(Terinspirasi
dari
Kisah Cinta Sahabat Rasulullah Ali R.A dan Putri Rasulullah Fatimah)
Ini
sudah tahun kelima ku di fakultas Biologi Unsoed. Alhamduillah semua berjalan
sesuai doa ibuku. Aku mengikuti program fastrack, dalam waktu lima tahun
aku sudah meraih gelar master. Aku juga melihat Nana meraih gelar sarjana
dengan IP 4. Namun sayangnya, terdengar rumor bahwa dia akan melanjutkan
S2 ke University of Sorbone, Prancis. Prancis adalah Negara Sekuler, jadi pemerintah
tak akan mengizinkan dia mengenakan kostum religinya. Karena itu, ia akan
melepas jilbabnya.
Sudahlah.
Mungkin benar kata Akh Ari. Jalannya dengan jalan rohis sudah sangat berbeda.
Aku memang tak melupakanya, aku hanya membiarkan waktu menghapusnya dari
hatiku. Sementara aku, aku memutuskan melanjutkan S3 ke Jepang. Keputusan itu
sudah bulat kuambil setelah melalui beberapa kali istikaroh. Aku diterima di
Universitas Tokyo. Pembantu Dekan III mengatakan bahwa di Tokyo ada Alumni
Fabio Unsoed, Dia adalah Kak Dhika. Sedikit terkejut memang. Tapi apa boleh buat,
aku tidak punya siapa-siapa di Jepang seain dia. Akhirnya nasib membawaku satu
apartemen dengan Kak Dhika.
Liqo
dan dakwahku juga masih berjalan. Aku bertemu dengan Murobbi dari Unsoed juga.
Aku memanggilnya Mas Ilham, dia sedang mengerjakan tugas akhirnya di Fakultas
Teknik Sipil, Universitas Tokyo. Dia adalah salah satu orang luar biasa yang
aku temui. Ayah – Ibunya meninggal dilanda gempa Aceh 26 Desember beberapa
tahun silam, beberapa hari setelah pengumuman bahwa ia diterima di Unsoed
melalui jalur Bidik Misi. Sejak lulus SMA, dia membiayai hidupnya sendiri,
bekerja dari toko ke toko, aktif di lembaga dakwah Fakultas dan Lembaga Dakwah
Kampus. Bahkan merupakan salah satu pengurus
KAMMI di Puskomda Purwokerto. Tetapi, dia masih tetap bisa cumlaude tiap
tahunya.
Ketegaranya
membuatku malu, dia hanya melampiaskan rasa rindu pada kedua orang tuanya dalam
tilawahnya, dalam tiap tetes air matanya di sepertiga malam. “Tentu saja mamas nggak boleh sedih, mamas seharusnya
gembira. Karena di balik semua itu ada hikmah yang tersimpan. Mereka kan milik
Allah, masa mamas nggak ngizinin Allah ngambil milik-Nya. Mamas kan mencintai mereka karena Allah” begitulah katanya, seteah ia bercerita tentang kedua
orang tuanya. Subhanallah. hasbunallah wanimal wakiil.
Tiba-tiba
kata-katanya membuatku termenung. Keikhlasanya
menghadapi kepergian orang tuanya menginspirasiku untuk mengikhlaskan
semua yang terjadi dengan hatiku selama ini. Tiba-tiba aku teringat Nana yang
akhirnya harus ku jauhi karena
perbedaan ideology yang sangat fundamental. Sekarang aku tau kenapa hatiku
gundah saat tiba-tiba terngiang angan tentangnya di batinku, karena aku belum
ikhlas melepaskanya. Bukan!! Tepatnya melepaskan semua harapanku padanya.
***
Satu apartemen dengan Kak Dhika Adalah kejutan.
Ya!!! Aku tidak pernah menyangka sebelumnya. Dan yang membuatku lebih terkejut
adalah melalui kak Dhika, aku tau bahwa Nana ternyata memutuskan untuk kuliah
di Jepang. Bahkan, dia satu jurusan dengan aku. Dia memutuskan secara tiba-tiba
untuk kuliah di sini karena dia tak mau melepas jilbabnya
jika ia kuliah
di Prancis. Astaghfirulla. Ya Allah, maafkan hamba yang sempat bersuudzon
padanya. Tapi seperti saat aku sekampus dengan Nana dulu, walau sejurusan kita
juga tak pernah sekalipun bercakap-cakap.
