02 November 2014

Cinta-Nya, Sumber Inspirasi Laskar Tinta

Ini Post yang blaster banget bahasanya :D



 “Jreng  jreng  jreng jreng...!” Today!! facebook account owner, Memyu Dikachi Macker and twitter nickname, @mackerdikachi have changed successfully into  Meliana Moga Yufita. Is it beautiful? Of course!!I have a brave to ay…because it’s given by my mom when I was sleeping in her womb. My grand ma said that she wrote that 17 caracther + 2 spaces on her diary. Fortunately, I have felt soo comfort on my expired  nickname Memyu and etc.
It’s too long X came in my life and failed to enter my heart. He as my elder class. Or my senior. He taught me so much. He was care with me. Eventhough overprotective and very very overprotective to me.  He was like my own brother. Honestily, I love him very much. So, I like my nickmane which is given by him.
In consists of :
·         Memyu_MEliana Moga YUfita.
·         Dikachi_I think I cant tell it
·         Macker_an adjective arrangement Manis Cakep dan Kerempeng.(it’s too indonesian)
My friends on English Addicted, Advanced English, VOA Learning English (Special English), VOA Learner Group,  and so on ussually call me Memyu. Memyu is the famous one on  English Conversation page at Facebook.
Alhamdulillah Ididn’t have a chance to make merah-putih porridge that signed that my name has been changed. Cause in fact, I lost my own country name. Moreover, I lost my own self. 17 letters that I write on my lesson book and my answer sheet at school. Those is  Meliana Moga Yufita. It as if lost and swollen by Memyu, Memyu, dan, Memyu. Everything full of memyu.
 Newton takes a part!!, tekanan Memyu semakin kuat sehingga mamperkecil luas kemungkinan teman lama saya untuk mengenali saya di berbagai jejaring sosial. Gaya atau Force yang sudah kodratnya sebanding dengan tekananpun meningkat. Semakin menekan saya ke dalam jurang keasingan.
Karena, makin banyak teman lama yang bertanya”Siapa ini?”. Bahkan, ada juga sahabat lama yang berkata “Kau bukan yang dulu lagi...”  Sementara X, kini harus ku hapus dalam hidupku selama-lamanya karena memang bukan nama itu yang ingin kuukir di hatiku kini. Allahua’lam.
Dan ironisnya, rasa kehilangan itu baru saya sadari ketika saya hampir menghancurkan diri saya sendiri. Ya!! saya hampir menjadi ‘Sakura Indonesia di musim salju’. Sakura itu memang indah. Berseri merona, menghiasi taman hati. Menebarkan pesona pada tiap orang yang menghampirinya. Namun kini ia tumbuh di negara tropis,Indonesia. Dan kenapa sakura itu bersemi di musim salju?  Sakura itu datang di saat dan tempat yang tidak tepat. Logikanya, kalaupun sakura itu ada, ia tak akan bertahan lama. Hanya orang bodoh yang mengharapkan sakura itu tumbuh subur, atau semacam orang yang memiliki khayalan terlalu tinggi hingga kehilangan life sence. Atau mungkin, orang yang dengan hebatnya sanggup mengharapkan harapan yang tak pasti. Tak mau mempercayai takdir indah-Nya. Takdir yang sudah terukir di Lauhul Mahfudz.  
Saat indah itu tiba-tiba datang, saat di mana salah satu sahabat terbaik saya mempertemukan saya dengan fans page  “Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran.” Fans page yang mencitrakan cinta yang hakiki. Cinta yang tak boleh dinikmati di saat dan tempat yang tidak tepat. Cinta yang tak boleh jatuh sebelum akad nikah dikumandangkan. Karena dalam di islam memang tak ada fall in love then get merried. Tapi lebih dari itu, get married then fall in the love. Cinta adalah fitrah yang seharusnya dijaga sesuci-sucinya.
Saat itu, sayapun mulai menyadari kehilangan yang saya rasakan selama ini. Itu akibat cinta terlalu dalam yang menggerogoi hati saya. Cinta yang seharusnya belum boleh jatuh. Cinta yang mengakibatkan bertubi-tubi tekanan  mempesempit luas permukaan otak saya hingga menerjunkan nilai rapot saya di SMA saat semester tiga. Dan cinta yang dengan bebasnya menerjunkan saya ke dalamjurang harapan semu. Bahkan, ia membuat teman-teman saya tidak mengenal saya sebagai Meli dan tidak memanggil saya Meli. Saya merasa bukan Meli, saya kehilangan inspirasi setelah kehilangan Z. Saya merasa dikucilkan, dan saya merasa dunia sudah tidak mengenal saya lagi. Saya merasa semua telah melupakan saya dan menghilangkan saya dari hidup mereka. Saya kehilangan diri saya karena cinta saya pada nama Memyu dan rasa saya pada Z menggeser Meliana dari hati orang-orang di sisi saya.
 Astaghfirullah. Air mata saya hampir jatuh di depan publik karena kecewa bercampur sedih. Sementara cinta Z, mana cintanya di saat seperti ini? Z tak ada, rasaku padanya, dan rasanya padaku terasa memudar bahkan hilang.
Namun, cinta-Nya tak pernah berhenti mengalir di hati saya. Cinta Ibunda tak pernah layu di hati saya. Alhamdulillah kasih sayang-Nya mencegah saya untuk menangis di depan teman-teman sekelas. Karena saat itu saya mencoba memanggil mereka, tapi mereka tidak mau menoleh. Mereka tak mengenal Meli.
Setetes air mata saya jatuh saat saya sedang berjalan menghindari perhatian publik. Saya menuju perpustakaan. Ribuan buku saya baca, walau hanya judulnya. Suasana sudah sedikit tenang dan sayapun membuka akun facebook saya. Saya menghapus segala hal yang mengingatkan saya padanya. Merubah nama akun facebook dan twitter saya dengan nama asli saya.
            Mencoba menjadi diri sendiri, melepas dirinya yang ada di setiap nickname jejaring sosial saya, dan mungkin dia juga ada di hati saya. Saya mencoba untuk menyimpan derap hati kuat-kuat. Mencoba menjaga cinta sesuci-sucinya. Let it flow hingga rasa indah ini bermuara saat dan tempat yang tepat. Insya Allah.

            Karena cinta adalah inspirasi yang dapat menggerakkan jari saya menari-nari di atas keyboard, mengekspresikan perasaan saya dalam tiap suku kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang indah. Itulah cinta Allah swt pada saya. Cinta-Nya yang takkan pernah pudar. Cinta-Nya yang hakiki. Cinta-Nya yang abadi. Cinta-Nya, sumber inspirasi laskar tinta.

Abaikan

Post ini pernah dipublish di FB ku yang udah deactivated, salah satu karya terbaik di revolusi cinta Mahasiswa yag diadain UKI AL Fatih duluuuu bangetz.. Gaje Lho. HHa

Tinjauan Pustaka
Bagaimana caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang entah siapa dan dimana saat ini. Untukmu yang jauh disana, terkadang mata ini iri kepada hati, karena kau ada di hatiku namun tak tampak di mataku. Aku tidak memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih ingin menunggumu, meski kau tak pernah meminta untuk di tunggu dan diharapkan. Hati ini meyakini bahwa kau ada, meski entah di belahan bumi mana. Yang aku tahu, kelak aku akan menyempurnakan hidupku denganmu, disini,di sisiku. Maka, saat hatiku telah mengenal fitrahnya, aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang di cintaiNYA. Sekalipun kita belum pernah bertemu, mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama, tersenyum menatap rembulan yang sama.Disanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu. (tausiyah cinta, 2014)
Langsung loncat ke pembahasan :D
Aku ingin menjadi satu-satunya alasan mengapa sampai saat ini engkau tetap menjaga izzahmu, seperti aku menjaga izzahku untukmu. Aku ingin suatu hari nanti menjadi satu-satunya alasan mengapa kita harus bangun sangat pagi, shalat shubuh jama’ah dan kalau perlu memasak di dapur bersama, sebelum karir dan pekerjaan, menuntut kita untuk pergi dari rumah. Ah! Mungkin harapanku terlalu tinggi.
Tausiyah cinta bilang, terkadang mata ini iri pada hati.
Hati ini merasakan keberadaanmu, tapi engkau tak tampak di mataku.
Untukmu yang masih jaaaaaauh di sana,
Terkadang aku malah iri pada ibu-ibu kantin di depan fakultasku, suami ibu itu adalah tukang fotokopian di yang kiosnya juga di samping kios sang ibu. Aku tau nama suaminya, namanya Pak Paijo, sangat populer menyandang gelar “tukang fotokopian depan Fabio”. Anaknya yang terkecil bernama Dicky. Jam lima kurang sedikit mereka biasa pulang naik motor bertiga, sang ibu memakai baju merah, Dicky memakai baju kuning, dan Pak Paijo memakai Baju Ijo (kayak namanya kan? Pak PaIJO. hahaha), helm mereka pun senada dengan baju masing-masing. Merah-Kuning-Ijo. Sangat mirip pelangi yang dilagukan anak-anak. Aku biasa menyebut mereka keluarga pelangi saking so sweetnya.

Sedangkan aku masih terpaku dengan merahku. Merah wajahku yang seringkali kusembunyikan. Menahan derap hati yang memang tak seharusnya berderap. Aku iri pada pelangi yang terlihat makin menawan dengan warna-warna khasya. Aku ingin engkau membuat hidupku lebih indah, seperti merah membutuhkan kuning dan hijau untuk memancarkan pesonanya. Aku memang selalu menantikanmu di batas waktu, seperti engkau yang ku yakin akan menjemputku di batas waktu nanti. Dengan berani, datang pada kedua orang tuaku untuk mengkhitbahku dan menjadikanku kekasih halal. *jiaaaah :D 


Muhammad Al Fatih


“Beep…Beep…!!!” HP ku berdering. Ada email masuk. Panitia Lomba Cerpen Penerbit Mafaza Media sudah mengirim cerpen yang harus kunilai. Ada 100 cerpen. Aku dimintai tolong untuk mengurutkan cerpen-cerpen itu mulai dari cerpen yang terbaik. Dan memilih 20 cerpen terbaik di antara 100 cerpen ini. Tiga tahun yang lalu aku sangat rajin mengikuti berbagai lomba menulis cerpen yang diadakan oleh berbagai penerbit. Kini, satu demi satu penerbit yang pernah menerbitkan cerpenku mulai mendatangi inbox email ku. Aku mulai Move ON dari zona kontestan ke zona juri. Alhamdulillah.. Betapa besar karunia Allah.
Aku mengalihkan pandangan. Menatap  tumpukkan sertifikat, piagam, dan tropi berbagai ukuran yang terpajang dalam lemari kaca di kamarku. Ada satu sertifikat yang sengaja ku bingkai. Sertifikat yang menjadi titik awalku untuk semangat menulis, sertifikat Training Kepenulisan UKMI[1]. Tepat beberapa minggu setelah training kepenulisan itulah cerpen keduaku terbit, disusul cerpen ketiga, dan seterusnya.
Allah memberi hidayah pada jemariku untuk konsisten menari di atas keyboard melalui acara special ini. Acara yang diisi oleh dua mahasiswa berprestasi dan diliput secara streaming oleh https://purwokerto.tv. Beberapa menit setelah training kepenulisan, aku menemukan banyak sekali lomba menulis cerpen saat login facebook. Hatiku pun tergerak untuk mengikuti lomba itu. Dan subhanallah… Allah menunjukkan jalanku di sini. Jalan di mana aku dapat menuangkan inspirasiku.
Aku mulai membaca satu demi satu cerpen kiriman mafaza media. “Assalamu’alaikum… Ya Akhi, Ya Ukhti…..”tiba-tiba Hp ku bedering. “Assalamu’alaikum. Kenapa, Bu?” kataku santai. Sejurus kemudian, teh yang ku seruput hampir kusemburkan, “Apa? Ibu sudah di terminal?” Pekikku kaget, sangat panik, dan sangat terkejut. Semua rasa itu bercampur jadi satu. Aku segera meraih kunci motor di atas almari dan bertolak ke terminal. Menjemput Ibu yang tiba-tiba sudah sampai di Purwokerto tanpa memberi kabar dulu.
Benang-benang kuning merajut putihnya awan di angkasa. Aku menikmati manisnya pisang goreng buatan ibu di depan laptop. Sambil membaca cerpen yang sudah ke 90. Ibu mengamatiku yang membaca sebegitu banyak dokumen di depan laptop. Ibu tersenyum di seberang meja sana. Lalu menyeruput teh manisnya seraya berkata, “Hmmm… penelitian kamu gimana?”
Inilah salah satu pertanyaan sensitif bagi sebagian mahasiswa pascasarjana tingkat akhir. Namun dengan santai ku jawab, “Alhamdulillah lancar, Bu. Minggu depan udah siding tesis kok.”
“Alhamdulillah…Oh ya perkembangan bisnis kamu gimana?”
