Hwaaah … Udah dua setengah tahun aku kuliah di Unsoed. Tau
nggak? Udah empat kali aku gonta-ganti MR. MR Pertamaku sebut saja Mba ini. Dari
Mba ini, aku banyak belajar tentang Media dan managemen issue, aku lebih
menghayati peran dan amanahku sebagai admin akun lembaga dakwah yang aku
pegang, kadang aku harus menentukan ke mana bahtera isu ini diarahkan (????), “Cerdas
bermedia” setidaknya itu kosa kata dari seorang mahasiswi ilmu komunikasi yang
masih terekam jelas di otakku. Sayangnya aku liqo’an sama mba itu cuma sebentar
sii. Nggak kerasa banget, tau-tau mba nya udah mau lulus aja.. Mba nya nggak di
PWT dan kita dighibahin ke MR yang ini.
Sama MR yang ini, aku mendapat banyaaak sekali kajian
ideologis. Beliau setipe sama Mba Al. Kajian ideologis dan filosofis islam
itulah yang bikin aku tau landasan fundamental islam, yang bikin aku nggak ragu
dalam melangkah. Mungkin sebagian orang bilang filsafat dan ideologis itu bikin
orang gila karena memusingkan, tapi kalo seorang manusia udah tau hakikat
penciptaan manusia itu sendiri, ia akan merasa bersyukur dan selalu semangat
menjalankan perannya sebagai manusia, dan menjadi bagian dari percaturan dakwah.
Islam itu kaffah, makanya dakwah nggak boleh parsial. MR yang ini ngajarin aku
banyaaak banget sesuatu yang aku nggak tau, ngasih aku banyak hal-hal baru,
setelah aku belajar banyak hal-hal dasar mengenai tarbiyah di MR ini. Aku
ngerasa ketemu Mba Al senior kalo liqoan sama MR yang ini. Aku punya banyak
ruang untuk bertanya dan menghilangkan keraguanku, meski MR yang ini paling
nggak suka dipotong pembicaraanya. Tapi di situ aku banyak belajar dewasa dan
mendengarkan orang lain. Seenggaknya aku sedikit diperhatiin, diomelin, dan
ditegur gara-gara aku masih sms nggak jelas sama ikhwan lah, masih suka pergi
sendiri jauh-jauh, atau sekedar mencari ketenangan diri di UPT tapi sendirian,
dan masih ngelanggar jam malem, atau diskusi tentang kajian ideologis tanpa
kesimpulan yang jelas sama abang-abang lain berdua di message *TepokJidat.
Aku ngerasa gagal ndeketin MR-MR-ku yang sebelumnya.
Sebenernya bukan SKSD dan bermaksud ngilfilin, aku cuma mau mengakrabkan diri
dengan MR-MR ku biar keliaran yang masih saja bersarang di otakku bisa mereka
kendalikan. Nah! kalo sama MR yang ini & sama Mba Al, aku seolah tega aja
mbiarin mereka keteteran atau sia-sia buang waktu sama aku, gara-gara aku
curhatin dan nanya-nanya hal-hal yang masih kabur dalam pandanganku. Ya! dua MR
itu bener-bener jadi korban kekejaman rabunnya sudut pandang dan pemikiranku. Kaya simbiosis
parasitisme yak. Tapi, aku selalu berdoa kok sama Allah, semoga emosi, tenaga,
waktu, dan kesabaran yang terkuras oleh MR-MR itu buat aku, dibalas Allah
dengan jannah-Nya. Aamiin
Mungkin itu lah yang bikin aku mengalami peristiwa yang paling
menyedihkan, waktu MR yang ini ‘ngasihin’ aku ke MR lain. Panggil saja MR
itu. Luka pertama, mungkin disebabkan karena aku sangat kehilangan sesuatu yang
berharga dan baru aku temukan. Sungguh. Aku tidak bermaksud mendeskriditkan
kemampuan MR itu atau meragukan kemampuanya dalam memegang aku. Bukan. Luka
akibat kehilangan yang teramat sangat itu mendominasi hatiku. Aku butuh waktu
yang lama dan banyak sekali tenaga untuk menghapus luka itu sendirian. Aku
berusaha banget ndeketin MRku yang itu. Aku berusaha cerita The Most Sensitive Part in my life. Health. Awalnya,
aku bisa cerita semua itu. Permukaanya aja. Dari MR itu, aku juga sebenernya
punya perasaan yang hampir sama dengan MR ini, aku takut sama Mahasiswi tingkat
akhir yang lagi mikirin tugas akhir, aku takut membebani bebanya sebagai
mahasiswa tingkat akhir yang memang berat dengan bebanku. Aku lebih banyak
berbagi beban dengan Allah, banyak merenung dan menanyakan banyak hal pada
diriku sendiri. Tapi aku berusaha
sendiri membuka ketertutupanku pada beliau. Aku emang introvert, dan saking
introvertnya, semua orang memandang aku ekstrovert. Aku terlalu pandai
menyimpan rahasia dan tekanan yang
kualami dalam hidup, jauh di lubuk hati yang terdalam hingga pandangan mata pun
sanggup menutupinya. Tapi sampe liqo terakhirku, aku gagal membuka ketertutupan
itu. Aku cuma bisa berkaca-kaca di depan Mba itu sambil bilang, Mba, aku bingung harus ngomong apa,
kondisiku nggak memungkinkan aku cerita ke orang lain saat ini. Aku pengin
banget berbagi beban sama mba itu, tapi lidahku tercekat. Aku kadang bingung
sendiri dan nanya, aku kenapa ya?
Bahkan saat MR itu masih sama aku, aku malah lebih suka curhat sama MR yang
ini, aku nulis status kangen saamaa MR yang ini segala di WA ku, Ya Allah, aku jahat banget sama MR itu.Dan
mungkin MR itu juga nggak ngerti gimana lagi harus mengendalikan aku, beliau cuma
bilang, Tafadhol. Entahlah. Cuma kata
itu yang terekam menjelang akhir liqo. Beliau ngerasa nggak peduli dan
perhatian sama aku, padahal aku bener-bener nggak menginginkan hal itu. Aku
bener-bener nggak mau nyakitin MRku dengan membuat beliau merasa gagal
merhatiin dan mempedulikan aku. Mungkin, luka pertama itu yang bikin aku
nggak bisa mengurai keruwetan pikiran-pikiranku terhadap banyak hal. Aku jadi
nggak banyak bertanya dan sukanya ia-ia aja. Aku jadi lebih suka mengiyakan dan
berusaha memahami sendiri semua materi yang MR itu kasih. Ya Rabb, ampuni dosaku menyakitinya, balaslah kesabaranya dengan
surga-Mu.
Puncaknya, setelah MR itu ngasih aku ke MR yang lain, MR keempat
selama aku kuliah, aku ngerasa nggak nemu semua yang aku mau di liqo yang
selama ini aku ikutin. Aku malah bisa mengurai benang-benang keruwetan itu di
forum lain. Aku bisa belajar banyak hal di luar liqo. Ketambahan MR keempat itu
juga mahasiswa tingkat akhir, aku udah kenal beliau sebelumnya. Aku ngerasa
jarak usia yang terlalu dekat justru bikin aku ngerasa makin introvert, sekali
lagi aku nggak meremehkan kemampuan beliau, aku nggak meragukan kapasitas
beliau gara-gara angkatanya satu tingkat di atasku, enggak, aku cuma aku
takuuut, aku takut banget sms atau cerita apapun ke MR keempat ini, atau
sekedar nanya, kapan liqo. Aku takut
sikapku yang emang liar, sok-sokan gitu dan seringkali liberal+rasional bikin
beliau ilfil. Bahkan aku sendiri takut untuk menghadapi kenyataan kalo aku ini
seorang penakut. Aku bingung banget, serba salah. Aku bahkan pengin keluar dari
lingkaran ini jauh hari sebelum L menyatakan keinginanya yang serupa denganku.
Iya. Baik enggak nya manusia dilihat dari ketaqwaanya di mata Allah, bukan dari
liqo enggaknya. Liqo itu cuma bagian dari alat yang dipakai suatu harokah,
sebut saja tarbiyah, sama dengan tahlilan atau shalawatanya PMII dan
forum-forum lembaga dakwah yang lain, yang juga mengadakan kegiatan beda rupa
dengan tujuan yang sama, pengkaderan, pembinaan, pengkaryaan. Aku nggak harus
mewajibkan diriku sendiri untuk liqo kok, ilmu yang aku mau nggak harus dikasih
dari MR. Aku juga memahami konsep itu.
Tapi kenapa aku masih berusaha bertahan? Karena aku berusaha
membangkitkan kesadaranku sendiri di sini. Kulihat tarbiyah berbeda dengan ruang lain
yang mungkin tidak terlalu sering aku kunjungi, tarbiyah memberiku banyak ruang
luas untuk bertanya dan menghapus keraguan-keraguanku. Tarbiyah tak pernah
memaksaku untuk menerima doktrin-doktrin mereka. Selalu ada hikmah dibalik
instruksi. That’s what I want. Kalaupun,
di wajihah ini, tempat yang selama ini aku tempati banyak lubang-lubang, aku
tak harus meninggalkan tempat ini kan? Kalau aku meninggalkanya, lubang-lubang
itu akan tetap menganga. Aku tidak mau menjadi bagian dari golongan sakit hati yang
selalu memelihara sakit hatinya. Aku mau menyembuhkan lukaku dengan menutup
lubang-lubang itu. Karena sekarang, aku menjadi bagian dari tarbiyah bukan
karena aku mau ikut-ikutan Mba Al lagi, aku di sini atas kesadaranku sendiri.
Camkan itu!
Mungkin kesan pertamaku dengan MR-ku yang keempat tak sebaik
saat aku bertemu dengan MR yang setipe sama Mba Al. Oh ya Mba Al dan MR ku yang keempat usianya
sama lho. Kuharap kisah ini seperti cerpen-cerpen terkenal, awalnya tidak
teralu baik, kemudian mungkin memburuk hingga klimaks, tapi setelah klimaks
akan ada penyelesaian dengan ending bahagia yang memuaskan. Aku selalu yakin,
Allah tak pernah berniat menyakitiku, ataupun semua MR-MRku yang selalu kucintai
karena-Nya. Allah pasti akan memberikan takdir yang terbaik.
Kalo nggak ngerti nggak usah nanya. :D
No comments:
Post a Comment