Dan yang membuatku makin mengaguminya,
hidupnya tak semalang aku yang menghabiskan waktu dengan nano biologi di
laboratorium saja. Kini ia menjadi aktifis dakwah yang luar biasa. Ia sering
keliling jepang bahkan ke eropa hingga afrika untuk mempromosikan jilbab. dia
adalah aktifis penggerak hijabers.
Dan
aku juga mulai tahu, kenapa dia memilih Jepang. Selain Negara ini merupakan
Negara yang ramah pada umat muslim, di sini juga ada kak Dhika. Mereka terlihat
sangat dekat. Bahkan di twitter sering mention-mentionan dan di facebook juga suka komen-komenan.
Dari sinilah aku mulai belajar untuk ikhlas. Mengikhlaskan dia yang telah
bahagia bukan dengan aku. Dan dengan Ikhlas, Allah mengubah segala yang berat
menjadi ringan.
***
Sakura
membuatku lebih focus belajar karena Allah. tiap hembus nafasku hanyalah
milik-Nya. Ku lakukan semua hanya karena Dia. Enam bulan lagi aku akan meraih
gelar Ph.D. Tak disangka, surat panggilan dari kampus melayang ke apartemenku.
Mereka memintaku untuk menjadi tenaga pengajar segera setelah aku lulus.
Subhanallah, Alhamdulilah… Allah membayar kerja kerasku selama ini dengan
segala kemudahan yang ia limpahkan, Fabiayyiala irobbikuma tukadziban.
Oh
yaaa.. Kak Dhika bekerja sebagai dosen muda di Universitas Tokyo. Ia sangat sibuk
dan tak sempat kembali ke tanah Air. Di malam pertamaku di sini ia berkata
bahwa ia lebih memilih membiayai orang
tuanya untuk pergi ke jepang daripada terbang sendiri ke Indonesia. Orang
tuanya memang hampir tiap semester mengunjunginya. Dia bilang Jepang jauh lebih
menyenangkan dari Indonesia. “Aku sudah menemukan cintaku di sini.” Begitulah
jawabanya saat ku tanya apakah dia sempat rindu kampung halaman atau tidak. Tapi
anehnya, beberapa minggu ini dia menceritakan rencananya untuk terbang ke
Indonesia. Dia bilang ingin bertemu orang
penting di sana. Pikiranya selalu berubah-ubah. Usianya tak selabil moodnya.
Mungkin karena dia terlalu cerdas.
***
“Kriiik.
Kriik.” Pintu apartemen terbuka. Saat itu aku sedang menonton siaran Mamah
dedeh dari TV kabel di apartemen kami. “Assalamu’aaikum, Rafaz”
“Wa’alaikumsaam…”
jawabku. “Nggak jadi pulang malem, Mas?”
“Nggak
jadi. Nih aku beliin kue rambutan.” Kue rambutan adalah kue yang biasa ia beli
saat ia sedang bahagia.
“Hwaah..
Syukron. Selamat yah yang lagi hepi. Hehehe”
Dia
hanya tersenyum. “Alhamdulillah yah aku masih bisa beli kue rambutan.”
“Iya.
Alhamdulillah.” Kataku setengah cuek karena sambil menonton
TV dan menikmati kue itu.
“Raf,
tadi aku ketemu sama Nana. Ada Yin Yi, sama Tami juga” Katanya membuka obrolan.
Deg.
Aku tak bisa menghilangkan getaran itu saat orang lain memanggil namanya. Entah
apa yang membuat hal itu selalu terjadi.
“Terus?” kataku, kini pura-pura setengah cuek sambil menonton TV. Ternyata Kak
Dhika menghibah Nana. Dan akan terbang ke Indonesia untuk menemui orang tua
Nana. Seperti yang ia rencanakan beberapa waktu lalu. Ya!! Aku tidak terkejut.
Itu hal yang wajar. Toh memang selama ini mereka dekat. Kak Dhika juga sering
cerita padaku tentang Nana. Tapi kenapa dadaku mulai sesak??. Ingin ku
tumpahkan seluruh air mataku dan pura-pura terharu. Tapi tetap berusaha ku
tahan-tahan.
“Raf,
Tadi aku bilang ke Nana. Aku mau pulang sama dia akhir semester ini. Aku mau
ketemu orang tuanya. Aku mau menghibah dia.” Tuh kan benar. Dugaanku mulai terbukti.
“Tapi, tiba-tiba dia bilang maaf. Dia sudah terlanjur mencintai orang lain.
Seseorang yang selalu berusaha melindunginya dari jauh. Seseorang yang selalu
berusaha menjaga hatinya.”
Aku
mulai menitikkan air mata. Dan aku hanya bisa memeluknya erat. Subhanallah… betapa beruntung seeorang yang Nana cintai itu. Kataku dalam hati “Makasih udah mau ikut nangis, Raf. Makasih juga udah mau jadi my
best roommate selama ini. Kamu adalah anugerah terindah buat aku, Raf.”
***
Alhamdulillah. Aku
lulus. Minggu depan aku akan pulang ke tanah air. Aku akan mengabdikan diriku
untuk adik-adik angkatanku di almamater tercinta. “Kriiik… Kriiikkkk” eh ada
sms dari Murobiku.
“Subhanallah…
Selamat atas kelulusan Akhi. Ke Hoka-hoka Bento yuk?”
Kita
makan di Hok-Ben dengan Murobiku, Istri dan kedua anaknya yang lucu. Rumahnya
baru saja pindah ke kompleks Kedutaan Besar NKRI. “Maaf yah sebenarnya kami mau
mengundang Antum ke rumah untuk minum teh. Tapi rumah masih berantakan, baru pindahan”
Kata Mba Yin, istri Mas ILham.
“Iya.
Nggak papa, Mba. Nggak usah repto-repot. Hehe”
“Jadi
minggu depan Antum mau pulang?” Tanya Mas Ilham di tengah-tengah obrolan
“Iya.
Insya Allah.”
“Subhanallah..
titip salam buat ibu yaa” Sambung Istrinya
“Insya
Allah”
“Oh
yaa.. ibu udah minta Cucu?” Kata Mba Yin
“Hehehe…
belum kepikiran malah”
“Jiyaaah…
ini anak, udah Ph.D IP 4. Masa buat menyempurnakan setengah dien aja belum
kepikiran.” Saut Mas Ilham
Sebenarnya
aku juga tak tau. Tak ada akhwat mana pun di pikiranku. Belum pernah terpikir
sedetikpun untuk menikah. Dan dadaku sedikit
sesak. Kenapa sedikitpun tak terpikir sebelumnya? Asraghfirulah.. aku menyesali diriku sendiri.
“Akh,
beneran belum ada calon?” Tanya Mba Yin
“be.belum,
Mba.” Jawabku gugup
“Sebenernya
ada beberapa akhwat yang mengajukan CV buat Antum”
“eh?”
Aku kaget
“Ini.”
Mbak Yin menyodorkan beberapa amplop.
Ku
terima amplop itu dengan gemetaran. “Syukron. Ana istikharoh dulu ya.”
“Iya.
Afwan.”
***
Beberapa
Hari kemudian….
Hari
ini aku sedang merenungi diri di bus way. Tak ada satu akhwat pun dalam
CV ini yang bisa aku terima. Entah kenapa. Istikharohku mengatakan tidak.
Sekarang sudah sampai tujuan. Aku bersiap untuk turun. Sembari menuruni tangga
keluar, aku bertanya pada diriku sendiri “Siapa yang akan menjadi
pendampingku?”.
Deg.
Tiba-tiba getaran itu terbit. Nana muncul di hadapanku.
Astaghfirullah. Aku setengah terkejut. Segera ku tundukkan kepalaku.
Berlalu begitu saja. Seperti pertama kali kita bertemu. Setelah aku menyerahkan
padanya awetan laporan praktikumku. Dia juga melakukan
hal yang sama, kemudian naik ke bus.
Di rumah
Mas Ilham…
Kebetulan
ada Akh Ari
yang sedang bersilaturahim ke sana. Dia akan mengikuti proyek penelitian di Osaka
minggu depan.