 “Mmm… Bukanya Ayu udah cerita ya, Bu? Bulan depan Ayu mau....”
“Iya.. ibu masih ingat cerita kamu kemarin malam.” Ini adalah kali pertama dalam hidupku, ibu memotong kata-kataku. “Nak, bulan depan kamu akan membuka cabang Ayam Kepruk Haltob[2] di Semarang. Minggu depan, tepat setelah sidang tesismu, kamu akan meresmikan outlet Hijab Ceria[3] ketigamu. Beberapa saat lagi kamu akan meraih gelar master….” Tiba-tiba kata-kata ibu terhenti. Aku masih menunggu kata-kata selanjutnya. Ibu menyeruput teh manisnya, lalu menarik nafas dalam-dalam.
Aku hanya tersenyum. Mengalihkan pandanganku dari laptop. Siap menyimak kata-kata ibu selanjutnya. “Nak, ibu sudah tua. Kamu adalah anak ibu satu-satunya. Ibu sangat bersyukur kamu kini menjadi wanita yang sukses di bidang akademik, menjadi penulis, dan sukses berbisnis, Tapi…” Lagi-lagi kata-kata ibu mengambang. Ada raut keraguan di wajah ibu.
“Tapi kenapa, Bu? Katakan saja.” Responku. Berusaha menghapus raut keraguan di wajahnya.
Ibu terlihat menata kata demi kata sehati-hati mungkin.“Mmmm…. Maaf ya, Nak. Bukanya ibu kurang bersyukur. Ibu sangat bangga dengan pencapaianmu selama ini. Sebagai wanita yang cerdas, tentu kamu tahu betapa pentingnya hal ini. Sebenarnya harapan terbesar  ibu saat ini adalah melihatmu menyempurnakan setengah dienmu.”
Aku terpaku mendengar kata-kata ibu. Lidahku tercekat. Tak ada sepetah kata pun yang mampu ku katakan meskipun sedari dulu aku begitu lihai memilih diksi. Saat ini, tak terlintas kata menyempurnakan setengah dien sedetikpun di fikiranku. Karena memang tak ada kecenderungan sedikitpun pada lelaki manapun. Ibu pun ikut tersenyum. Membelai jilbabku dengan lembut seraya berkata, “Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah ada pandangan atau kecenderungan pada seseorang?”
Aku menggeleng, namun aku tak mungkin membiarkan kekecewaan terbit di wajah ibu. Aku pun berkata, “Maaf. Ayu bingung, Bu. Tapi Ayu akan usahakan sesegera mungkin…”
“Alhamdulillah…” Ku rasakan kelegaan di hati ibu. “Nak, ibu lelah. Ibu istirahat dulu yaa.” Kata Ibu seraya berlalu menuju kamar.
Sementara aku kembali melanjutkan cerpen yang ku baca. Ini adalah cerpen ke 99. Cerpen ini berjudul satu kata, “Rindu” sangat tidak menarik. Kebetulan lomba cerpen ini bertemakan cinta. Cerpen pertama hingga ke 98 pada dasarnya menceritakan dua sejoli yang saling mencintai dengan ending menyatu dengan bahagia, atau merana karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, salah satu tokoh meninggal, dan adanya orang ketiga. Ku kira penulis menceritakan cinta jarak jauh yang dihiasi rindu mengharu-biru.
Cerpen ke 99 ini diawali dengan sebuah kata yang biasanya menjadi akhir dari sebuah kalimat, “Titik!” Awal yang berhasil menyihir pembaca untuk membaca lagi dan lagi sampai akhir. Cinta yang disajikan penulis ini memiliki dimensi yang berbeda dengan cinta pada umumnya. Cinta yang mengisahkan rindu sang penulis pada seseorang yang entah siapa dan di mana saat ini.[4] Seseorang yang namanya rahasia namun ada di masa depan penulis[5]. Cinta sang penulis pada sebuah nama yang terukir begitu dalam di lauhul mahfudz, yang keagunganya menembus langit ke tujuh. Cinta karena Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba ada rasa yang menyusup dalam hati ketika aku membaca kata demi kata yang disajikan penulis dalam cerpennya. Apakah nama itu adalah namaku?
