01 November 2014

GETARAN

(Terinspirasi dari Kisah Cinta Sahabat Rasulullah Ali R.A dan Putri Rasulullah Fatimah)

Ini sudah tahun kelima ku di fakultas Biologi Unsoed. Alhamduillah semua berjalan sesuai doa ibuku. Aku mengikuti program fastrack, dalam waktu lima tahun aku sudah meraih gelar master. Aku juga melihat Nana meraih gelar sarjana dengan IP 4. Namun sayangnya, terdengar rumor bahwa dia akan melanjutkan S2 ke University of Sorbone, Prancis. Prancis adalah Negara Sekuler, jadi pemerintah tak akan mengizinkan dia mengenakan kostum religinya. Karena itu, ia akan melepas jilbabnya.
Sudahlah. Mungkin benar kata Akh Ari. Jalannya dengan jalan rohis sudah sangat berbeda. Aku memang tak melupakanya, aku hanya membiarkan waktu menghapusnya dari hatiku. Sementara aku, aku memutuskan melanjutkan S3 ke Jepang. Keputusan itu sudah bulat kuambil setelah melalui beberapa kali istikaroh. Aku diterima di Universitas Tokyo. Pembantu Dekan III mengatakan bahwa di Tokyo ada Alumni Fabio Unsoed, Dia adalah Kak Dhika. Sedikit terkejut memang. Tapi apa boleh buat, aku tidak punya siapa-siapa di Jepang seain dia. Akhirnya nasib membawaku satu apartemen dengan Kak Dhika.
Liqo dan dakwahku juga masih berjalan. Aku bertemu dengan Murobbi dari Unsoed juga. Aku memanggilnya Mas Ilham, dia sedang mengerjakan tugas akhirnya di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Tokyo. Dia adalah salah satu orang luar biasa yang aku temui. Ayah – Ibunya meninggal dilanda gempa Aceh 26 Desember beberapa tahun silam, beberapa hari setelah pengumuman bahwa ia diterima di Unsoed melalui jalur Bidik Misi. Sejak lulus SMA, dia membiayai hidupnya sendiri, bekerja dari toko ke toko, aktif di lembaga dakwah Fakultas dan Lembaga Dakwah Kampus. Bahkan merupakan salah satu pengurus  KAMMI di Puskomda Purwokerto. Tetapi, dia masih tetap bisa cumlaude tiap tahunya.
Ketegaranya membuatku malu, dia hanya melampiaskan rasa rindu pada kedua orang tuanya dalam tilawahnya, dalam tiap tetes air matanya di sepertiga malam. “Tentu saja mamas nggak boleh sedih, mamas seharusnya gembira. Karena di balik semua itu ada hikmah yang tersimpan. Mereka kan milik Allah, masa mamas nggak ngizinin Allah ngambil milik-Nya. Mamas kan mencintai mereka karena Allah” begitulah katanya, seteah ia bercerita tentang kedua orang tuanya. Subhanallah. hasbunallah wanimal wakiil.
Tiba-tiba kata-katanya membuatku termenung. Keikhlasanya  menghadapi kepergian orang tuanya menginspirasiku untuk mengikhlaskan semua yang terjadi dengan hatiku selama ini. Tiba-tiba aku teringat Nana yang akhirnya harus ku jauhi karena perbedaan ideology yang sangat fundamental. Sekarang aku tau kenapa hatiku gundah saat tiba-tiba terngiang angan tentangnya di batinku, karena aku belum ikhlas melepaskanya. Bukan!! Tepatnya melepaskan  semua harapanku padanya.
***
 Satu apartemen dengan Kak Dhika Adalah kejutan. Ya!!! Aku tidak pernah menyangka sebelumnya. Dan yang membuatku lebih terkejut adalah melalui kak Dhika, aku tau bahwa Nana ternyata memutuskan untuk kuliah di Jepang. Bahkan, dia satu jurusan dengan aku. Dia memutuskan secara tiba-tiba untuk kuliah di sini karena dia tak mau melepas jilbabnya jika ia kuliah di Prancis. Astaghfirulla. Ya Allah, maafkan hamba yang sempat bersuudzon padanya. Tapi seperti saat aku sekampus dengan Nana dulu, walau sejurusan kita juga tak pernah sekalipun bercakap-cakap.
 Dan yang membuatku makin mengaguminya, hidupnya tak semalang aku yang menghabiskan waktu dengan nano biologi di laboratorium saja. Kini ia menjadi aktifis dakwah yang luar biasa. Ia sering keliling jepang bahkan ke eropa hingga afrika untuk mempromosikan jilbab. dia adalah aktifis penggerak hijabers.
Dan aku juga mulai tahu, kenapa dia memilih Jepang. Selain Negara ini merupakan Negara yang ramah pada umat muslim, di sini juga ada kak Dhika. Mereka terlihat sangat dekat. Bahkan di twitter sering mention-mentionan dan di facebook juga suka komen-komenan. Dari sinilah aku mulai belajar untuk ikhlas. Mengikhlaskan dia yang telah bahagia bukan dengan aku. Dan dengan Ikhlas, Allah mengubah segala yang berat menjadi ringan.
***
Sakura membuatku lebih focus belajar karena Allah. tiap hembus nafasku hanyalah milik-Nya. Ku lakukan semua hanya karena Dia. Enam bulan lagi aku akan meraih gelar Ph.D. Tak disangka, surat panggilan dari kampus melayang ke apartemenku. Mereka memintaku untuk menjadi tenaga pengajar segera setelah aku lulus. Subhanallah, Alhamdulilah… Allah membayar kerja kerasku selama ini dengan segala kemudahan yang ia limpahkan, Fabiayyiala irobbikuma tukadziban.
Oh yaaa.. Kak Dhika bekerja sebagai dosen muda di Universitas Tokyo. Ia sangat sibuk dan tak sempat kembali ke tanah Air. Di malam pertamaku di sini ia berkata bahwa  ia lebih memilih membiayai orang tuanya untuk pergi ke jepang daripada terbang sendiri ke Indonesia. Orang tuanya memang hampir tiap semester mengunjunginya. Dia bilang Jepang jauh lebih menyenangkan dari Indonesia. “Aku sudah menemukan cintaku di sini.” Begitulah jawabanya saat ku tanya apakah dia sempat rindu kampung halaman atau tidak. Tapi anehnya, beberapa minggu ini dia menceritakan rencananya untuk terbang ke Indonesia. Dia bilang ingin bertemu orang penting di sana. Pikiranya selalu berubah-ubah. Usianya tak selabil moodnya. Mungkin karena dia terlalu cerdas.
***
“Kriiik. Kriik.” Pintu apartemen terbuka. Saat itu aku sedang menonton siaran Mamah dedeh dari TV kabel di apartemen kami. “Assalamu’aaikum, Rafaz”
“Wa’alaikumsaam…” jawabku. “Nggak jadi pulang malem, Mas?”
“Nggak jadi. Nih aku beliin kue rambutan.” Kue rambutan adalah kue yang biasa ia beli saat ia sedang bahagia.
“Hwaah.. Syukron. Selamat yah yang lagi hepi. Hehehe”
Dia hanya tersenyum. “Alhamdulillah yah aku masih bisa beli kue rambutan.”
“Iya. Alhamdulillah.” Kataku setengah cuek karena sambil menonton TV dan menikmati kue itu.
“Raf, tadi aku ketemu sama Nana. Ada Yin Yi, sama Tami juga” Katanya membuka obrolan.
Deg. Aku tak bisa menghilangkan getaran itu saat orang lain memanggil namanya. Entah apa  yang membuat hal itu selalu terjadi. “Terus?” kataku, kini pura-pura setengah cuek sambil menonton TV. Ternyata Kak Dhika menghibah Nana. Dan akan terbang ke Indonesia untuk menemui orang tua Nana. Seperti yang ia rencanakan beberapa waktu lalu. Ya!! Aku tidak terkejut. Itu hal yang wajar. Toh memang selama ini mereka dekat. Kak Dhika juga sering cerita padaku tentang Nana. Tapi kenapa dadaku mulai sesak??. Ingin ku tumpahkan seluruh air mataku dan pura-pura terharu. Tapi tetap berusaha ku tahan-tahan.