“Jadi?! Tak ada satu pun yang Antum
pilih?!” Tanya Mas Ilham heran
“Afwan.
Ana juga gak tau kenapa. Jika Mas Ilham dan Mba Yin punya pandangan mana yang
terbaik untuk ana, Insya Allah ana ikut.
Ana tau, pilihan murobi ana adalah dia yang terbaik untuk ana.” Kataku
akhirnya.
Mas
Ilham Nampak bingung. Dia menoleh. Memandang isterinya.
“Mmmmm….
Ibumu minta yang kaya gimana? Sudah minta pertimbangan ibu?” Tanya Mba Yin
“Sudah.
Ibu bilang terserah. Mana pun ibu setuju. Yang penting shalikhah”
“Sebenarnya
ada satu akhwat lagi. Dia baru saja ke sini. Insya Allah, antum
dengan akhwat itu adalah pasangan ideal.”
Deg.
Getaran itu datang lagi. Aku sedikit terkejut. Dalam hati aku bertanya “Apakah
dia Nana?” ah! Kurasa tak mungkin dia, toh Selama ini dugaanku kan selalu
salah. Jadi, aku pun bertanya. “Si…Siapa dia, Mba? ”
“Dia
adalah anak Liqo’an, Mba. Suatu malam dia tiba-tiba datang ke sini sambil
menangis. Dia menceritakan semuanya pada Mbak Yin. Mulai dari penolakanya pada
seorang pria bernama Dhika, hingga perasaan yang selama ini ia pendam pada
seorang Ikhwan. Ikhwan yang sangat ia cintai. Yang selalu menjaganya dari
kejauhan. Tapi dia tak pernah tau, bagaimana perasaan ikhwan itu. Jangankan
mengharapkan ikhwan itu untuk menghibahnya, bercakap-cakap saja tak pernah. Tapi, dia selalu menolak para ikhwan lain
yang datang untuk menghibahnya. Kemudian dia juga meminta mba untuk memilih
ikhwan yang terbaik untuk akhwat itu. Kata-kata kalian benar-benar sama persis.
Namanya, Rizki Amelina
farahya Al Husna”
Deg.
Deg. Deg. Getaran itu terasa lebih kuat dari biasanya.
“Akh, afwan. Ana rasa Ikhwan yang selama ini ia cintai adalah
Antum. Ini kesalahan
ana selaku kadept kaderisasi, sebenarnya
pengaduan dari Antum mengenai
perilaku Nana telah diketahui oleh
Nana sejak awal. waktu itu Ana memberi
pasword Facebook ana ke Nana. Karena Nana akan mendownload tugas dan ana
nggak ada koneksi internet. Nggak sengaja dia liat message Antum.
Sebenarnya dia tidak bermaksud membuka message. Tapi message Antum
mengenai pengaduan itu tiba-tiba muncul dan terbaca. Afwan” Kata Akh Ari
tiba-tiba. “Dari dulu, Antum selalu memantau dia kan? Antum selalu menjaganya
dari jauh. Kenapa
waktu itu Antum melaporkan perbuatanya yang malam-malam sempat berkhalwat
dengan seorang ikhwan? Karena Antum mencintainya kan? Tapi Antum tak mungkin
mendekatinya. Dan sekarang Ana sudah menyadari, sejak saat itu………
“Jadi sejak saat itu dia mulai………….”
“Iya, dan
dari dulu, nama akhwat yang Antum sebut namanya hanya Nana kan? Sekarang apa Antum
masih meragukan Nana????” Desak Akh Ari
“I.insya Allah tidak. Ana tidak akan mungkin
meragukan Akhwat itu.” Kataku spontan. Entah energy apa yang membuatku berkata
demikian. Mungkin ini adalah hidayah. Hidayah dari-Nya untuk menyempurnakan
setengah dienku.
***
“Hahaha….