 Astaghfirullah. Aku segera beristighfar atas kekhilafanku. Berharap pada seseorang yang bahkan namanya saja aku tak tahu. Ya Rabb, apakah aku jatuh cinta pada penulis itu? Astaghfirullah… biarlah cinta ini jatuh pada orang yang selayaknya, Ya Rabb. Kembali aku beristighfar atas timbulnya rasa yang tidak selayaknya itu.
Setelah membaca cerpen ke 100. Akhirnya aku memutuskan 20 cerpen terbaik versiku. Dan gelar cerpen terbaik ku berikan pada cerpen ke 99. Pagi itu aku mengirimkan hasil penilaianku pada panitia.
“Wa’alaikumsalam. Jazakumullah khairan katsir, Mbakku cantik. Ini Dewi yang lagi ngadmin.. hehehe... Sebelumnya barakallah yah atas sidang tesis Mba Ayu hari ini. Honor ditransfer ntar malem Insya Allah J. Begitulah respon panitia menanggapi hasil kerjaku sekaligus pemberian selamat atas sidang tesisku
Tak seperti biasanya, setelah mengirim hasil penilaianku, masih ada rasa janggal yang bercokol di hati. Siapa gerangan penulis cerpen ke 99 itu?? Karena kebetulan adminya sesama perempuan, aku pun mememberanikan diri untuk menulis, :
Afwan Dek Dewi, honornya buat Kas Mafaza Media aja. Sebagai gantinya, kasih tau mba donk nama penulis cerpen ke 99. Hehehe.. Aku benar-benar dibuat penasaran oleh penulis cerpen ke 99 itu.
Ibu masih di kontrakanku. Beliau bertekad datang ke sidang tesisku meskipun sudah kuhimbau untuk istirahat saja, kondisi badan ibu tidak terlalu fit hari ini. Aku pun berangkat dengan ditemani ibu ke ruang seminar fakultas biologi pagi ini. Teman-teman, adik kelas dan beberapa dosen memberiku ucapan selamat. Ba’da Ashar aku meresmikan outlet hijab ceria ketigaku sekaligus membuka acara Grand Opening Hijab Ceria dengan pemotongan pita. Lagi-lagi ibuku yang mendampingiku memotong pita.
“Nak, bulan depan yang ndampingin kamu motong pita di Ayam Kepruk Haltob Cabang Semarang suamimu yaa. Jangan ibu terus.” Aku merespon kata-kata ibu dengan senyum geli.
Ba’da magrib, Akh Fatih dan kedua orang tuanya datang ke kontrakanku. Ayah dari Akh Fatih adalah Investor terbesar Ayam Kepruk Haltob yang ku kelola. Wajar jika selagi ada ibuku di sini, mereka bersua untuk menyambung tali silaturahmi. Akantetapi, setelah beberapa saat berbasa-basi, disampaikanlah keperluan mereka, “Sebenarnya, maksud kedatangan kami ke sini, selain untuk menyambung tali silaturahmi, juga ingin mengkhitbah Neng Ayu untuk Fatih, anak kami.”
Aku dan ibu pun terkejut. Dengan harap-harap cemas, aku meminta waktu beberapa hari untuk istikharoh. Mereka pun berkenan menungggu jawabanku seminggu kemudian. Hari demi hari berlalu. Malam demi malam kuhabiskan untuk tahajud dan istikharoh. Ibu masih saja menemaniku untuk menghabiskan sepertiga malam.
“Nak, kau sudah menemukan jawaban yang pasti?” Itulah pertanyaan yang selalu ibu ajukan habis shubuh dan membaca al matsurat[6].
Aku menggeleng tak berdaya. Diam. Tak ada yang bisa ku katakan. Ini sudah hari ke enam. Besok ba’da Magrib aku harus memberi jawaban pasti. Hingga detik ini, Dek Dewi belum juga menjawab emailku. Pertanyaan besar mengenai siapa penulis cerpen no 99 belum juga terjawab. Pertanyaan itulah yang menimbulkan keraguan dan membuatku begitu gelisah.
