapus dalam hidupku selama-lamanya karena memang bukan nama itu yang ingin kuukir di hatiku kini. Allahua’lam.
Dan ironisnya, rasa kehilangan itu baru saya sadari ketika saya hampir menghancurkan diri saya sendiri. Ya!! saya hampir menjadi ‘Sakura Indonesia di musim salju’. Sakura itu memang indah. Berseri merona, menghiasi taman hati. Menebarkan pesona pada tiap orang yang menghampirinya. Namun kini ia tumbuh di negara tropis,Indonesia. Dan kenapa sakura itu bersemi di musim salju?  Sakura itu datang di saat dan tempat yang tidak tepat. Logikanya, kalaupun sakura itu ada, ia tak akan bertahan lama. Hanya orang bodoh yang mengharapkan sakura itu tumbuh subur, atau semacam orang yang memiliki khayalan terlalu tinggi hingga kehilangan life sence. Atau mungkin, orang yang dengan hebatnya sanggup mengharapkan harapan yang tak pasti. Tak mau mempercayai takdir indah-Nya. Takdir yang sudah terukir di Lauhul Mahfudz.  
Saat indah itu tiba-tiba datang, saat di mana salah satu sahabat terbaik saya mempertemukan saya dengan fans page  “Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran.” Fans page yang mencitrakan cinta yang hakiki. Cinta yang tak boleh dinikmati di saat dan tempat yang tidak tepat. Cinta yang tak boleh jatuh sebelum akad nikah dikumandangkan. Karena dalam di islam memang tak ada fall in love then get merried. Tapi lebih dari itu, get married then fall in the love. Cinta adalah fitrah yang seharusnya dijaga sesuci-sucinya.
Saat itu, sayapun mulai menyadari kehilangan yang saya rasakan selama ini. Itu akibat cinta terlalu dalam yang menggerogoi hati saya. Cinta yang seharusnya belum boleh jatuh. Cinta yang mengakibatkan bertubi-tubi tekanan  mempesempit luas permukaan otak saya hingga menerjunkan nilai rapot saya di SMA saat semester tiga. Dan cinta yang dengan bebasnya menerjunkan saya ke dalamjurang harapan semu. Bahkan, ia membuat teman-teman saya tidak mengenal saya sebagai Meli dan tidak memanggil saya Meli. Saya merasa bukan Meli, saya kehilangan inspirasi setelah kehilangan Z. Saya merasa dikucilkan, dan saya merasa dunia sudah tidak mengenal saya lagi. Saya merasa semua telah melupakan saya dan menghilangkan saya dari hidup mereka. Saya kehilangan diri saya karena cinta saya pada nama Memyu dan rasa saya pada Z menggeser Meliana dari hati orang-orang di sisi saya.
 Astaghfirullah. Air mata saya hampir jatuh di depan publik karena kecewa bercampur sedih. Sementara cinta Z, mana cintanya di saat seperti ini? Z tak ada, rasaku padanya, dan rasanya padaku terasa memudar bahkan hilang.
Namun, cinta-Nya tak pernah berhenti mengalir di hati saya. Cinta Ibunda tak pernah layu di hati saya. Alhamdulillah kasih sayang-Nya mencegah saya untuk menangis di depan teman-teman sekelas. Karena saat itu saya mencoba memanggil mereka, tapi mereka tidak mau menoleh. Mereka tak mengenal Meli.
Setetes air mata saya jatuh saat saya sedang berjalan menghindari perhatian publik. Saya menuju perpustakaan. Ribuan buku saya baca, walau hanya judulnya. Suasana sudah sedikit tenang dan sayapun membuka akun facebook saya. Saya menghapus segala hal yang mengingatkan saya padanya. Merubah nama akun facebook dan twitter saya dengan nama asli saya.
            Mencoba menjadi diri sendiri, melepas dirinya yang ada di setiap nickname jejaring sosial saya, dan mungkin dia juga ada di hati saya. Saya mencoba untuk menyimpan derap hati kuat-kuat. Mencoba menjaga cinta sesuci-sucinya. Let it flow hingga rasa indah ini bermuara saat dan tempat yang tepat. Insya Allah.

            Karena cinta adalah inspirasi yang dapat menggerakkan jari saya menari-nari di atas keyboard, mengekspresikan perasaan saya dalam tiap suku kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang indah. Itulah cinta Allah swt pada saya. Cinta-Nya yang takkan pernah pudar. Cinta-Nya yang hakiki. Cinta-Nya yang abadi. Cinta-Nya, sumber inspirasi laskar tinta.

No comments: