22 October 2015

Post Hoc Ergo Prropter Hoc.

"Saat aku sudah terbang, jadikan pertemuan kita sebagai prioritas paling akhir dari aktivitas-aktivitas lainnya. Jangan sampai kebersamaan kita justru lebih berharga dari kebersamaan dengan Allah." Begitu Kata Beta sebelum Ia terbang. Kali terakhir Ia mabit di kosku.

Akhir-akhir ini aku sering lari dari kenyataan. Lari begitu sjaa meninggalkan Beta. Sering membuatnya menunggu berjam-jam di depan laptop, kemudian penantianntya sia-sia, karena lampu hijau di samping namaku tidak menyala, mulai dari jam tiga pagi hingga menjelang shubuh aku tidak online. Oh ya jam tiga pagi di jepang sama dengan jam satu malam di Indonesia. Aku yang kebetulan terkena insomnia akut biasa bermain video call dengan Beta. Wi Fi di kos lumayan,Beta.

Peristiwa itu bisa terjadi selama satu-dua hingga tiga hari.  Seringkali Beta reflek menelfonku karena tiba-tiba aku mengentikan kebiasaan kita tanpa izin. Hanya malam kemarin dan malam ini Ia (untuk ke sekian kali) tidak bisa menghubungiku. Aku bingung ketika tadi, telfon Beta yang sudah ke beberapa belas kali kuangkat.

Beta menangis. Seumur hidup aku mengenal Beta, ini adalah kali pertama aku mendengar Beta menangis sampai sesenggukkan di telfon. Biasanya Ia hanya melelehkan setetes demi setetes air matanya kemudian segera mengusapnya.

Ada apa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Seperti yang Beta lakukan ketika aku berada dalam kondisi seperti itu, Aku diam. Membiarkan Ia terus menangis hingga kelelahan dan berhenti. Beta bertanya, 'kamu dari mana?"

"Habis diskusi."
"Bisa online?"
"Iya. Sebentar."

Jeng!Jeng!!! Kulihat Mata Beta yang lembab akibat aksi tangis tadi. Bodoh. Kenapa aku tersenyum?

"Kau menungguku bercerita, Mawar?"
"Tentu saja."
"Ia menarik nafas panjang. Kemudian tersenyum seraya menaikkan kacamata Conannya yang sempat turun."

Sebenarnya hari ini semua berjalan normal. Tidak ada apa-apa. Sungguh. Sesenggukan itu adalah ulah satu eksemplar buku. Polos. Lembaran-lembaran kertas yang dijilid oleh benang-benang itu membuat Beta nangis hingga sesenggukan di hadapanku?! Judulnya Rekayasa Sosial tulisan Jalaludin Rahmat.

Ayo langsung lompat ke Isinya. Fallacy of Misplaced Concretness. Misplaced berarti salah telak. Concretness artinya kekonkretan. Jadi, kesalahan berfikir ini muncul karena kita mengkonkretkan sesuatu yang pada  hakikatnya abstrak. Misalnya, mengapa orang Islam secara ekonomi dan politik lemah? Mengapa kita tidak bisa menjalankan syariat Islam dengan baik? Lalu ada orang menjawab : “kita hancur karena kita berada pada satu sistim jahiliyah. Kita hancur karena ada thagut yang berkuasa.” Tetapi, sistem jahiliyah dan thagut itu adalah dua hal yang abstrak. Sehingga jika jawabannya  seperti itu, lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mengubah sistem! Tetapi, “siapa” system itu? Sistem yang abstrak itu kita pandang sebagai sesuatu yang konkret?? Dalam istilah logika, kesalahan seperti di atas itu disebut reification. Yaitu, menganggap real sesuatu yang sebetulnya hanya berada dalam pikiran kita.

Rekayasa sosial memang selalu didampingi oleh demokrasi dalam pembahasannya. Rupanya Allah menguji daya tangkapku dalam MK 2 yang kemarin baru saja kuikuti. Tempatnya di depan UPT Perpustakaan Unsoed, banyak orang. Membuat mataku seringkali gagal fokus. Godaan membelokkan fokusku dari pembicara pada mas-mas dan mba-mba yang duduk di bangku batu di atas sana. Aaaa itu orang pacaran deh kemungkinan besar. Ketika kupalingkan mukaku ke samping, tringtring! Di gazebo juga ada mas-mas dan mba-mba yang lagi mojok. Kali ini ketika ada makhluk berkromosm XX dan XY, maka makhluk ketiga adalah setan. Iya! Setan itu bermetamorfosis menjadi sebuah laptop, laptop yang ada di pangkuan salah satu dari mereka berdua merekatkan jarak hingga eksistensi jarak itu hilang. 

Hei, Maw!! Itu kemaksiatan! Kenapa kamu tidak bisa menjadi sejenis Dodit Mentoring Men yang mampu mencegahnya. Apa? Apa jawabanku di Yaumul Hisab nanti ketika aku ditanya mengenai bagaimana tindakanku ketika melihat kemaksiatan yang saking maraknya  peristiwa ini terjadi sejak jaman dulu sampai dipandang biasa-biasa saja. Apa karena banyaknya orang yang sholeh tapi diam, kemudian pacaran bisa sesuka-suka merajalela. Aaaaaaaaa.... jangan-jangan aku juga mengalami kesalahan berpikir. Bahkan dua kesalahan sekaligus.