“Raf, Tadi aku bilang ke Nana. Aku mau pulang sama dia akhir semester ini. Aku mau ketemu orang tuanya. Aku mau menghibah dia.” Tuh kan benar. Dugaanku mulai terbukti. “Tapi, tiba-tiba dia bilang maaf. Dia sudah terlanjur mencintai orang lain. Seseorang yang selalu berusaha melindunginya dari jauh. Seseorang yang selalu berusaha menjaga hatinya.”
Aku mulai menitikkan air mata. Dan aku hanya bisa memeluknya erat. Subhanallah… betapa beruntung seeorang yang Nana cintai itu. Kataku dalam hati “Makasih udah mau ikut nangis, Raf. Makasih juga udah mau jadi my best roommate selama ini. Kamu adalah anugerah terindah buat aku, Raf.”
***
Alhamdulillah. Aku lulus. Minggu depan aku akan pulang ke tanah air. Aku akan mengabdikan diriku untuk adik-adik angkatanku di almamater tercinta. “Kriiik… Kriiikkkk” eh ada sms dari Murobiku.
“Subhanallah… Selamat atas kelulusan Akhi. Ke Hoka-hoka Bento yuk?”
Kita makan di Hok-Ben dengan Murobiku, Istri dan kedua anaknya yang lucu. Rumahnya baru saja pindah ke kompleks Kedutaan Besar NKRI. “Maaf yah sebenarnya kami mau mengundang Antum ke rumah untuk minum teh. Tapi rumah masih berantakan, baru pindahan” Kata Mba Yin, istri Mas ILham.
“Iya. Nggak papa, Mba. Nggak usah repto-repot. Hehe”
“Jadi minggu depan Antum mau pulang?” Tanya Mas Ilham di tengah-tengah obrolan
“Iya. Insya Allah.”
“Subhanallah.. titip salam buat ibu yaa” Sambung Istrinya
“Insya Allah”
“Oh yaa.. ibu udah minta Cucu?” Kata Mba Yin
“Hehehe… belum kepikiran malah”
“Jiyaaah… ini anak, udah Ph.D IP 4. Masa buat menyempurnakan setengah dien aja belum kepikiran.” Saut Mas Ilham
Sebenarnya aku juga tak tau. Tak ada akhwat mana pun di pikiranku. Belum pernah terpikir sedetikpun untuk menikah. Dan dadaku sedikit sesak. Kenapa sedikitpun tak terpikir sebelumnya? Asraghfirulah.. aku menyesali diriku sendiri.
“Akh, beneran belum ada calon?” Tanya Mba Yin
“be.belum, Mba.” Jawabku gugup
“Sebenernya ada beberapa akhwat yang mengajukan CV buat Antum”
“eh?” Aku kaget
“Ini.” Mbak Yin menyodorkan beberapa amplop.
Ku terima amplop itu dengan gemetaran. “Syukron. Ana istikharoh dulu ya.”
“Iya. Afwan.”
***
Beberapa Hari kemudian….
Hari ini aku sedang merenungi diri di bus way. Tak ada satu akhwat pun dalam CV ini yang bisa aku terima. Entah kenapa. Istikharohku mengatakan tidak. Sekarang sudah sampai tujuan. Aku bersiap untuk turun. Sembari menuruni tangga keluar, aku bertanya pada diriku sendiri “Siapa yang akan menjadi pendampingku?”.
Deg. Tiba-tiba getaran itu terbit. Nana muncul di hadapanku. Astaghfirullah. Aku setengah terkejut. Segera ku tundukkan kepalaku. Berlalu begitu saja. Seperti pertama kali kita bertemu. Setelah aku menyerahkan padanya awetan laporan praktikumku. Dia juga melakukan hal yang sama, kemudian naik ke bus.
Di rumah Mas Ilham…
Kebetulan ada Akh Ari yang sedang bersilaturahim ke sana. Dia akan mengikuti proyek penelitian di Osaka minggu depan.