“Nak, apa yang membuatmu ragu?”
“Ibu… sebenarnya…” Entah energi apa yang membuatku tak mampu berkata apa pun. Aku tak mungkin menceritakan kegundahanku yang tidak masuk akal itu pada ibu. Bagaimana bisa aku mencintai seseorang hanya dari tulisanya saja. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seseorang hanya dengan membaca cerpen karanganya saja. Bahkan aku tak tau siapa namanya. Dan bahkan aku tak mengetahui apakah dia lelaki atau perempuan. Bisa jadi ini bukan cinta. Bisa jadi ini hanya panah iblis yang melukai hati.
“Sebenarnya apa, Nak?” Tanya ibu penasaran.
Aku menggeleng, menangis, dan memeluk ibuku erat-erat. Masih dalam balutan mukena. Ibu mengelus pipiku, membalut air mataku sambil berkata, “Apa kau takut, Nak? Apa kau merasa belum mampu dan kuat?”
Aku diam membisu. Menatap ibu lekat-lekat.
“Nak, menikah itu shunnah Rasul yang sangat dianjurkan. Niatkanlah pernikahan yang akan kamu jalani itu semata-mata sebagai bentuk ketakwaan pada Allah. Insya Allah akan memampukan. Allah akan menguatkan.” Kata Ibu menguatkanku. Menepuk pundakku mantap. Aku tersenyum. Memegang tangan ibu. Lalu mencium telapak tanganya. Namun aku tahu, wanita sepeka ibu masih melihat seuntai kabut keraguan di wajahku.  Wajah yang ku jatuhkan di pangkuanya.
Ibu mengelus rambutku dan berkata lembut, “Atau kau meragukan Nak Fatih?” Kata Ibu. Lalu menghela nafas. “Nak, tak ada yang perlu kau ragukan dari Nak Fatih. Ia pemuda yang baik, sholeh, sukses, dan cerdas. Bukankah kamu juga pernah menceritakan kekagumanmu pada Nak Fatih. Ia yang menjadi Hafidz, meraih gelar Master di Universitas Al Azhar, Chairo, dan kini bekerja sebagai direktur perusahaan Syariah. Nak Fatih juga berasal dari keluarga baik-baik. Insya Allah ia cocok untukmu, dan engkau pantas untuknya. Apalagi yang membuatmu ragu?”
Kata-kata ibu sungguh mendamaikan jiwa. Aku terbangun dari pangkuanya, kemudian berusaha memantapkan diri untuk berkata, “I.insya Allah Ayu sudah mantap, Bu. tidak ada lagi yang membuat Ayu ragu.” Dan aku pun tenggelam dalam hangatnya dekapan ibu di pagi yang dingin itu.
Seminggu kemudian, akad dan walimatul ursy digelar di Masjid Agung Cirebon. Setelah aku mencium telapak tanganya, aku resmi menjadi kekasih halalnya. Inilah jatuh cinta yang sesungguhnya. Cinta yang jatuh pada yang selayaknya. Pada seseorang yang menghalalkan ikatan cinta dengan akad nikah, Mas Fatih kini menjadi suamiku, menyempurnakan setengah dienku.
 “Beep Beep!” Hp ku berdering, tanda ada email masuk.
Afwan mba telat banget njawabnya. Dewi baru ngadmin lagi nih. Padahal kemarin pengarangnya baru buka email ini. Pengarang cerpen no 99 itu PJ lomba cerpen ini, Akh Muhammad Al Fatih. Oh iya hari ini kan Mba menyempurnakan setengah Dien mba sama beliau. Barakallahu fii kum ya, Mba. Semoga dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. J
Jazakillah, Ukhti Shalikha. Aku tersenyum setelah membaca email Dewi. Ternyata tanpa sadar aku sudah jatuh cinta pada Mas Fatih sebelum aku menikah denganya. Untung sekarang ia telah menjadi kekasih halalku.