Fallacy of Retrospective Determinism. Istilah yang panjang ini sebetulnya hanya untuk menjelaskan kebiasaan orang yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Determinism selalu saja lebih memperhitungkan masa silam ketimbang masa mendatang. Dengan demikian, cara berfikir ini selalu mengambil acuan “kembali ke belakang” atau “sistem”. Karena itu, kesalahan berfikir ini disebut restrospective (melihat kebelakang). Determinisme restrospektif adalah upaya kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan (determined) di dalam sejarah yang telah lalu.

Post Hoc Ergo Prropter Hoc. Istilah ini berasal dari bahasa latin: post artinya sesudah; hoc artinya demikian; ergo artinya karena itu; propter artinya disebabkan; dan hoc artinya demikian. Singkatnya: sesudah itu-karena itu-oleh sebab itu. Jadi, apabila ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka kita menyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua.

Helloww!!! Aku bangun dari lamunanku. Kuingat-ingat dengan sekuat tenanga materi yang disampaikan Ustadz. Regardless suasana di UPT yang penuh perpacaran. Terjadi diskusi hangat terkait urgensi khilafah dan eksistensi demokrasi di Indonesia. Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati,

Jam 10 malam Indonesia sama dengan jam 12 malam Jepang. Beta terus menyerangku dengan sekelumit argumentasinya disertai analisis-analisis mendalam, tak lupa referensi-referensi pendukung. Sementara aku menjawab semua serangannya dengan referensi yang juga kumiliki. KUbolak-balik lembar demi lembar halaman buku yang pernah kubaca untuk menguraikan sedikit demi sedikit benang-benang kebrundetan dalam pikiran Beta.


"Ketika kamu berupaya untuk membunuh demokrasi, berpendapat sesuka hati di Negeri demokrasi, bukankah kamu sendiri sedang menikmati demokrasi? Pendapat, musyawarah, dan mufakat sangat dijunjung tinggi dalam demokrasi, termasuk pendapatmu itu. Saat orang-orang menentangmu justru mereka telah melanggar syariat dari demokrasi itu."

"Pendapatkku.. pendapatku masih bagian dari demokrasi, Maw? meski pendapat itu kuajukan untuk membunuhnya?!"

"Secara rasional seperti itu."

Temperatur diskusi yang dulunya hangat mulai memanas dan mencapai klimaks. Sakit. Sakit memang ketika idealisme berbenturan dengan realita. Sayangnya, diskusi malam ini masih mengambang. darah segar mengalir deras dari hidungku, membuatku lari. Lari dari kenyataan

Wallahua'lam bishawab. Kebenaran hanya ada di tangan Allah.

25 May 2015

Diskusi bersama Beta, Buku, Akh Harrry, dan Dina

Hujan rintik-rintik menghiasi kota satria. Ya!! Kota yang telah kuhuni sudah hampir lebih dari dua setengah tahun. Aku tak pernah mengerti dengan semua yang pernah terjadi hingga hari ini.Tentang seorang mahasiswa biologi yang salah jurusan, tentang jalannya yang sesat dan berliku, tentang otaknya yang entah sudah dicuci oleh beberapa manusia, hingga kembali kepada fitrah-Nya, meniti jalan cinta para pejuang. 
Diskusi panjang ini dimulai dari sebuah iklan shampo. Ketika aku dan... Sebut saja Beta sedang makan di warung makan 19 seberang kos'an. Mataku seolah terpaku melihat makhluk berkromosom XX membanggakan rambutnya yang berkilau setelah menggunakan shampo YY. Beta mengerutkan kening dan dengan nada sinis berkata, "korban sistem kufar!" 
"Sistem?" Tanyaku kemudian menyuap sesendok nasi goreng favorit. 
"Kita hidup di negara yang tidak menganut sistem islam. Yaa!! Makhluk-makhluk antiislam dengan mudah bermanuver menebarkan ajaran sesat mereka. Kita hidup di sistem yang salah. Demokrasi memberi kesempatan bagi iblis, setan, dan kroni-kroninya untuk berkembang pesat, Maw." Jelasnya panjang lebar. 
Aku meminum jus alpukat seraya membatin, Iya juga. Sistem di negara kita salah. 
Siangnya, aku mengajak Akh Harry untuk berduel. Kupaparkan fakta-fakta memilukan tentang islam yang tertindas oleh sistem negara kita. Okeh! Kuliah 66 SKS-nya kuringkas kurang lebih begini : 
Sistem negara kita adalah demokrasi. Iya! Demokrasi memang menghargai seluruh lapisan masyarakat yang ada di negara ini. Baik masyarakat islam, non-is, anti islam, hingga semua jenis aliran sesat yang ada. Pengambilan keputusan dalam demokrasi berada di tangan rakyat mayoritas. Fine. Keputusan yang diambilpun 'suka-suka' rakyat, tidak berlandaskan Al Qur'an dan As Shunnah. Oleh karena itu, Ada probabilitas untuk mengambil kebijakan yang bertentangan dengan islam, seperti yang sekarang terjadi. Misal pengumbaran aurat makhluk berkromosm XX di media massa itu. Solusi terbaik adalah kembali pada sistem islam, Khilfah islamiyah. Oke! Garisbawahi kata tersebut. 
"Khilafah seperti apa yang anti inginkan?? Penunjukkan pemimpin dalam kekhilafahan dari masa Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, hingga Umar Bin Abdul Aziz pun berbeda-beda. Tidak ditemukan standar baku dalam fakta sejarah." tanya Akh Harry. Aku masih diam. menantinya yang sedang mengetik...  
"Misal tentang hukum di Indonesia, jika anti tidak mengakui khilafah anti  sekarang (dalam konteks ini adalah presiden), sedangkan khilafah bertugas menikahkan warga negaranya. Sementara presiden mengamanahkan tugasnya melalui departemen agama dan KUA, sudah berapa perzinahan yang terjadi di Indonesia??" Sambungnya 
"Sebagai umat islam, tentu kita takkan membuang-buang waktu untuk bermusyawarah dan menentukan apakah kita akan mengizinkan atau melarang 'pameran rambut' itu di ranah publik, karena memang sudah jelas-jelas haram. Lepaskan seragam idealisme kita sejenak, tataplah realita agar kesenjangan antara idealisme dan realita itu tidak terlalu jauh dan anti tidak kecewa." Kira-kira begitu closing statement dalam diskusi siang itu. Aku, anak muda berjiwa membara yang idealis tingkat dewi masih bertekad meruntuhkan demokrasi dan menggantinya dengan sistem islamMalamnya, Dina meyakinkan aku tentang beratnya kaum proletar inggris meruntuhkan tirani penguasa hingga merebut kekuasaan dari rezim diktator menggunakan demokrasi. Iya! Sistem pemerintahan rakyat ini kurang-lebih mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah kemanusiaan selama 21 abad ini. Referendum untuk mengambil kebijakan demi kemaslahatan seluruh komponen umat dapat dilakukan melalui demokrasi. Secakep itukah produk barat yang kini menghegemoni dunia?? Aku masih geleng-geleng, tak percaya.Titik tolak pemikiranku terjadi ketika membaca buku tulisan Anis Matta yang berjudul Dari Gerakan ke Negara. Ide pokok buku ini menjelaskan bahwa Negara adalah sarana untuk menerapkan syariat islam. Abad 21 ini, Indonesia belum sanggup menerapkan syariat islam secara eksplisit dan holistik. Bukan karena cacatnya syariat islam, tapi sumber daya manusianya yang masih sangat jauh dari faqih terhadap agamanya. Itulah pentingnya dakwah di parlemen, meski lahan dakwah kita juga berada di ranah profesi, keahlian, dan kemasyarakatan. Dakwah ijtima'i harus berjalan secara sinergis, seimbang, dan proporsional, tanpa menghiraukan ada atau tidaknya khilafah.
Nah! Puncaknya ketika DM 2 di Malang, Akh Akbar Triandicha mengutip tulisan Hasan al Banna dalam buku Risalah Pergerakan, yang intinya ada tujuh tahap mencapai kejayaan islam, yang disebut dengan Marotibul Amal. Ini dia tahapnya :1. Ishlaahun nafs (Perbaikan diri sendiri) sehingga menjadi
  • mutsaqqaful fikr (cerdas wawasan),
  • qawiyyul jism (kuat fisik),
  • matiinul khuluq (kokoh akhlaq),
  • qaadiran ‘alal kasam (mampu berusaha),
  • saliimul aqidah (bersih aqidah),
  • shahihul ibadah (benar ibadah),
  • mujaahidan linafsihi (bersungguh-sungguh),
  • hariishan ‘alaa waqtihi (perhatian terhadap waktu),
  • munazhzhaman fii syuunihi (tertib dalam urusan), dan
  • naafi’an lighairihi (bermanfaat untuk orang lain).
  •  
Ini adalah kewajiban individu setiap anggota. Sepuluh proyek perbaikan diri itu sangat lengkap untuk setiap individu muslim dan dai muslim yang ingin terus meningkatkan kualitas dirinya. Segala konsep perbaikan harus dimulai dari diri sendiri,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(Q.S. Ar-Ra’du: 11).
Dan motor dari perubahan dalam diri adalah hati,
“Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada segumpal darah, jika baik maka seluruhnya baik, dan jika buruk, maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”(H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Bina’ul baiti Muslim (Pembentukan keluarga Muslim) dengan cara
mengarahkan keluarganya agar menghormati fikrah, menjaga adab islam dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam mencari istri dan melaksanakan hak dan kewajibannya, baik dalam mendidik anak dan khadimah serta membentuk mereka sesuai prinsip-prinsip Islam.
Ini juga kewajiban setiap anggota. Keluarga adalah lembaga yang sangat strategis dalam Islam, begitu strategisnya sampai Al-Qur’an dan Sunnah, dua sumber ajaran Islam memberikan porsi pembahasan tentang keluarga yang begitu besar.
Surat-surat An-Nisaa’, An-Nuur, Al-Ahzaab, At-Thalaq begitu sarat membahas detail-detail aturan keluarga dan pola hubungan antara pria dan wanita.
Begitu juga surat-surat dan ayat-ayat lainnya tidak pernah lepas dari sentuhan terhadap aspek pembahasan keluarga. Bahkan lebih dari itu, ada beberapa surat yang langsung menceritakan suatu keluarga dan diabadikan sebagai nama surat, seperti surat Ali ‘Imran, Yusuf,Ibrahim, Maryam, dan Luqman.
3. Irsyaadul Mujtama dengan menyebarkan dakwah kebaikan kepada masyarakat.
memerangi kehinaan dan kemungkaran, mendorong kemuliaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan berlomba melaksanakan kebaikan, mengarahkan opini umum agar berfihak pada fikrah Islam, dan senantiasa mewarnai kehidupan umum. Ini adalah kewajiban anggota dan jamaah.
Ada 3 pertimbangan utama jika ingin sukses berdakwah di tengah masyarakat, yaitu
Pertama: shidqul ma’lumat (benarnya ilmu dan informasi yang disampaikan).
Sampai sekarang lembaga Islam dan tokoh-tokoh islam yang bergerak di bidang dakwah masih banyak kesalahan dalam menyampaikan ilmu dan informasi, termasuk ilmu yang sangat mendasar seperti salah dalam membaca dan menafsirkan Al-Qur’an, salah dalam menukil hadits dan menerangkan derajat hadits. Banyak mubaligh dan penceramah yang masih menyebarkan hadits-hadits dhaif bahkan palsu dalam ceramahnya.Lebih parah lagi, jika lembaga yang menamakan Islam itu adalah lembaga dakwah yang menyimpang, baik dari aspek aqidah, ibadah, fikrah maupun manhaj. Maka sejatinya, lembaga semacam ini, bukan menjadi lembaga dakwah Islam, tetapi obyek dakwah dan irsyaadul mujtama .
Kedua: tanasub lissaami’ (materi dakwah yang disampaikan harus sesuai dengan pendengar atau obyek dakwah).
Oleh karenannya dalam berdakwah di tengah masyarakat yang kompleks harus memperhatikan Fiqih Dakwah dan Fiqih Waqi. Berdakwah dikalangan mahasiswa dan pelajar berbeda dengan berdakwah di kalangan karyawan dan profesional, berdakwah di tengah masyarakat tradisional berbeda dengan berdakwah di masyarakat modern.
Ketiga: al-usluub al-jayyid (metodologi yang menarik).
Di era modern ini sangat memperhatikan kemasan, retorika, keindahan dan penampilan, sehingga bagi para aktivis dakwah harus memperhatikan aspek ini agar dakwahnya tidak ditinggalkan oleh orang. Dan Islam tidak menolak segala hal yang terkait dengan keindahan dan penampilan yang menarik. Namun demikian Islam tetap sangat menitikberatkan aspek keikhlasan dan nilai. Husnul bidho’ah muqaddamun min husnid di’aayah (barang dagangan yang baik lebih diutamakan dari promosi yang menarik).
4. Tahriirul wathan dengan membersihkan diri dari kekuasaan asing ,tidak islami, baik politik ,ekonomi maupun moral.
5. Ishlaahul hukumah,  sehingga benar-benar sesuai dengan nilai Islam, dengan demikian pemerintah akan menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat dan bekerja untuk kemaslahatannya. Dan pemerintah Islam yaitu dimana anggotanya muslim menjalankan kewajiban Islam tidak terbuka dalam bermaksiat dan menjalankan hukum Islam dan ajarannya.n
6. I’aadah al-kiyaan ad-dauli lil ummah al-islamiyah dengan memerdekakan tanah air.
mengembalikan kejayaan, mendekatkan budaya dan menyatukan kalimatnya. Semua itu dilakukan sehingga dapat mengembalikan sistem khilafah yang hilang dan kesatuan yang diharapkan.
7. Ustadziyaatul ‘aalam dengan menyebarkan dakwah Islam keseluruh penjuru dunia.
“Supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Al-Anfaal: 39). “Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya.”(Q.S.At-Taubah: 32)
Dan akhir dari seluruh masyruu’ islami adalah bahwa harokah Islam menjadi guru dunia. Manusia tunduk dan patuh pada Islam, baik sukarela maupun terpaksa.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat- Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Q.S.Al-Maa-idah: 3).
”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.”(Q.S.An- Nashr: 1-3)
Cukup panjang yaa. Tidak sependek tekadku mengkudeta penguasa antiislam. kemudian cling-cling menggantinya dengan khilafah dalam waktu singkat.Nah! Sore ini (hahah sore ini beberapa bulan kemudian), saat MK 2, Ustadz Tafsir kurang lebih menambahkan begini : “Bahkan demokrasi adalah sistem yang melindungi seluruh golongan masyarakat meski masyarakat tersebut menentang demokrasi. Jika ada yang menyebarkan propaganda antidemokrasi di Negara demokrasi, ya dia berarti sedang menikmati demookrasi”“Ingat masa sebelum Umar Bi Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah?? Zaman kekhalifah Sulaiman Bin Abdul juga cukup memilukan bagi umat muslim meski sistemnya kekhilafahan, karena sistem tersebut dijalankan oleh sebagian besar orang yang dzalim.”  Kata Kak Dicha dalam sesi materi lain. Implikasinya, yang harus kita persiapkan terlebih dahulu adalah kapasitas SDM yang mumpuni serta basis massa yang kuat agar sistem ideal (red : islam) yang digunakan oleh para pendahulu kita dapat dijalankan tanpa kedzaliman di masa kini, sehingga nanti buahnya manis.  
Closing Statement :Sebagai umat muslim, tentu aku sepakat 100% akan diterapkanya sistem islam secara kaffah di negeri tercinta ini. Bukankah hukum islam mempermudah langkah kita menuju surga? Hanya muslim bodoh belum pintar yang tidak ridho menerapkannya. Faktanya sekarang, banyak muslim Indonesia yang belum pintar serta belum paham dengan ajaran agamanya secara menyeluruh, bahkan sampai ada fenomena ormas islam memboikot ormas yang memperjuangkan syariat islam #Miris.Bagiku demokrasi adalah medan perang. Perang yang dapat memberikan kita kemenangan atas musuh abadi KAMMI, Kebathilan. Melalui demokrasi, kita tidak hanya mengamalkan dalil dan wahyu-wahyu yang ada, demokrasi menuntut kita untuk menggunakan akal dan pikiran lebih banyak untuk merasionalitaskan nas-nas yang ada, demokrasi menjadi ‘alat’ yang dapat membuktikan pada seluruh umat manusia bahwa islam merupakan ajaran yang bersifat universal. Islam bisa hidup dalam sistem demokrasi, kita bisa menghidupkan nilai-nilai islam di sini, melalui perjuangan dalam pengambilan keputusan, agar kebijakan publik yang dihasilkan tidak bertentangan dengan syariat islam. Buktinya? Erdogan yang hidup di Negara sekuler pelan-pelan mampu menyuburkan nilai-nilai islam. Dimulai dari perjuangan mempertahankan hijab muslimah atas nama kebebasan menjalankan syariat islam, pengalihan kekultusan Mustafa Kemal Attaturk menjadi Muhammad Al Fatih, hingga puncaknya ketika AKP berhasil memenangkan pemilu secara demokratis, Erdogan perlahan mengubah kurikulum sekuler menjadi kurikulum islam, bahasa arab mulai digunakan sebagai pengantar di sekolah-sekolah. Kekhilafahan terakhir yang runtuh di sana kini mulai diterangi cahaya islam kembali.Menurut Rijalul Imam, Tauhid menjadi ajaran pembebasan yang melepaskan manusia kepada segala jenis perbudakan selain kepada-Nya, konsekuensi dari syahadatain adalah mengilmuinya. Ketika kita menyelami islam secara kaffah, kita akan memiliki kesadaran bahwa islam adalah agama yang syumul (sempurna). Problematika umat mulai muncul ketika sebagian besar umat tidak menyadari dengan pasti kesempurnaan islam. Saat ini kita tidak bisa mengelak fakta bahwa mayoritas muslim Indonesia belum memahami urgensi syariat islam dalam kehidupan individu, masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, peran strategis kita sebagai pemuda adalah menyiapkan letupan momentum. Tahap-tahap konkrit menyiapkan momentum ada dalam marotibul amal,  hingga puncaknya, islam menjadi saka guru peradaban (ustadziatul alam).
“Sesungguhnya kami telah memberikan padamu (Muhammad) kemenangan yang nyata.” (Q. Sal Fath : 1)
Actually, tujuan kita sama. Sama-sama menuju pada kejayaan islam. Tidak perlu mempertentangkan hal-hal furuiyyah yang dapat menyebabkan perpecahan. Afwan wa minkum…