Ade lho ada-ada aja. Terus habis dari Belanda Dek Nana jadi langsung ke
Prancis?” Kataku di malam pertama itu. Usai shalat witir, kita duduk-duduk di
tepi ranjang dan mengobrol kesana kemari. Dia memintaku bercerita
banyaaaaaaaaaaaaak sekali tentang penelitianku. Dan aku juga memintanya
bercerita tentang petualangannya di Eropa hingga Afrika, mempromosikan jilbab
pada wanita-wanita di kedua benua itu.
“Nggak
jadi, Mas. Setelah didiskusikan matang-matang dengan akhwat lain, gerakan kita
belum cukup kuat. Takutnya malah membahayakan. Di sana kan sistemnya sekuler.”
Jawabnya lirih, “Tapi next time Dek Nana
juga pasti akan ke sana kok. Sama Mas Raf.” Lalu dia memandangku,
seantusias memandang awetan laporan praktikumku beberapa tahun silam.
Deg
deg deg deg. Tapi, getaran yang ku rasakan saat ini berbeda. Jauh lebih kuat,
dari beberapa tahun silam. Menciptakan kenyamanan, menenangkan, dan membuatku
kembali memandangnya, “Hmm….” Kemudian mengangguk.
“Oh
yaaa… Mamas pertama fall in love sama ade waktu pertama kita ketemu di
depan mushola beberapa
tahun lalu itu yah?? Habis ngasih awetan laporan praktikum
langsung gugup dan pergi. Hehehe”
“Eh?”
Aku mengernyitkan kening. “Bukan kok. Beberapa minggu sebelum itu. Waktu ada
cewe aneh yang terpaksa sms mamas karena nggak kenal siapa pun di Fabio unsoed.
Yang tiba-tiba memperkenalkan diri terus tanya nama mamas. hehehe.”
“Hahaha…
eciye yang first sight love.”
“Hehe..
Masalah first sight love sama Ade?”
“Ya iya lha. Baru setahun kuliah udah first sight love.”
“Hwah
jangan – jangan ade yah yang fall in love sama mamas waktu pertama ketemu di depan
mushola itu ya??”
“Bukan
kok.” Kemudian dia menunduk. “Tapi beberapa minggu setelah itu, waktu ade buka
facebook Akh Ari.” Suaranya melirih, hingga wajahku harus mendekat pada
wajahnya untuk mendengarkan suaranya dengan jelas. “Setelah selesai mendownload
sebuah file tugas, ade melihat message
yang tiba-tiba muncul di monitor.
Message dari seorang ikhwan yang mengadukan perbuatan ade. Message dari seseorang
yang sangaaaaaaaaaaaaat mencintai dan ingin menjaga ade dengan tulus. Yang
membuat ade membiarkan kak Dhika menunggu di depan kost selama tiga jam lebih
karena ingin bertemu dan itu berdua.” Kemudian air matanya mulai menetes.
“Sejak saat itu, ade mulai berfikir, ternyata di organisai itu ada seorang
ikhwan yang sangat mencintai ade.dan……” Dia nenarik nafas. “Dan ade juga sangat
mencintainya. Tapi ade harus menyembunyikan rasa itu, sepandai ia
menyembunyikan derap hatinya.” Kini gadis imut itu mulai sesenggukan.
Jadi,
dia juga merasakan pancaran getaran hatiku selama ini. Dia juga merasakan hal
yang sama denganku, bahkan aku juga tak bisa melihat perasaannya yang sangat
tersembunyi itu. Aku pun hanya bisa memeluknya seerat mungkin. “Jangan nangis
lagi ya, Sayang.”
Ya!!
Di depan mushola itu adalah kali pertama aku bertemu dengannya dan menunduk
malu. Kini, aku mengangkat dagunya yang menunduk malu, kulihat rona pipi
merahnya, dan ku cium bibirnya. Mulai malam ini dan seterusnya, dia adalah
kekasih sejatiku. Dia adalah anugerah terindah, kekasih halalku. Aku makin
yakin, semua akan berbuah sangat manis jika kita tetap istiqomah apa pun yang
terjadi. Sesayang apa pun kita pada seseorang, jika kita tetap berusaha untuk
tidak melanggar perintah-Nya, maka semua akan berbuah manis. J
Cerpen ini aku tulis waktu aku masi semester satu. Masih jadi mahasiswa polos yang belum terkontaminasi evolusi :D
No comments:
Post a Comment