“De, Ade penasaran banget en ngefans banget ya sama penulis cerpen no 99?”
“Nggak cuma ngefans kok. Naksir malah.” Sontak jawabanku membuat Mas Fatih kaget. “Dia kan sekarang ada di hadapan Ade. Barusan Dek Dewi udah ngasih tau faktanya! Kenapa coba kemarin habis buka email mafaza media, tapi kok email Ade nggak dijawab?”
Mas Fatih mencubit  kedua pipiku dengan kedua tanganya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku. Sebelumnya aku tak pernah berbicara sedekat ini dengan lelaki. Tentu saja perilakunya membuat jantungku berdebar begitu hebat. Dalam jarak kurang dari 15 cm, ia berkata, “Biar bikin penasaran donk, Sayang.” Jarak wajahku dan wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan tiap nafas yang ia hembuskan, “ Jadi ade udah naksir mamas sebelum menikah dengan mamas?” Tanyanya memojokkan.
“Kalo iya kenapa?” Jawabku. Kembali menantangnya. Tak ada masalah kan? Toh sekarang aku sudah resmi jadi istrinya. Kataku memantapkan diri dalam hati.
“Mmmm.. Kalo iya berarti kita 1-1. Impas” katanya kemudian menghela nafas. “Sebenernya Mamas naksir Ade juga gara-gara mamas baca tiap kata yang Ade rangkai dalam cerpen Ade. Bahkan sejak pertama kali Ade mengikuti lomba cerpen yang diadakan Mafaza Media. Udah lama banget. Bahkan Mamas selalu kangen sama cerpen Ade saat Mamas di Chairo. Lama-lama Mamas ngerasa sakit banget kelamaan memendam perasaan ini. Akhirnya sore itu, mamas memberanikan diri untuk mengkhitbah Ade.”
Aku mencubit hidungnya, lalu mendorong wajahnya ke belakang. Mencoba mereduksi ketegangan syaraf-syarafku, “Hmmm… berarti Mamas pinter yaa.. Pinter memendam rasa.”
“Dan Ade paling nggak pinter memendam rasa. Buktinya langsung ketahuan lewat email. Hehehe..”
“Eh… gini-gini Ade juga bisa mbedain antara Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam dan Muhammad Al Fatih di depan Ade.”
“Ahahaha… Ya jelas beda lha. Emang menurut Ade bedanya apa coba??”
“Kalo Muhammaad Al Fatih dalam sabda Baginda Muhammad Rasullullah Shalallahu’alaihi wa salam menaklukan konstatinopel, Muhammad Al Fatih di depan Ade menaklukan hati Ade, dan kalo Ade mau menaklukkan dunia dengan goresan pena”
 “Hmmm… aamiin… Sebelum Ade menaklukkan dunia dengan goresan pena, taklukkan dulu hati Mamas malam ini…” Kedua tanganya menyentuh masing-masing tepi dari kedua pipiku, dan wajah kami saling mendekat. Ini adalah malam terindah yang Allah anugerahkan pada kami.
Biodata penulis
Nama saya Meliana Moga Yufita. Nama Pena Ukhti Shalikha. Alamat Bakulan Rt 06/03, Kemangkon, 53381, Purbalingga, Jateng. Nomor HP 085310359210, Twitter @meliyufita, sedang menjalani study S1 di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, semester 5. Memiliki Visi menjadi penakluk seperti Muhammad Al Fatih. Tapi  menaklukan dunia melalui goresan pena. Cerpen yang pernah diterbitkan : Ippho junior dalam Antologi Cerpen Indigenus  (Inovasi dan Kreasi Generasi Muslim) UKMI Fabio Unsoed dan Zinnia elegans dalam Antologi FF Tumbuhan Penerbit Panji. Pernah menjadi Runner up lomba menulis cerpen berbahasa inggris antar fakultas dalam English Festival, yang diadakan oleh BESt (Biology English Society). Syukron! J