 “Jadi?! Tak ada satu pun yang Antum pilih?!” Tanya Mas Ilham heran
“Afwan. Ana juga gak tau kenapa. Jika Mas Ilham dan Mba Yin punya pandangan mana yang terbaik  untuk ana, Insya Allah ana ikut. Ana tau, pilihan murobi ana adalah dia yang terbaik untuk ana.” Kataku akhirnya.
Mas Ilham Nampak bingung. Dia menoleh. Memandang isterinya.
“Mmmmm…. Ibumu minta yang kaya gimana? Sudah minta pertimbangan ibu?” Tanya Mba Yin
“Sudah. Ibu bilang terserah. Mana pun ibu setuju. Yang penting shalikhah”
“Sebenarnya ada satu akhwat lagi. Dia baru saja ke sini. Insya Allah, antum dengan akhwat itu adalah pasangan ideal.
Deg. Getaran itu datang lagi. Aku sedikit terkejut. Dalam hati aku bertanya “Apakah dia Nana?” ah! Kurasa tak mungkin dia, toh Selama ini dugaanku kan selalu salah. Jadi, aku pun bertanya. “Si…Siapa dia, Mba?
“Dia adalah anak Liqo’an, Mba. Suatu malam dia tiba-tiba datang ke sini sambil menangis. Dia menceritakan semuanya pada Mbak Yin. Mulai dari penolakanya pada seorang pria bernama Dhika, hingga perasaan yang selama ini ia pendam pada seorang Ikhwan. Ikhwan yang sangat ia cintai. Yang selalu menjaganya dari kejauhan. Tapi dia tak pernah tau, bagaimana perasaan ikhwan itu. Jangankan mengharapkan ikhwan itu untuk menghibahnya, bercakap-cakap saja tak pernah. Tapi, dia selalu menolak para ikhwan lain yang datang untuk menghibahnya. Kemudian dia juga meminta mba untuk memilih ikhwan yang terbaik untuk akhwat itu. Kata-kata kalian benar-benar sama persis. Namanya, Rizki Amelina farahya Al Husna”
Deg. Deg. Deg. Getaran itu terasa lebih kuat dari biasanya.
   “Akh, afwan. Ana rasa Ikhwan yang selama ini ia cintai adalah Antum. Ini kesalahan ana selaku kadept kaderisasi, sebenarnya pengaduan dari Antum mengenai perilaku Nana telah diketahui oleh Nana sejak awal. waktu itu Ana memberi  pasword Facebook ana ke Nana. Karena Nana akan mendownload tugas dan ana nggak ada koneksi internet. Nggak sengaja dia liat message Antum. Sebenarnya dia tidak bermaksud membuka message. Tapi message Antum mengenai pengaduan itu tiba-tiba muncul dan terbaca. Afwan” Kata Akh Ari tiba-tiba. “Dari dulu, Antum selalu memantau dia kan? Antum selalu menjaganya dari jauh. Kenapa waktu itu Antum melaporkan perbuatanya yang malam-malam sempat berkhalwat dengan seorang ikhwan? Karena Antum mencintainya kan? Tapi Antum tak mungkin mendekatinya. Dan sekarang Ana sudah menyadari, sejak saat itu………  
   “Jadi sejak saat itu dia mulai………….”
   “Iya, dan dari dulu, nama akhwat yang Antum sebut namanya hanya Nana kan? Sekarang apa Antum masih meragukan Nana????” Desak Akh Ari
   “I.insya Allah tidak. Ana tidak akan mungkin meragukan Akhwat itu.” Kataku spontan. Entah energy apa yang membuatku berkata demikian. Mungkin ini adalah hidayah. Hidayah dari-Nya untuk menyempurnakan setengah dienku.
***
“Hahaha…. Ade lho ada-ada aja. Terus habis dari Belanda Dek Nana jadi langsung ke Prancis?” Kataku di malam pertama itu. Usai shalat witir, kita duduk-duduk di tepi ranjang dan mengobrol kesana kemari. Dia memintaku bercerita banyaaaaaaaaaaaaak sekali tentang penelitianku. Dan aku juga memintanya bercerita tentang petualangannya di Eropa hingga Afrika, mempromosikan jilbab pada wanita-wanita di kedua benua itu.