Wallahua’lam bishawab…

15 April 2015

Entahlah... aku tidak menyangka

"Kamu begitu padai. Pandai menyembunyikan tangisan di balik senyuman." Katanya seraya memelukku yang sudah tak kuasa lagi menahan air mata. "Aku tahu jauh di lubuk hatimu kamu ingin menangis. Aku tahu ada rasa kehilangan teramat sangat yang harus kamu alami. Ada konflik batin yang tak terelakkan saat kamu harus pergi dari green house yang selama ini membuatmu merasa begitu nyaman menuju hutan belantara yang bahkan kamu sendiri masih meraba-raba." Ia terus menghujaniku dengan ribuan kata-kata seraya memelukku begitu erat.

"Aku tidak merasa terbuang. Aku hanya mengisolasi diriku sendiri untuk setidaknya mereduksi konflik batin yang berkecamuk. Aku tidak suka ada banyak godaan, perasaan, dan masalah-masalah yang akan membuat idealismeku terkikis lebih tipis lagi. Aku mengambil langkah ini dengan penuh kesadaran."

"Lalu kenapa kamu harus sesesenggukan ini?"

"Entahlah ... aku ... Aku hanya tidak menyangka, kenapa aku.. kenapa aku bisa pergi sejauh ini?"

10 March 2015

Kerja Peradaban

Aku seringkali tergelitik dengan kata-kata “anak rohis kok ...” kata-kata ini menekankan eksklusivitas dalam tubuh Lembaga Dakwah Kampus, yang justru membuat Aktivis Dakwah Kampus (ADK) bermetamorfosis menjadi Alien Kampus. Kenapa aku tidak memilih kos binaan?? Iya benar. Akhir-akhir ini aku menjadi pemberontak. Penentang konsep kos binaan. Coba kalo semua manusia yang baik-baik n sholeh-sholeh ngumpul jadi satu di sebuah kos’an, kapan akhwat yang ammah itu mau jadi akhwat beneran? Okelah boleh tinggal di Kosbin, tapi tidak untuk selama kalian jadi mahasiswa!
Afwan. Harusnya mengkader laskar dakwah nggak separsial itu, harusnya mereka nggak selamanya memenjarakan diri di kosbin dari maba sampe lulus. Mereka harusnya menyebar ke kos-kos yang ‘biasa-biasa’ aja, biar cahaya islam dapat terdistribusi dengan merata. Bukan malah bangga dengan keterasingan, kalian sendiri yang membuat islam menjadi asing. Jangan menyalahkan keadaan, akuilah autokritik ini untuk setidaknya memperbaiki keadaan. Iya. Islam memang akan kembali asing, tapi selama kita masih bisa berusaha, kemurnian islam di zaman ini masih tetap terjaga tanpa menjunjung dalih aliensi kan??
Masalah penjagaan, zaman sudah canggih! Ada HP sampai video call. Liqo? Masih sanggup kan setidaknya sepekan sekali? MR tak harus overprotektif dengan menjaga adik kesayangannya selam 24 jam full dari maba sampe lulus di kosbin, adik ini juga harus bisa menjaga adik-adiknya nantu. Cukup tingkatkan kesadaran mereka untuk menjaga diri. Estafet dakwah harus tetap berjalan. Kita tak bisa hanya mengendalikan kondusivitas ‘kos biasa’ aja dari luar kamar kan?   
Aku memang paling benci kalo ada yang bilang, “ADK kok pacaran” atau “ADK kok nyontek!” Sadarlah, Islam itu rahmatan lil ‘alamin, bukan cuma milik ADK. Kader ada di lembaga dakwah itu mbela islam, bukan mbela wajihah mereka. Jilbab bukan cuma milik akhwat di Lembaga Dakwah itu, tapi seluruh muslimah. Aku  suka menentang konsep parsialis, eksklusivitas, aliensi atau apalah  itu dengan konsep universalitas yang memang melekat sejak islam lahir.
Tentu akan ada perspektif yang berbeda  saat kita melihat kasus ADK pada boncengan padahal beda kromosom, dan ‘anak biasa’ a.k.a bukan ADK cewe-cowo pada boncengan.
Iya! ADK itu seperti ‘malaikat’ kok sepintas. Mereka adalah makhluk-makhluk yang hatinya digerakkan oleh Allah untuk membela agama-Nya. Kurang keren apa cobaa??? Tapi kita tetap tidak bisa menolak fakta kalau ADK & Non ADK sama-sama manusia beragama islam. Iya. ADK itu kenyataanya ya hanya manusia yang juga beragama islam, bukan malaikat!
Beda emang cara nasihatin anak yang sudah terbina secara intensif dengan mereka yang belum tau landasan fundamental kenapa nggak boleh boncengan dengan makhluk beda kromosom. Kalaupun mereka sudah terbina dan mengerti, bukan berarti mereka pasti memahami dan mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan. Tugas kita sebagai sahabat seperjuangan ya hanya sebatas mencari cara kreatif untuk menumbuhkan kesadaran, mengingatkan, dan mendoakan secara terus menerus. Kita juga tak boleh lelah mengajak mereka yang ‘anak biasa’ untuk berbuat baik n memperbaiki diri, itulah yang disebut kerja peradaban.

 Artikel ini ditulis saat aku masih semester tiga. Hahah ... sekarang gembok private post itu terpublish juga. Semoga bermanfaat! ^^

05 March 2015

Kisah Ruang Gelap untuk Rin

Hai, Rin!! Mmmm ... aku ingin bercerita tentang ruangan gelap.

Di bukit nan jauh, ada sebuah ruangan gelap. Orang-orang biasa masuk dan keluar ruangan itu. Ada yang masuk dengan tersenyum, ada pula yang masuk dengan menangis. Keluarnyapun ada yang tersenyum, dan adapula yang menangis. Kita tak pernah tau seperti apa bentuk dalam ruang gelap itu sebelum kita memasukinya. Aku ingin bercerita tentang beberapa orang yang memilih untuk tetap berada di ruangan itu dan memilih pergi saja.

Pertama adalah seseorang yang tujuh turunan atasnya memang menetap di sana, seperti sebuah dinasti yang menetap di sebuah istana. Ia hidup bahagia bak putri atau raja di ruang itu.

Kedua, orang polos yang bingung. Ia bingung harus berbuat apa ketika memasuki sebuah wilayah asing baginya. Ruang itu setidaknya memberikan space bagi orang kedua untuk berteduh.

Ketiga, orang yang memilih ruang itu di antara baaanyaaaak pilihan yang tersaji. Kau tahu apa jadinya?? Ia masuk dalam keadaan tersenyum, dan keluar dalam keadaan menangis. Ia kecewa. Karena ruangan itu tidak memberikan apa yang ia harapkan. Keempat, orang yang memiliki perasaan yang berkebalikan dengan orang yang ketiga. Bisa dibilang kelanjutan kisah orang ketiga. Ia pergi dari ruangan lain, menuju ruangan itu. Apa yang ia dapat? Kecewa juga.Tanpa ia sadari bahwa semua ruangan di dunia ini pasti memiliki sisi negatif dan sisi positif. Kata Mas Gun, jika ingin mencintai dengan sempurna jangan awali dengan perbandingan. Buang-buang energi.

"Ayolah kawan! Kita hanya manusia. Bukan Tuhan!! Tentu kita tak harus mendapatkan hal yang sempurna tanpa cela." 

Orang yang kelima adalah orang yang sangat mencintai ruangan yang ia tinggali itu. Ia membabi buta membela ruangan itu meski semua orang di dunia mencaci kegelapannya. Apa itu baik?? Tentu saja menjijikan!! Akal sehatnya telah dimutilasi oleh cinta  tepatnya taklid. Pikirannya tertutup, Pandanganya sempit.

Orang yang keenam adalah mereka yang mengetahui kegelapan dalam ruangan itu, Pergi ke ruangan lain (awalnya) menjadi pilihan yang tepat. Mungkin memang lebih nyaman di ruang sebelah, tapi semakin jauh ia meninggalkan ruangan itu, ruangan itu akan terlihat semakin gelap. Matanya akan semakin sakit menatapi kegelapan. Karena itulah mereka kembali. Menetap di ruangan itu dan menyalakan lilin. Ruang itu bukan lagi menjadi pilihan, tapi tujuan. Ruang itu tak hanya tempat singgah, tapi rumah.



The Slipery Slop

Hai Beta,
Aku menulis tentangmu di sini. Kenapa tidak di wordpress? aku mood di sini. Kuyakin kau masih ingat waktu yang pernah kukalkulasikan denganmu. Hahah.. anggap saja itu idealismeku. Karena realismenya begini :

Haahah... sangat menyedihkan. Idealnya aku mengambil paling tidak 23 sks semester ini. Tapi apa??? Aku hanya mampu mengambil 22 sks. Bukan karena IP, Beta. Tapi waktu. Kelas Mikroteknik B full. Aku jadi ambil Mikroteknik kelas A. Akibatnya, Pengandalian Hayati kelas yang pertama bentrok Mikroteknik. Kemudian pengendalian hayati kelas kedua bentrok dengan Limnologi. Aku nggak jadi ambil PH dan memutuskan buat ngulang Biologi Sel. Ini pertama (dan semoga yang terakhir kalinya) aku  ngulang. Rasanya?? Bertiga di kelas yang asing bersama adik angkatan? Malu? Kocak? Aaaaaaa..... semua bercampur jadi satu. Ada semacam tekanan psikologis. Tapi materinya terlihat tidak lebih sulit dari yang dulu. Optimis!!! (y)

Bukan takabur, Beta!!! Aku hanya berusaha berfikir positif. Semoga aku mampu memetik hikmah dari kegagalan kalkulasi waktu yang slipery slop (sebut saja berdampak sistemik) ini. Mata Kuliah Biologi Sel yang kuambil semester ini bukan hanya mengulang dan memberikan sekadarnya. Pokoknya Minimal A!!! 

IP Oriented???!!! No!!! Aku bukan binatang ternak yang hanya diam dan senyum-senyum sendiri saat melihat huruf A di KHS. Aku adalah tipe manusia yang mampu mempertanggungjawabkan intelektualitas di balik huruf-huruf itu!!!

Dapet A? Kadang bukan Alhamdulillah yang reflek terucap  Kok bisa?? Oh iyaa... waktu UAS, UTS, Tuter, Presentasi dkk kan aku emang lagi hepi. Alhamdulillah ya Rabb... :D
Dapet B? Alhamdulillah daripada C
Dapet C?? Ngulang nggak yaaa??? Ooooy!!! Alhamdulillah dulu daripada dapet D atau E!!! Lebih cenderung males ngulang. Hahahah... aku emang lebih suka menikmati kekayaan Mata Kuliah Pilihan di kampus daripada ngulang, istilahnya buang-buang waktu. Dosen PA ku juga bilang kalo masih C ngga usah ngulang :P
Dapet D? Dapet E?? Alhamdulillah Allah menyelamatkan. Karena nilai minimal yang aku dapet sampe detik ini itu C. I am Save!!!

Hahahah!! Aku masih sangat angkuh kan, Beta? Tak apa laaah!! Daripada aku menghabiskan waktu untuk memaki-maki manusia yang membuat moodku hancur :P

Aku mempertanyakan keangkuhanku sendiri. Bukankah orang gila tak akan menyebut dirinya gila??

16 February 2015

Beberapa Buku yang Harus dibaca Sebelum Lulus

15 buku pertama harus kubaca sebelum awal maret
1.      Aqidah Islamiyah  -  Sayyid Qutub
2.      Manhaj Haroki Jilid 1  -  Muhammad Ghadban
3.      Manhaj KAMMI  -  Tim Manhaj KAMMI
4.      Tafsir Fi Zhilalil Quran Juz 30 (Surat 89-114)  -  Sayid Qutub
5.      Madarijus Saihin  -  Ibnu Qayyim Al Jauziyah
6.      Ibadah Dalam Islam  -  Yusuf Qardhawi
7.      Al Islam  -  Said Hawa
8.      UUD 1945  -  Tim Visimedia
9.      Api Sejarah Indonesia Jilid 1  -  A.Mansur Suryanegara
10.     One Purpose Milion Ways  -  Carol Addrienne
11.     Pemikiran Politik Dalam Al Quran  -  DR Tijani Abdul Qadir Hamid
12.     Membina Angkatan Mujahid  -  Said Hawa
13.     KAMMI dan Pergulatan Reformasi  -  Mahfudz Shidik
14.     Model Manusia Musllim Abad 21  -  Anis Matta
15.     Ijtihad membangun basis gerakan  -  Amin Sudarso
16.    Al Wala Wal Bara - Muhammad bin Sa’id Al-Qathani
17.    Risalah Pergerakan -  Hasan Al-Banna
18.    Komitmen Muslim Terhadap Harakah Islam - Fathi Yakan
19.    Tafsir Fi Zhilalil Quran Juz 30 (Surat 78-88) - Sayyid Qutub
20.    Minhajul Muslim (Ensiklopedi Muslim) -  Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
21.    Fiqih Sunnah - Sayyid Sabiq
22.    Fiqih Dakwah - Jum’ah Amin
23.    Sejarah Islam (sejak nabi Adam hingga abad XX) - Ahmad Al-Usairy
24.    Pergulatan ideologi partai politik di Indonesia - S. Kirbiantoro ,Dody Rudianto
25.    Karakteristik Umat Terbaik - Prof DR Ali Abdul Halim Mahmud
26.    Api Sejarah Indonesia - A. Mansur Suryanegara
27.    Rahasia Sukses Orang-Orang Sukses - FBI Ruslanputra
28.    Memahami Ilmu Politik - Ramlan Surbakti
29.    Re-Code Your Change DNA - Rhenald Kasali
30.    Skill With People - Les Giblin
31.    Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal - Dr Shadiq Amin
32.    Menjadi Manusia Pembelajar - Andrias Harefa
33.    Seven Habits - Stephen Covey’s
34.    Menyucikan Jiwa - DR.M.Abdul Qadir Abu Faris
35.    Pilar-Pilar Kebangkitan Umat - Abdul Hamid Al Ghazali
36.    Kiat Membersihkan Hati Dari Kotoran Maksiat - Ibn Qayyim Al Jawziyyah
37.    Energi Ibadah - Syekh Tosun Bayrak & Murtadha Muthahhri
38.    Relasi Islam dan Negara Perspektif Modernis dan Fundamentalis - Kamaruzzaman
39.    Dari Puncak Bagdad (sejarah dunia versi Islam) - Tamim Ansary
40.    Agama dan Negara Perspektif Islam - M Natsir
41.    Becoming Unstoppable Menang Dalam Olimpiade Kehidupan Anda - Ruben Gonzalez
42.    Rekayasa Masa Depan Menuju Kemenangan Dakwah Islam - Cahyadi Takariawan
43.    Super Muslim - Imam Munadi
44.    Change - Renald Kasali
45.    Kompetensi Plus Teori,Desain, Kasus dan Penerapan Untuk HR Serta Organisasi Yang Dinamis - Parulian Hutapea,MBA dan Dr. Nurianna Thoha,MBA
46.    Membingkai Kammi  -  Alikta Hasna Safitri
47.    Islam Liberal 101 - Akmal Sjafril
48.    Putusin Nggak Ya? -  Edi Akhiles
49.    CEO Koplak Edi Akhiles
50.    Silabus Menulis Fiksi dan Non Fiksi Edi Akhiles
51.    Salon Kepribadian - Asma Nadia
52.    Cinta di Ujung Sajadah Asma Nadia
53.    Catatan Hati Seorang Istri - Asma Nadia
54.    Bunda Jangan Bercerai- Asma Nadia
55.    Assalamu’alaikum Beijing- Asma Nadia
56.    Sakinah Bersamamu- Asma Nadia
57.    Kapita Selekta Kultur In Vitro Tumbuhan  -  Y.S Manuhara
58.    Writerpreneurship - Shirene
59.    Ketika Dhira Jatuh Cinta - Nadhira Arini Imamah
60.    ON - Jamil Azzaini
61.    Marry Me or Never - Jamil Azzaini dkk
62.    Tuhan Inilah Proposal Hidupku - Jamil Azzaini
63.    Pemulihan Jiwa 1 - Deddy Susanto
64.    Indahnya Pacaran Setelah Pernikahan - Salim A Fillah
65.     Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A Fillah
66.    Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim  - Salim A Fillah
67.    Dalam Dekapan Ukhuwan  - Salim A Fillah
68.    Agar Bidadari Cemburu - Salim A Fillah
69.    Lapis-lapis berkah - Salim A Fillah
70.    Udah Putusin Aja  - Felix Siaw
71.     Muhammad Al Fatih 1435 - Felix Siaw
72.    The Chronicle of Ghazi - Felix Siaw
73.    Yuk Berhijab -  Felix Siaw
74.    Beyond The Inspiration - Felix Siaw
75.    Api Tauhid - Habiburrahman El Shirazy
76.    Pudarnya Pesona Cleopatra - Habiburrahman El Shirazy
77.    Bumi Cinta -  Habiburrahman El Shirazy
78.    Takbir Cinta Zahrana - Habiburrahman El Shirazy
79.    Ketika Cinta Bertasbih -  Habiburrahman El Shirazy
80.    Dalam Mihrab Cinta -  Habiburrahman El Shirazy
81.    Ayat-Ayat Cinta -  Habiburrahman El Shirazy
82.    Elang Selebritis  - Afifah Afra
83.    100 Bunga Mawar Untuk Mr Valentine  - Afifah Afra
84.    Cinta Gaya Britney  - Afifah Afra
85.    Kado Untuk Sahabat - Izzatul Jannah
86.    The Collapse of Evolution Theory  - Harun Yahya
87.    Perjuangan Melawan Kalah - Nasihin Masha
88.    99 Cahaya di Langit Eropa - Hanum Rais
89.    Halaqah Cinta
90.    Nikah Muda Siapa Takut - Ahmad Rifa’I Rif’an
91.    Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk  - Ahmad Rifa’I Rif’an
92.    Siapa Bilang Nulis Buku Itu Susah - Ahmad Rifa’I Rif’an
93.    Jangan Kuliah Kalo Nggak Sukses - Setya Furqon Khalid
94.    Kupilih Engkau Karena Allah - Jauhar Al Zanky
95.    Tuhan Maha Romantis - Azhar Nurun Ala
96.    Dunia Sophie -  Jostein Gaarder
97.    Di Bawah Lindungan Ka’bah - Hamka
98.    Tenggelamnya Kapal Vanderwijk  - Hamka
99.    Perempuan Berkalung Sorban - Abidah Al Khalieqy
100.Laskar Pelangi - Andrea Hirata
101.Sang Pemimpi - Andrea Hirata
102.Edensor - Andrea Hirata
103.Maryamah Karpov - Andrea Hirata
104.101 Dosa Penulis Pemula - Isa Alamsyah