[1] Unit  Kegiatan Mahasiswa Islam
[2] Halallan Thoyibban, usaha kuliner
[3] Toko jilbab
[4] Kutipan Buku Tausiyah Cinta
[5] Kuttipan lagu jodoh dunia akhirat-Maidany
[6] Dzikir pagi dan sore, karangan Hasan Al Bana

Azzzz!!! Mau bikin cerpen buat Indigenus UKMI malah nulis2 cerpen yang jadinya beginian... Mel Mel!!!!

THE DESTINY OF ELLY’S REPORT


“Gedubrak!!! Brak!! Brak!! Brak!!” He let my report papers down. Then fan in my beloved plant physiology laboratory let them flew away. I was still kept on my silence. Let sheet by sheet of my report were flown by that fan.
“Don’t you know?? It is the worst report ever!!!!” He said. And make me kept my silence again. Didn’t try to answer his question, cause I knew it would be worst if I spoke. I was really knew that! I understood him well. I knew why because he was still my boyfriend a semester ago. I usually call him Potter. Then I cut him down suddenly several month ago. But this semester, he is my Plant Physiology Lecture assistant. He still be the most temperamental boy in my life. Even if in front of me,  his ex-Girl Friend.
“Elly, I just…………….” He tried to hold my hand and I rejected his hand. “I don’t know what you think. I never understand you.” He said, and “Brak!!!!!!!” He get the table rang out by his hand. But suddenly I saw a tear dropped on his face as if the rain in the back of forth couple of window with forth blue curtain in this room.
“Do you cry?” I asked. Then I gave them my tissue.
He reject my tissue then he told me a thousand boring story that I have heard more than twelve times, he told me everything about Report Format, My faults, Photosynthesis, Carbon-Assimilation, Plant Physiology, Trees, Flowers, Leaves, until Fruits, Chlorophyll, and his research. Hoammzzz…. It got my mind to fly away in several month ago…. That shadow. Which still be memorized well in my cerebrum.
“But why??” He asked me directly.
“I think everything is clear. There’s no jealousy when I walk with another boy and also there is no jealousy when you walk with another girl. There’s no jealousy between us. It means there’s no love between us” I asked easily. Pretended  and acted as an innocent senior high school student.
“Why do you still like a senior high school student? It calls Trust. There’s no jealous doesn’t mean there’s no love. It is the deep trust. It is the deep love between us, Right?”
“No! It is the wrong feel. We cannot continue this relationship.”
“Ok! I’ll wait you until the end of my life. Whenever you go, whatever you do, I’ll be right here waiting for you.  Okey it’s wrong feel, but I hope it will be right in the future.”
“Don’t hope much or you will hurt much.” I said simply.
“No matter how much hurt that you carve in my heart. You will always be my best girl. Forever.”
Oh! Jleb! Potter, let me love you as if amylase that change amylum into glucose. Without any word. Let me love you without I say that I love you. Let me hide this wrong feel. If Allah would be really make it right, we’ll meet up in the right time. Love is not must be met up right? As if our love to our prophet also grow deeper even if we don’t meet him, Right?? Ah!! But that’s all just screamed in my heart.
“Still you save my roses in your bed room?”
“No.” I lied. “it moves in my bath room and thrown. I left them there to die.” Then I left him. He gave me roses, and I left them there today. At least that’s what he felt. And I was letting me cried by myself when I run in the most lonely place at my campus, toilet. Alone. No one knew, no one heard.
“Prang!!!!” A flower vase broke that shadow. “Hei, Elly!!!!! Listen to me, Please!” I  was still collected my soul when he asked me. Ooh!! The dream had thrown me away to this real world again. “Why do you submit your report revision with reused paper? Don’t you know it’s impolite?”
 “How about your hospitality to our nature? I do it because I am biologist conservator. I want to reduced my paper consumption by recycling reused paper. I just want to decrease global warming” I eventually explained the most reasonable reason in my mind.
Then he took one by one my report paper that has been flown by fan. And left  me alone in this green room. In the next morning, everyone felt so envy with me. I was the first who broke the record. my Plant Physiology report was accepted.

 Ahihihi ... cerpen ini aku tulis dalam waktu beberapa menit di E-Fest yang diadain BESt. Waktu itu Alhamdulillah aku jadi runner up waktu itu. Genrenya romance. wkwkwk... Juaranya si Anak JPK yang keren itu, siapa lagi kalo bukan Rafid. 
Edisi kurang kerjaan, mbahas masa lalu :O