15 April 2015

Entahlah... aku tidak menyangka

"Kamu begitu padai. Pandai menyembunyikan tangisan di balik senyuman." Katanya seraya memelukku yang sudah tak kuasa lagi menahan air mata. "Aku tahu jauh di lubuk hatimu kamu ingin menangis. Aku tahu ada rasa kehilangan teramat sangat yang harus kamu alami. Ada konflik batin yang tak terelakkan saat kamu harus pergi dari green house yang selama ini membuatmu merasa begitu nyaman menuju hutan belantara yang bahkan kamu sendiri masih meraba-raba." Ia terus menghujaniku dengan ribuan kata-kata seraya memelukku begitu erat.

"Aku tidak merasa terbuang. Aku hanya mengisolasi diriku sendiri untuk setidaknya mereduksi konflik batin yang berkecamuk. Aku tidak suka ada banyak godaan, perasaan, dan masalah-masalah yang akan membuat idealismeku terkikis lebih tipis lagi. Aku mengambil langkah ini dengan penuh kesadaran."

"Lalu kenapa kamu harus sesesenggukan ini?"

"Entahlah ... aku ... Aku hanya tidak menyangka, kenapa aku.. kenapa aku bisa pergi sejauh ini?"