25 February 2016

Terima kasih telah berhenti mengharapkanku



Sebuah jalan yang dilalui banyak kendaraan ...
Aku ingat kali terakhir kita berbincang sambil memandangi jalan ini..
Tepatnya kali terakhir kita ngobrol di sini
Kamu bilang ...
Bagaimanapun jalan kita masing-masing nanti
Semoga Allah memberikan takdir terbaik untuk kita

Malam itu kamu membuat sebuah keputusan.
Keputusan untuk mengakhiri semua harapan yang bisa jadi hanya akan menyakiti di masa depan. Kita seperti sepakat untuk tidak membebani pikiran dengan hal-hal yang sebenarnya sudah digariskan oleh-Nya. Kamu melepas kacamata tebalmu, memandang arah jalan dengan tatapan kosong. Hening. Aku hanya menunduk, tak tahu harus berkata apa.

Bingung juga. Kenapa tiba-tiba kamu berkata bahwa semua harapan harus diakhiri. Selama ini aku tak pernah mengharapkan apapun padamu. Bukan. Tepatnya pada takdir kita. Kita? Bahkan kamu tidak masuk dalam peta hidupku. Haha .. aku sedikit merasa bersalah, tatapanku saat itu hanya berarti rasa kasihan. Kamu sendiri yang menciptakan dan menyuburkan harapan-harapan itu, dan kamu pula yang mematahkannya. Sementara aku yang kamu harapkan masih saja diam di titik yang sama, tanpa kembali mengharapkanmu.

Kemarin aku sempat berdiskusi dengan Lam tentang kamu, manusia di pojok sana yang tak kusangka masih setia membaca blogku hingga kini. Terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca untaian kata di sini.

Aku berencana mengumpulkan tulisan-tulisan yang selama ini tercecer di sini. Entah kenapa rencanaku demikian.

Terima kasih telah berhenti mengharapkanku dan meyakini dengan pasti bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Setidaknya tanpa kusadari di masa lalu, aku tidak menjadi sebab ketidaktaqwaanmu pada Allah akibat rasa-rasa yang tidak diridhoi oleh-Nya.

Thanks for being my friends.