“Nggak jadi, Mas. Setelah didiskusikan matang-matang dengan akhwat lain, gerakan kita belum cukup kuat. Takutnya malah membahayakan. Di sana kan sistemnya sekuler.” Jawabnya lirih, “Tapi next time Dek Nana  juga pasti akan ke sana kok. Sama Mas Raf.” Lalu dia memandangku, seantusias memandang awetan laporan praktikumku beberapa tahun silam.
Deg deg deg deg. Tapi, getaran yang ku rasakan saat ini berbeda. Jauh lebih kuat, dari beberapa tahun silam. Menciptakan kenyamanan, menenangkan, dan membuatku kembali memandangnya, “Hmm….” Kemudian mengangguk.
“Oh yaaa… Mamas pertama fall in love sama ade waktu pertama kita ketemu di depan mushola beberapa tahun lalu itu yah?? Habis ngasih awetan laporan praktikum langsung gugup dan pergi. Hehehe
“Eh?” Aku mengernyitkan kening. “Bukan kok. Beberapa minggu sebelum itu. Waktu ada cewe aneh yang terpaksa sms mamas karena nggak kenal siapa pun di Fabio unsoed. Yang tiba-tiba memperkenalkan diri terus tanya nama mamas. hehehe.”
“Hahaha… eciye yang first sight love.”
Hehe.. Masalah first sight love sama Ade?”
“Ya iya lha. Baru setahun kuliah udah first sight love.”
Hwah jangan – jangan ade yah yang fall in love  sama mamas waktu pertama ketemu di depan mushola itu ya??”
“Bukan kok.” Kemudian dia menunduk. “Tapi beberapa minggu setelah itu, waktu ade buka facebook Akh Ari.” Suaranya melirih, hingga wajahku harus mendekat pada wajahnya untuk mendengarkan suaranya dengan jelas. “Setelah selesai mendownload sebuah file tugas, ade  melihat message yang tiba-tiba muncul di monitor. Message dari seorang ikhwan yang mengadukan perbuatan ade. Message dari seseorang yang sangaaaaaaaaaaaaat mencintai dan ingin menjaga ade dengan tulus. Yang membuat ade membiarkan kak Dhika menunggu di depan kost selama tiga jam lebih karena ingin bertemu dan itu berdua.” Kemudian air matanya mulai menetes. “Sejak saat itu, ade mulai berfikir, ternyata di organisai itu ada seorang ikhwan yang sangat mencintai ade.dan……” Dia nenarik nafas. “Dan ade juga sangat mencintainya. Tapi ade harus menyembunyikan rasa itu, sepandai ia menyembunyikan derap hatinya.” Kini gadis imut itu mulai sesenggukan.
Jadi, dia juga merasakan pancaran getaran hatiku selama ini. Dia juga merasakan hal yang sama denganku, bahkan aku juga tak bisa melihat perasaannya yang sangat tersembunyi itu. Aku pun hanya bisa memeluknya seerat mungkin. “Jangan nangis lagi ya, Sayang.”

Ya!! Di depan mushola itu adalah kali pertama aku bertemu dengannya dan menunduk malu. Kini, aku mengangkat dagunya yang menunduk malu, kulihat rona pipi merahnya, dan ku cium bibirnya. Mulai malam ini dan seterusnya, dia adalah kekasih sejatiku. Dia adalah anugerah terindah, kekasih halalku. Aku makin yakin, semua akan berbuah sangat manis jika kita tetap istiqomah apa pun yang terjadi. Sesayang apa pun kita pada seseorang, jika kita tetap berusaha untuk tidak melanggar perintah-Nya, maka semua akan berbuah manis. J


Cerpen ini aku tulis waktu aku masi semester satu. Masih jadi mahasiswa polos yang belum terkontaminasi evolusi :D 

No comments: