11 November 2014

Lingkaran


Hwaaah … Udah dua setengah tahun aku kuliah di Unsoed. Tau nggak? Udah empat kali aku gonta-ganti MR. MR Pertamaku sebut saja Mba ini. Dari Mba ini, aku banyak belajar tentang Media dan managemen issue, aku lebih menghayati peran dan amanahku sebagai admin akun lembaga dakwah yang aku pegang, kadang aku harus menentukan ke mana bahtera isu ini diarahkan (????), “Cerdas bermedia” setidaknya itu kosa kata dari seorang mahasiswi ilmu komunikasi yang masih terekam jelas di otakku. Sayangnya aku liqo’an sama mba itu cuma sebentar sii. Nggak kerasa banget, tau-tau mba nya udah mau lulus aja.. Mba nya nggak di PWT dan kita dighibahin ke MR yang ini.

Sama MR yang ini, aku mendapat banyaaak sekali kajian ideologis. Beliau setipe sama Mba Al. Kajian ideologis dan filosofis islam itulah yang bikin aku tau landasan fundamental islam, yang bikin aku nggak ragu dalam melangkah. Mungkin sebagian orang bilang filsafat dan ideologis itu bikin orang gila karena memusingkan, tapi kalo seorang manusia udah tau hakikat penciptaan manusia itu sendiri, ia akan merasa bersyukur dan selalu semangat menjalankan perannya sebagai manusia, dan menjadi bagian dari percaturan dakwah. Islam itu kaffah, makanya dakwah nggak boleh parsial. MR yang ini ngajarin aku banyaaak banget sesuatu yang aku nggak tau, ngasih aku banyak hal-hal baru, setelah aku belajar banyak hal-hal dasar mengenai tarbiyah di MR ini. Aku ngerasa ketemu Mba Al senior kalo liqoan sama MR yang ini. Aku punya banyak ruang untuk bertanya dan menghilangkan keraguanku, meski MR yang ini paling nggak suka dipotong pembicaraanya. Tapi di situ aku banyak belajar dewasa dan mendengarkan orang lain. Seenggaknya aku sedikit diperhatiin, diomelin, dan ditegur gara-gara aku masih sms nggak jelas sama ikhwan lah, masih suka pergi sendiri jauh-jauh, atau sekedar mencari ketenangan diri di UPT tapi sendirian, dan masih ngelanggar jam malem, atau diskusi tentang kajian ideologis tanpa kesimpulan yang jelas sama abang-abang lain berdua di message *TepokJidat.

Aku ngerasa gagal ndeketin MR-MR-ku yang sebelumnya. Sebenernya bukan SKSD dan bermaksud ngilfilin, aku cuma mau mengakrabkan diri dengan MR-MR ku biar keliaran yang masih saja bersarang di otakku bisa mereka kendalikan. Nah! kalo sama MR yang ini & sama Mba Al, aku seolah tega aja mbiarin mereka keteteran atau sia-sia buang waktu sama aku, gara-gara aku curhatin dan nanya-nanya hal-hal yang masih kabur dalam pandanganku. Ya! dua MR itu bener-bener jadi korban kekejaman rabunnya  sudut pandang dan pemikiranku. Kaya simbiosis parasitisme yak. Tapi, aku selalu berdoa kok sama Allah, semoga emosi, tenaga, waktu, dan kesabaran yang terkuras oleh MR-MR itu buat aku, dibalas Allah dengan jannah-Nya. Aamiin

Mungkin itu lah yang bikin aku mengalami peristiwa yang paling menyedihkan,  waktu MR yang  ini ‘ngasihin’ aku ke MR lain. Panggil saja MR itu. Luka pertama, mungkin disebabkan karena aku sangat kehilangan sesuatu yang berharga dan baru aku temukan. Sungguh. Aku tidak bermaksud mendeskriditkan kemampuan MR itu atau meragukan kemampuanya dalam memegang aku. Bukan. Luka akibat kehilangan yang teramat sangat itu mendominasi hatiku. Aku butuh waktu yang lama dan banyak sekali tenaga untuk menghapus luka itu sendirian. Aku berusaha banget ndeketin MRku yang itu. Aku berusaha cerita The Most Sensitive Part in my life. Health. Awalnya, aku bisa cerita semua itu. Permukaanya aja. Dari MR itu, aku juga sebenernya punya perasaan yang hampir sama dengan MR ini, aku takut sama Mahasiswi tingkat akhir yang lagi mikirin tugas akhir, aku takut membebani bebanya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang memang berat dengan bebanku. Aku lebih banyak berbagi beban dengan Allah, banyak merenung dan menanyakan banyak hal pada diriku sendiri.  Tapi aku berusaha sendiri membuka ketertutupanku pada beliau. Aku emang introvert, dan saking introvertnya, semua orang memandang aku ekstrovert. Aku terlalu pandai menyimpan rahasia dan  tekanan yang kualami dalam hidup, jauh di lubuk hati yang terdalam hingga pandangan mata pun sanggup menutupinya. Tapi sampe liqo terakhirku, aku gagal membuka ketertutupan itu. Aku cuma bisa berkaca-kaca di depan Mba itu sambil bilang, Mba, aku bingung harus ngomong apa, kondisiku nggak memungkinkan aku cerita ke orang lain saat ini. Aku pengin banget berbagi beban sama mba itu, tapi lidahku tercekat. Aku kadang bingung sendiri dan nanya, aku kenapa ya? Bahkan saat MR itu masih sama aku, aku malah lebih suka curhat sama MR yang ini, aku nulis status kangen saamaa MR yang ini segala di WA ku, Ya Allah, aku jahat banget sama MR itu.Dan mungkin MR itu juga nggak ngerti gimana lagi harus mengendalikan aku, beliau cuma bilang, Tafadhol. Entahlah. Cuma kata itu yang terekam menjelang akhir liqo. Beliau ngerasa nggak peduli dan perhatian sama aku, padahal aku bener-bener nggak menginginkan hal itu. Aku bener-bener nggak mau nyakitin MRku dengan membuat beliau merasa gagal merhatiin dan mempedulikan aku.  Mungkin, luka pertama itu yang bikin aku nggak bisa mengurai keruwetan pikiran-pikiranku terhadap banyak hal. Aku jadi nggak banyak bertanya dan sukanya ia-ia aja. Aku jadi lebih suka mengiyakan dan berusaha memahami sendiri semua materi yang MR itu kasih. Ya Rabb, ampuni dosaku menyakitinya, balaslah kesabaranya dengan surga-Mu.

Puncaknya, setelah MR itu ngasih aku ke MR yang lain, MR keempat selama aku kuliah, aku ngerasa nggak nemu semua yang aku mau di liqo yang selama ini aku ikutin. Aku malah bisa mengurai benang-benang keruwetan itu di forum lain. Aku bisa belajar banyak hal di luar liqo. Ketambahan MR keempat itu juga mahasiswa tingkat akhir, aku udah kenal beliau sebelumnya. Aku ngerasa jarak usia yang terlalu dekat justru bikin aku ngerasa makin introvert, sekali lagi aku nggak meremehkan kemampuan beliau, aku nggak meragukan kapasitas beliau gara-gara angkatanya satu tingkat di atasku, enggak, aku cuma aku takuuut, aku takut banget sms atau cerita apapun ke MR keempat ini, atau sekedar nanya, kapan liqo. Aku takut sikapku yang emang liar, sok-sokan gitu dan seringkali liberal+rasional bikin beliau ilfil. Bahkan aku sendiri takut untuk menghadapi kenyataan kalo aku ini seorang penakut. Aku bingung banget, serba salah. Aku bahkan pengin keluar dari lingkaran ini jauh hari sebelum L menyatakan keinginanya yang serupa denganku. Iya. Baik enggak nya manusia dilihat dari ketaqwaanya di mata Allah, bukan dari liqo enggaknya. Liqo itu cuma bagian dari alat yang dipakai suatu harokah, sebut saja tarbiyah, sama dengan tahlilan atau shalawatanya PMII dan forum-forum lembaga dakwah yang lain, yang juga mengadakan kegiatan beda rupa dengan tujuan yang sama, pengkaderan, pembinaan, pengkaryaan. Aku nggak harus mewajibkan diriku sendiri untuk liqo kok, ilmu yang aku mau nggak harus dikasih dari MR. Aku juga memahami konsep itu.

Tapi kenapa aku masih berusaha bertahan? Karena aku berusaha membangkitkan kesadaranku sendiri di sini. Kulihat tarbiyah berbeda dengan ruang lain yang mungkin tidak terlalu sering aku kunjungi, tarbiyah memberiku banyak ruang luas untuk bertanya dan menghapus keraguan-keraguanku. Tarbiyah tak pernah memaksaku untuk menerima doktrin-doktrin mereka. Selalu ada hikmah dibalik instruksi. That’s what I want. Kalaupun, di wajihah ini, tempat yang selama ini aku tempati banyak lubang-lubang, aku tak harus meninggalkan tempat ini kan? Kalau aku meninggalkanya, lubang-lubang itu akan tetap menganga. Aku tidak mau menjadi bagian dari golongan sakit hati yang selalu memelihara sakit hatinya. Aku mau menyembuhkan lukaku dengan menutup lubang-lubang itu. Karena sekarang, aku menjadi bagian dari tarbiyah bukan karena aku mau ikut-ikutan Mba Al lagi, aku di sini atas kesadaranku sendiri. Camkan itu!

Mungkin kesan pertamaku dengan MR-ku yang keempat tak sebaik saat aku bertemu dengan MR yang setipe sama Mba Al. Oh ya Mba Al dan MR ku yang keempat usianya sama lho. Kuharap kisah ini seperti cerpen-cerpen terkenal, awalnya tidak teralu baik, kemudian mungkin memburuk hingga klimaks, tapi setelah klimaks akan ada penyelesaian dengan ending bahagia yang memuaskan. Aku selalu yakin, Allah tak pernah berniat menyakitiku, ataupun semua MR-MRku yang selalu kucintai karena-Nya. Allah pasti akan memberikan takdir yang terbaik.

Kalo nggak ngerti nggak usah nanya. :D

No comments: