"Bukanya diant anak departemen kemuslimahan rohis?" Tanya Mawar pada Halimah
"Iya" Halimah hanya mengangguk.
"Kok boncengan sama cowo?" Tegas Mawar lagi, masih saling berpandangan lekat dengan Halimah. mereka berda otomatis kaget
Ada tanda tanya besar dalam otak mawar ketika pemandangan itu tersaji di depan matanya. Praktikum Bakteriologi memang dimulai jam enam pagi. Ia juga golongan yang sama dengan diant, sama-sama bangun telat dan berangkat telat. Sama-sama dapat tebengan di tengah jalan, hanya saja mawar dapat tebengan dari perempuan dan diant dapat tebengan dari laki-laki.
Saat itulah dunia terasa semakin sesak, saat idealisme tertukar dengan lima menit sebelum jam enam. Jika bukan para muslimah yang menjaga izzah dan idealisme itu sendiri, siapa lagi??
Halimah perlahan menghilangkan kerutan di wajahnya, menganggap ini merupakan hal biasa yang memang sepantasnya berlalu. BUKAN!! BUKAN KARENA HALIMAH TIDAK PEDULI! BUKAN! BUAN BEGITU. Karena memang sudah terlalu banyak diant-diant yang lain.
mawarpun hanya tinggal diam, bisu, tak bisa berbuat apa-apa.
Ya Rabb... Beri hidayah
26 November 2014
Tragedi Berdarah
“Orang yang baik itu banyak, tapi yang tepat hanya satu.”
Mamen membuka diskusi sore itu dengan petikan kata dari Kurniawan Gunadi.
Mawar diam. Sedang mengikuti praktikum Biologi Jamur
Makroskopis. Usai praktikum, ia masih dikejar deadline laporan ekologi. Besok
jam dua siang harus sudah ditangan dosen. Ba’da ashar gadis itu mulai
mengerjakan. ‘Harta Karun’ ditemukan! Laporan kholas jam tujuh malam. Diapun
hanya mendiamkan sms itu hingga kholas shalat isya.
“Suatu hari nanti, aku pasti akan menemukan orang yang
tepat. Orang yang baik itu banyak. Namun yang tepat hanya satu. Sisanya adalah
ujian.” Mawar membalas sms Mamen dengan mengutip kata-kata Kurniawan Gunadi
juga. Oh ya Mamen yang ini adalah kakak sepupunya. Bukan mamen menyebalkan yang sok perhatian itu ya!
“Aamiin. Janji Allah itu pasti, Mawar.”
“Iya, Mamen. Kau tau? Aku merasa seperti hujan. Hujan lahir
saat hujan deras, matahari lahir saat mentari bersinar begitu terik. Mungkin
bayi-bayi yang lain dikandung ibunya selama sembilan bulan, tapi aku dan
matahari lahir dikandung selama belasan tahun. Bahkan hingga 20 tahun.
Hujan tumbuh menjadi gadis labil, matahari tumbuh menjadi laki-laki yang
dipenuhi rasa khawatir akan kelabilan hujan. Hingga suatu hari, datanglah pelangi, gadis
cantik dari negeri seberang. Matahari jatuh cinta. Hujan merasa kehilangan
mataharinya. Hujan cemburu. Tapi dalam perjalananya, hujan belum menemukan
samudera. Dan ia belum jatuh cinta.”
“Hah? Kamu kehilangan Mamas? Hahaha … Maaf ya setelah married mamas nggak bisa seintens dulu
nanganin kamu. ‘Mamas jahat’ mu nggak sanggup nanganin kelabilanmu ya? :D”
“Aku nggak peduli sama Mamen jahat. Aku nggak mau ganggu
mas-mas jahat yang lagi nggarap skripsi. Sibuk, Mas. Aku mau ketemu samudera.”
“Semoga kamu cepet-cepet ketemu You Know Who ya :D”
“Hah? Nama yang tidak boleh disebut itu?! :O. Eh tadi waktu
aku habis nerima sms mamas, habis praktikum BJM, terus pas lagi ngerjain
ekologi, aku liat You Know Who lewat
lho.”
“Nah! Itu udah ketemu :D"
“Jadi samuderanya itu yang namanya tidak boleh disebut?”
“Iya. Semoga. Mamas tidak sepakat dengan mamas jahatmu.
Mamas malah kasian padamu yang bertingkah sok menyebalkan dan berpura-pura
tidak melihatnya. Mamas tidak bisa membiarkanmu menderita, memaksakan dirimu
untuk tidak menspesialkanya seperti kamu menspesialkan ikhwah rohis yang lain.
Cukup. Gapai ridho-Nya dengan cintamu. Jangan siksa diri kamu terus, Mawar.”
“Sayangnya, aku tidak butuh dikasihani, Mamen”
“Tring … tring …” HP nya kembali berdering, ada balasan sms
dari Mamen. Tapi mawar lebih memilih untuk diam. Sama seperti diamnya pada You Know Who.
“Kecil mungil berwarna, warna-warni terangi alam. Sentuhan
karya indah jika tergambar baik …” HP mawar berdering. Mamen menelfon karena
sms nya tak terjawab. Tau pasti adiknya sedang galau.
Mawar mengangkat telfon. Tanpa kata.
“Mawar, kamu tau alasan mamas lebih cenderung pada seseorang yang
namanya tak boleh disebut itu?”
“…” Mawar masih memilih diam.
“Karena kamu terlihat begitu bahagia ketika mengaguminya,
meski ia masih selalu menyebalkan seperti kamu yang juga ikut-ikutan
menyebalkan di depanya. Meski kamu selalu tak dipedulikan, tapi kamu tak pernah
mempedulikan ketidakpedulianya.”
“Mamen, aku bobo dulu ya.” Sahut mawar. Masih merespon
kata-kata mamen tanpa kata.
Subscribe to:
Comments (Atom)